Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Berapa “harga” satu lubang di jalan? Satu nyawa.
Korban terakhir yang “menjadi berita” adalah Aldi Surya Putra. Siswa SMKN 34 Jakarta. Kelas XI. Masih muda.
Senin (9/2/2026) pagi itu, dia berangkat sekolah. Namun, di Jalan Matraman Raya yang berlubang dan menganga, perjalanannya terhenti. Selamanya. Aldi meninggal.
Anda yang sering melewati kawasan itu pasti tahu kondisi jalan tersebut. Sama seperti banyak penggalan jalan di seluruh Indonesia: berlubang. Terutama di musim hujan.
Baca juga : Kemanusiaan Di Atas Angka
Lubang-lubang itu bahkan ada yang menyulapnya menjadi tempat pemancingan. Ada juga yang menanaminya pohon pisang. Mereka bukan mau mengail ikan atau bertani. Bukan. Itu bentuk protes. Unjuk keprihatinan.
Ada hasilnya? Kita semua tahu jawabannya. Terutama di musim hujan. Bahkan di Jakarta, kota yang rajin membangun gedung menjulang dan giat memamerkan kecanggihan, jalan berlubang mudah ditemukan.
Aldi bukan sekadar “korban kecelakaan tunggal”. Dia anak seseorang. Punya orangtua. Dia teman sebangku di sekolah, yang kini kursinya kosong. Dia masa depan yang dirampas oleh aspal berlubang. “Statistik kematiannya” harus “dimanusiakan”. Bukan sekadar angka.
Permasalahan klasik ini jangan lagi menyalahkan cuaca atau hujan. Itu sama saja menyalahkan langit karena atap rumah bocor.
Baca juga : “Panggung Tragedi”
Salahkan sistem yang membiarkan lubang menjadi “langanan”. Salahkan kelalaian yang membiarkan bahaya mengintai berharihari, yang menjadikan jalan raya sebagai taruhan keamanan. Bahkan nyawa.
Cukup satu Aldi. Jangan ada lagi seragam sekolah atau seragam pejuang di jalan raya yang bersimbah darah di aspal. Negara harus hadir untuk memastikan setiap anak, semua orang, bisa pulang ke rumah dengan selamat. Bisa kembali memeluk keluarga mereka.
Jangan ada lagi birokrasi yang baru “terbangun” setelah ada korban. Jangan ada lagi birokrasi yang menjalankan “manajamen pemadam kebakaran”. Jangan ada lagi audit rutin yang gagal, minim solusi dan aksi.
Jalan raya butuh sistem yang memastikan tidak ada lubang sejak awal. Bukan sekadar “tambal sulam” yang masa kedaluarsanya sebentar.
Baca juga : Optimisme Yang Keliru
Rombak total sistem drainase di bawah jalan agar air tidak merusak fondasi aspal. Solusi lain? Para pembuat dan penentu kebijakan tentu sudah tahu jawabannya.
Lubang di jalan tak pernah datang sendiri.
Lubang itu lahir dari abai. Pembiaran. Dari tanda tangan yang kurang diawasi. Bisa juga dari “lubang kebocoran” di salah satu meja pelaksana dan pejabat. Atau, dari tanggungjawab yang diremehkan.
Karena itu, yang harus ditambal bukan cuma jalanan. Melainkan cara mengurus keselamatan manusia. Tumbuhkanlah “birokrasi manusiawi”. Karena, kita tidak ingin bangsa ini menjadi “bangsa tambalan”.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.