BREAKING NEWS
 

Lewat Operasi Militer Gabungan Project Freedom

Trump Desak China-Korsel Ikut Amankan Selat Hormuz

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Rabu, 6 Mei 2026 06:10 WIB
Presiden AS Donald Trump didampingi Wapres JD Vance di Ruang Oval Gedung Putih di Washington DC, AS, 16 Maret 2026. Foto: WHITE HOUSE

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah eskalasi konflik di Selat Hormuz, Amerika Serikat (AS) mendesak Korea Selatan (Korsel) dan China bergabung dalam operasi militer melawan Iran.

Presiden AS Donald Trump mendesak Korsel mengirimkan pasukan militer ke Selat Hormuz, usai kabar kapal kargo berbendera Negeri Ginseng, terkena serangan militer di perairan tersebut pada akhir pekan lalu. Seoul masih melakukan koordinasi dengan kapal tersebut untuk mengetahui kabar dan kondisi terkini.

Trump melihat kabar tersebut sebagai alasan tepat untuk menyerang balik Iran. Dia pun mengajak Korsel bergabung dalam operasi perlindungan “Project Freedom”.

“Iran melancarkan serangan kepada kapal yang akan kami lindungi dalam Project Freedom. Salah satunya kapal milik Korea Selatan,” tulis Trump di akun Truth Social-nya, Senin (4/5/2026).

“Mungkin ini waktunya bagi militer Korsel ikut terlibat dalam misi kami,” ajaknya.

Trump juga memamerkan pasukan AS telah menembak jatuh tujuh kapal militer kecil milik Iran. Namun, Teheran membantah adanya kapal yang ditenggelamkan.

Eskalasi terbaru di Selat Hormuz antara Iran dan AS ini semakin menempatkan gencatan senjata antara kedua negara sejak 8 April lalu di ujung tanduk. Trump bahkan enggan menjawab apakah gencatan senjata antara AS-Iran masih berlaku setelah ketegangan terbaru di Selat Hormuz ini.

Baca juga : Dearly Djoshua, Kasih Warning Jangan Genit Sama Ari Lasso

Terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak China ikut bergabung dengan Washington dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Dia mengatakan, China harus mendukung AS.

“Serangan dari Iran telah menutup selat tersebut. Kami sedang membukanya kembali. Jadi, saya mendesak China bergabung dengan kami dalam mendukung operasi internasional ini,” pinta Bessent dikutip dari Al Jazeera, Selasa (5/5/2026).

Desakan ini disampaikan Bessent setelah menuduh Beijing sudah membantu Iran dalam konflik di Timur Tengah. Selain itu, Bessent menuding China dan Rusia telah memveto resolusi upaya untuk mengutuk blokade Iran terhadap Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Duta Besar China untuk PBB Fu Cong mengklarifikasi tudingan itu dan menyampaikan alasan Beijing.

Menurutnya, draf resolusi itu gagal menangkap akar penyebab dan gambaran lengkap konflik secara komprehensif dan seimbang.

Adsense

Trump resmi meluncurkan operasi militer bernama Project Freedom untuk mengamankan wilayah perairan Selat Hormuz pada 3 Mei 2026. Langkah strategis ini dimulai Senin (4/5/2026) bertujuan membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz, akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Trump menyebut Project Freedom sebagai langkah kemanusiaan. Namun, dia tidak memberikan rincian bagaimana lebih dari 850 kapal yang terjebak di Teluk akan dibebaskan.

Baca juga : Pemerintah Jaga Situasi Tetap Kondusif

“Saya telah memberi tahu perwakilan saya untuk memberitahu semua kapal yang terjebak. Kami akan melakukan upaya terbaik untuk mengeluarkan mereka dengan selamat dari Selat Hormuz,” tulis Trump di Truth Social.

Seperti diketahui, perairan Selat Hormuz merupakan tempat lalu lintas distribusi sekitar 20 persen minyak bumi dan gas alam cair dunia. Sayangnya, sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, jalur distribusi ini nyaris ditutup total.

Sekretaris Jenderal Serikat Pelaut Nautilus, Sascha Meijer mengatakan, para pelaut yang terjebak di selat akan sangat menghargai perlindungan agar kapal mereka dapat berlayar keluar.

“Tetapi apakah perlindungan ini pasti? Bagaimana dengan ranjau? Apakah kapal-kapal tersebut diasuransikan? Apakah tawaran ini cukup? Terlalu dini untuk menyimpulkan apakah ini kabar baik atau justru menciptakan lebih banyak bahaya,” ucapnya kepada Guardian, Senin (4/5/2026).

Komentar yang sama juga disampaikan kapten kapal tanker minyak yang terjebak di selat tersebut, Raman Kapoor. Kepada tim World at One di BBC Radio 4, Kapoor mengatakan, kapalnya tidak akan mengambil risiko untuk mencoba keluar.

“Sebagai seorang kapten, tugas saya juga untuk menilai situasi. Saya harus meminta persetujuan dari seluruh awak kapal apakah mereka bersedia mempertaruhkan nyawa mereka. Ini proses yang panjang,” ucapnya.

Kepala petugas keselamatan dan keamanan di kelompok industri pelayaran Bimco Jakob Larsen juga merasa Trump perlu memberi detail rencana pembebasan kapal di Selat Hormuz.

Baca juga : Neraca Dagang Surplus, Ekspor Turun, Impor Naik

“Tanpa persetujuan dari Iran untuk mengizinkan kapal komersial melintasi Selat Hormuz dengan aman, saat ini belum jelas apakah ancaman Iran terhadap kapal dapat dikurangi atau ditekan,” sebut Larsen.

Komando Pusat AS (Centcom) menegaskan, dukungan militer AS untuk Project Freedom akan mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multidomain dan 15.000 anggota militer.

Langkah Gedung Putih ini diputuskan ketika krisis di Timur Tengah mengancam akan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi. Dengan harga minyak sekitar 50 persen lebih tinggi daripada tingkat sebelum konflik. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Rabu, 6 Mei 2026 dengan judul "Lewat Operasi Militer Gabungan Project Freedom Trump Desak China-Korsel Ikut Amankan Selat Hormuz"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense