RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menginvestigasi serangan beruntun di Lebanon Selatan yang membuat tiga personel TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur. Desakan tersebut disampaikan dalam Rapat Darurat Dewan Keamanan (DK) PBB, di New York, Selasa (31/3/2026) waktu setempat.
Dalam forum tersebut, Wakil Tetap Indonesia untuk PBB Umar Hadi menyatakan, serangan beruntun itu bukan sekadar insiden, melainkan tindakan yang disengaja untuk melemahkan dan menggagalkan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi DK PBB 1701 terkait gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Atas dasar itu, Indonesia menuntut penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan transparan, serta meminta DK PBB memantau dan menindaklanjuti hasilnya.
"Kami meminta investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan. Lebih jelasnya, kami meminta investigasi dari PBB, bukan alasan dari Israel," ujar Umar, seperti keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (1/4/2026).
Baca juga : Dua Prajurit Gugur Lagi, DPR Usul Tarik TNI dari Lebanon
Ia mengatakan, keamanan dan keselamatan personel penjaga perdamaian adalah prioritas Indonesia saat ini. Untuk itu, Indonesia meminta DK PBB dan Sekretaris Jenderal segera mengambil langkah darurat guna melindungi personel dan aset UNIFIL. Hal itu mencakup peninjauan kembali protokol keamanan personel serta pengaktifan rencana kontingensi dan evakuasi sesuai perkembangan situasi di lapangan.
Menurutnya, kini sudah saatnya DK PBB dan komunitas internasional untuk mengambil langkah tegas dan cepat untuk melindungi penjaga perdamaian. "Tuntutan ini kami sampaikan sebagai bentuk penghormatan mendalam bagi para penjaga perdamaian yang telah gugur. Kepada mereka, Indonesia memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas pengorbanan mulia demi menjaga perdamaian dan keamanan internasional," imbuhnya.
Hingga saat ini, lanjut Umar, Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi dalam perdamaian dan keamanan dunia sesuai amanat konstitusi. Namun, Indonesia tetap meminta DK PBB untuk memberikan tindakan nyata dan memberi kecaman tegas terhadap serangan yang menewaskan personel penjaga perdamaian.
Baca juga : Dubes Mohammad Boroujerdi Sampaikan Belasungkawa Atas Gugurnya TNI Di Lebanon
Lebih lanjut, ia meminta semua pihak yang terlibat, termasuk Israel, untuk segera menghentikan agresi yang membahayakan personel dan properti PBB. "Hari ini, DK PBB harus menegaskan kewajiban semua pihak untuk memastikan dan menjamin keamanan dan keselamatan para penjaga perdamaian," lanjut Umar.
"Dewan Keamanan harus mengambil langkah tegas untuk mencegah permusuhan di masa depan dan serangan terhadap penjaga perdamaian. Tidak boleh ada lagi serangan," pungkasnya.
Indonesia berduka dan kehilangan atas tiga personel TNI di bawah UNIFIL yang gugur di tengah aksi saling serang antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan. Pada Minggu (29/3/2026), seorang personel penjaga perdamaian Indonesia, Praka Farizal Rhomadon, gugur akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, di tengah eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Sehari kemudian, dua personel TNI di bawah UNIFIL, Sertu Muhammad Nur Ichwan dan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, gugur dalam serangan yang terjadi di dekat Bani Hayyan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.