RM.id Rakyat Merdeka - Seorang pria di China berusia 40-an tahun berhasil selamat dan terbangun setelah jantungnya berhenti berdetak selama 40 jam akibat serangan jantung.
Kasus langka ini disebut para dokter sebagai keajaiban berkat penggunaan teknologi medis penyelamat nyawa terbaru.
Melansir South China Morning Post (SCMP), kasus ini diungkap dokter gawat darurat Lu Xiao dari Rumah Sakit Afiliasi Kedua Universitas Kedokteran Zhejiang melalui akun media sosialnya. Dokter Lu memiliki sekitar tiga juta pengikut.
Keberhasilan tersebut terjadi setelah tim medis menggunakan ECMO di sebuah rumah sakit di China. Teknologi ini membantu menjaga fungsi pernapasan dan sirkulasi darah pasien, meski jantungnya berhenti hampir dua hari.
Baca juga : Industri Migas Didorong Naik Kelas, Kurangi Ketergantungan Impor
Dokter Lu menjelaskan, pasien mengalami henti jantung. Tim medis sudah memastikan tidak ada detak jantung yang terdeteksi, meski sudah dilakukan beberapa kali defibrilasi listrik.
“Pasien berusia 40 tahun itu mengalami cardiac arrest dan tidak ditemukan detak jantung, meski sudah dilakukan beberapa kali kejutan listrik,” kata Lu, sebagaimana dikutip SCMP, Selasa (28/4/2026).
ECMO merupakan mesin penunjang hidup yang berfungsi sebagai jantung dan paru-paru buatan. Alat ini memasok oksigen ke darah dan mengeluarkan karbon dioksida pada pasien dengan kegagalan organ.
Dalam kasus ini, tim medis berhasil menyelamatkan nyawa pasien, meski jantungnya telah berhenti dalam waktu yang sangat lama. Setelah detak jantung kembali, pasien masih menjalani perawatan ECMO selama sekitar 10 hari sebelum kondisinya membaik.
Baca juga : Triyatni Buka Seleksi LCC Empat Pilar Provinsi Jambi Dukung Karakter Bangsa
Dokter Lu menyebut hasil tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. “Pasien ini beruntung. Setiap keberhasilan perawatan adalah berkat kemajuan medis, ketekunan tim medis, dan keberuntungan,” ujarnya.
Setelah sekitar 20 hari perawatan, pasien dilaporkan hampir pulih sepenuhnya. Bahkan, mampu berjalan keluar rumah sakit tanpa bantuan dan tidak mengalami efek samping serius seperti stroke, gagal ginjal, maupun gangguan psikologis.
Meski demikian, penggunaan ECMO memiliki risiko tinggi. Dalam kasus ini, tim medis harus menjaga keseimbangan antara mencegah pembekuan darah dan risiko pendarahan, yang merupakan komplikasi umum dan berbahaya.
Di China, penggunaan ECMO dilaporkan dapat memakan biaya sekitar 50.000 yuan (sekitar Rp115 juta) untuk awal penggunaan dan lebih dari 10.000 yuan (sekitar Rp23 juta) per hari, yang umumnya tidak ditanggung asuransi sosial.
Baca juga : Mata-matai Suami, Istri Gelantungan Di Belakang Truk
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Sabtu, 9 Mei 2026 dengan judul "Pria Di China Selamat Usai Alami Henti Jantung 40 Jam"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.