BREAKING NEWS
 

Saling Serang Lagi, Perang AS vs Iran Nggak Beres-beres

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 2 Juni 2026 08:43 WIB
Ilustrasi perang AS vs Iran masih berlanjut. (Gambar dibuat dengan Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang di tengah negosiasi untuk gencatan senjata permanen. Perang pun nggak beres-beres.

AS mengumumkan pasukannya telah menyerang lokasi radar dan pusat komando drone Iran di area Goruk dan Pulau Qeshm, di Teluk Persia, Minggu (31/5/2026). Washington mengklaim, serangan ini untuk mempertahankan diri.

"Komando Pusat AS melancarkan serangan pertahanan diri terhadap lokasi radar dan komando serta kendali drone Iran di Goruk dan Pulau Qeshm pada akhir pekan ini," tulis Komando Pusat AS atau CENTCOM, seperti dilansir AFP, Senin (1/6/2026).

CENTCOM menyatakan, serangan ini untuk membalas atas ditembak jatuhnya drone MQ-1 milik AS di atas perairan internasional oleh pasukan Iran. Jet tempur AS merespons cepat, menargetkan dan menghancurkan sistem pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan dua drone serangan satu arah yang dianggap mengancam kapal-kapal yang melintasi perairan regional.

"Tak ada personel militer Amerika Serikat yang terluka," tulis CENTCOM dalam pernyataannya.

Merespons serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pasukannya telah menargetkan pangkalan udara AS yang digunakan untuk menyerang wilayah Iran, Senin (1/6/2026) pagi. IRGC mengklaim, semua target telah dihancurkan dalam serangan balasan ini.

Namun, lokasi pangkalan udara AS yang menjadi target serangan tak disebutkan secara spesifik. IRGC hanya menyebut, salah satu serangan menyasar Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan bagian selatan, di dekat Selat Hormuz.

Baca juga : Pemulangan Haji Berjalan, Kuota 2027 Disorot

"Serangan lebih lanjut akan memicu respons yang berbeda dalam skala dan bentuknya, bahwa tanggung jawab atas setiap eskalasi akan berada di tangan AS," tulis IRGC, dalam pernyataannya.

Klaim IRGC ini juga dirilis setelah militer Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan rudal dan drone. AS diketahui punya pangkalan militer di sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait.

Negosiasi Masih Mentok

Negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang belum menemukan titik temu. Negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan, AS tak dapat dipercaya. Karena itu, Teheran tak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington kecuali seluruh hak-hak rakyat Iran dijamin penuh.

"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf, dalam sebuah video yang disiarkan televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Senin (1/6/2026).

Ketua Parlemen Iran ini menambahkan, para negosiator Iran tak akan sepenuhnya mempercayai kata-kata dan janji-janji musuh mereka.

Adsense

Laporan media-media AS seperti New York Times (NYT) dan Axios, Sabtu (30/5/2026) menyebut, Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan versi revisi kerangka kerja perdamaian yang diusulkan. Isinya persyaratan lebih keras untuk dipertimbangkan oleh Iran.

Trump mengatakan, salah satu poin prioritasnya yakni menghentikan Iran dari pengembangan senjata nuklir apa pun dan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Baca juga : Kerbau Albino Mirip Trump Batal Disembelih

"Satu-satunya jaminan yang harus saya miliki adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik," ucap Trump, dalam wawancara dengan program televisi Fox News, akhir pekan kemarin.

Sementara, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut, militer AS siap melanjutkan pertempuran dengan Iran. Persediaan senjata AS sudah cukup untuk menyelesaikan perang ini.

"Kami fokus pada kesiapan dan persiapan untuk kembali terlibat konflik jika perlu," kata Hegseth, di sela kunjungan ke Singapura, seperti dilansir CNN Internasional, Minggu (31/5/2026).

Namun, kata Hegseth, Trump lebih memilih untuk tidak melakukannya. Saat ini kata dia, pembicaraan produktif telah digelar.

Hegseth menambahkan, Trump masih bersabar dan terus memastikan setiap poin perdamaian dengan Iran menjamin bahwa Iran tak akan punya senjata nuklir. "Jika Iran tidak ingin membuat kesepakatan besar yang memastikan mereka tidak mendapatkan senjata nuklir, mereka dapat berurusan dengan militer AS," ancam Hegseth.

Klaim Trump Dibantah Iran

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengklaim, Iran sedang berupaya mencapai kesepakatan dengan AS. Ia pun pede, negosiasi yang tengah berlangsung akan membuahkan hasil yang menguntungkan.

"Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi AS dan mereka yang bersama kita," kata Trump, via Truth Social, Senin (1/6/2026).

Baca juga : Guyub Di Upacara Hari Lahir Pancasila, Prabowo-Megawati Gandengan Tangan

Namun, klaim Trump ini langsung dibantah Iran. Iran menegaskan, kedua pihak masih punya banyak perbedaan soal poin-poin negosiasi. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan, sebelum kesimpulan yang jelas tercapai, semua yang dikatakan Trump hanyalah spekulasi.

Kata Abbas, poin pencabutan sanksi dan pelepasan aset Iran yang dibekukan di bank-bank di luar negeri, dengan nilai sekitar 12 miliar dolar AS, menjadi salah satu dari sejumlah hak utamanya yang harus dijamin dalam kesepakatan.

Wakil Bidang Urusan Politik IRGC Brigadir Jenderal Yadollah Javani menambahkan, Trump tak punya pilihan, memilih antara pilihan yang buruk atau lebih buruk. "Trump, yang kekalahannya dalam perang amat nyata, sekarang menghadapi dua jalan, jalan yang buruk atau jalan yang lebih buruk," kata Javani, seperti dilansir Press TV, Senin (1/6/2026).

Ia menegaskan, Trump harus memilih antara mengakui kondisi dan hak-hak rakyat Iran atau melanjutkan perang terhadap Teheran. "Iran telah memenangkan pertempuran ini, dan Amerika Serikat sedang menuju spiral kekalahan dan kemunduran," klaimnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense