BREAKING NEWS
 

Kebijakan Baru Perang Di Timur Tengah

Trump Terapkan Mode Defensif

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Kamis, 7 Mei 2026 08:04 WIB
Presiden AS Donald Trump. (Foto: White House)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil kebijakan baru dalam perang melawan Iran. Trump kini lebih memilih strategi defensif alias bertahan. Kalau Iran nembak, maka AS akan gantian nembak.

Strategi baru ini diungkap Trump saat mengumumkan penghentian proyek kebebasan atau Project Freedom. Operasi yang baru saja berjalan hitungan hari itu, sebelumnya diklaim untuk membebaskan kapal-kapal "yang disandera" di Selat Hormuz. Pembebasan dihentikan, karena AS telah mencapai kesepakatan lengkap dan akhir dengan perwakilan Iran.

"Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, juga keberhasilan militer yang luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan Iran. Dan fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan akhir dengan perwakilan Iran, kita telah sepakat bersama," klaim Trump lewat Truth Social dilansir AFP, Rabu (6/5/2026).

Meski begitu, Trump menegaskan blokade tetap diberlakukan."Project Freedom akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah kesepakatan dapat diselesaikan dan ditandatangani," lanjutnya.

Project Freedom diketahui baru diumumkan Trump pada Minggu (3/5/2026) waktu setempat dan mulai berlaku Senin (4/5/2026). Tak lama setelah itu, militer AS dan Iran sempat terlibat aksi saling tembak.

Baca juga : Basket Di Akhir Pekan, Muda Dan Lansia

Trump juga berusaha mengecilkan skala konflik dengan Iran. Ia menyebutnya sebagai pertempuran kecil. "Kita berada dalam pertempuran kecil. Karena Iran tak punya peluang," kata Trump dalam acara di Ruang Oval Gedung Putih, Selasa (5/5/2026).

Sebelumnya, Trump juga menyebut konflik dengan Iran sebagai “perang mini". Bahkan dia menyebut operasi militer AS ke AS sebagai ekspedisi kecil.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, operasi ofensif terhadap Iran telah dihentikan. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (5/5/2026), mengulang penjelasan kepada Kongres AS setelah gencatan senjata.

"Operasi telah berakhir, Epic Fury, seperti yang diberitahukan Presiden kepada Kongres. Kita sudah selesai dengan tahap itu," ujar Rubio di Gedung Putih, dilansir AFP, Rabu (6/5/2026).

Adsense

Gedung Putih sebelumnya memang telah memberi tahu anggota parlemen bahwa konflik telah berakhir melalui gencatan senjata. Langkah ini juga untuk menghindari kewajiban hukum meminta persetujuan Kongres jika konflik berlangsung lebih dari 60 hari.

Baca juga : Liburan Bandung yang Estetik, Tampil Maksimal Dengan Sewa Mobil di Bandung

Meski operasi ofensif berakhir, AS tetap memberi peringatan keras. Washington siap melakukan pembalasan besar jika Iran menyerang kapal-kapalnya.

"Ini bukan operasi ofensif, ini adalah operasi defensif. Artinya sangat sederhana, tidak ada penembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu," tegas Rubio.

Di sisi lain, Iran melalui media pemerintahannya menyebut penghentian Project Freedom sebagai bukti kegagalan AS. Teheran mengklaim Washington mundur karena tekanan dan peringatan keras dari Iran.

"Ini kegagalan AS untuk mencapai tujuannya dalam apa yang disebut Proyek Kebebasan," tulis pemerintah Iran melalui media INSA, Rabu (6/5/2026).

INSA juga melaporkan bahwa keputusan Trump menghentikan operasi tersebut dipicu oleh sikap tegas Iran. Anggota parlemen garis keras Iran, Mahmoud Nabavian, bahkan menyebut langkah itu sebagai kekalahan memalukan bagi AS.

Baca juga : Sentra Bawang Merah Jawa Timur Panen, Pasokan Nasional Terkendali

Iran Ke China

Di tengah ketidakpastian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke Beijing, China, untuk bertemu Menteri Luar Negeri Wang Yi. Pertemuan itu akan membahas hubungan bilateral serta perkembangan konflik regional dan internasional.

Araghchi sebelumnya juga melakukan tur diplomatik, salah satunya berkunjung ke Rusia. Dia bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, guna menggalang dukungan internasional terkait konflik dengan AS dan Israel.

Sementara itu, Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei mendatang. Kunjungan tersebut disebut untuk meredam spekulasi mengenai ketegangan antara kedua pemimpin terkait konflik Iran.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense