RM.id Rakyat Merdeka -
Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi dari Tanah Suci, Makkah
Menjelang kepulangan ke Tanah Air, suasana di sejumlah hotel jemaah haji Indonesia di Makkah dipenuhi kesibukan. Koper-koper besar berjajar rapi menunggu proses penimbangan, sementara para jemaah tampak sibuk memilah barang bawaan mereka.
Di tengah persiapan tersebut, satu pemandangan menarik terlihat hampir di setiap rombongan, yakni banyaknya boneka unta yang dibawa para jemaah. Souvenir khas Timur Tengah itu menjadi salah satu oleh-oleh favorit yang diburu untuk keluarga di kampung halaman.
Boneka unta hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berukuran kecil untuk gantungan kunci, ada pula yang berbentuk boneka besar. Bahkan, sebagian dilengkapi fitur suara talbiyah dan dapat berjalan ketika tombolnya dinyalakan.
Bentuknya yang unik dan identik dengan Arab Saudi membuat replika unta memiliki daya tarik tersendiri. Bagi banyak jemaah, oleh-oleh tersebut dianggap sebagai simbol perjalanan spiritual mereka di Tanah Suci.
Samsul Azhar, jemaah asal Embarkasi Medan yang tergabung dalam Kloter KNO 02, menjadi salah satu pemburu boneka unta. Saat ditemui di kawasan Jarwal, Makkah, dia tampak membawa beberapa boneka unta dalam dua tas jinjing besar.
Menurut Samsul, hampir semua jemaah membawa oleh-oleh khas Arab Saudi, mulai dari kurma, minyak wangi, sejadah, hingga air zamzam. Namun, boneka unta tetap memiliki tempat istimewa karena sangat disukai anak-anak dan cucu.
"Kalau sudah punya cucu, biasanya unta menjadi oleh-oleh yang dicari. Bentuknya lucu dan khas Arab," katanya, sambil menunjukkan koleksi boneka unta yang dibelinya.
Baca juga : Aturan Bagasi Haji Diperketat Demi Keselamatan
Samsul bersama istrinya membeli empat boneka unta berukuran besar. Tiga di antaranya dibawa menggunakan tas, sedangkan satu lainnya disimpan di koper bagasi. Selain itu, dia juga membawa kurma, cokelat, sejadah, serta berbagai buah tangan lain untuk keluarga.
Dia mengakui barang bawaannya cukup banyak dan berpotensi membuat koper menjadi lebih berat. Namun baginya, pulang dari ibadah haji tanpa membawa oleh-oleh untuk keluarga terasa kurang lengkap.
"Kalau memang barang bawaan jadi bertambah karena oleh-oleh, mohon dimaklumi. Rasanya tidak mungkin pulang haji tanpa membawa buah tangan untuk keluarga," ujarnya.
Cerita serupa disampaikan Katiyo Kadiman, rekan satu kloter Samsul. Dia memilih membeli boneka unta untuk cucunya karena menganggap barang tersebut unik dan sulit ditemukan di Indonesia.
Menurut Katiyo, keistimewaan boneka unta terletak pada nilai kenangannya sebagai simbol perjalanan dari Tanah Suci. Oleh karena itu, dia rela menyisihkan sebagian anggaran belanja untuk membeli beberapa buah sebagai hadiah bagi keluarga.
Fenomena berburu oleh-oleh juga terlihat saat proses penimbangan koper jemaah di Hotel Manar Al Bait, kawasan Syisyah, Makkah. Pada Senin pagi, ratusan koper milik jemaah Kloter UPG 4 Embarkasi Makassar telah dikumpulkan berdasarkan nomor rombongan untuk menjalani pemeriksaan berat bagasi.
Proses penimbangan dilakukan dua hari sebelum keberangkatan menuju Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Koper yang telah lolos pemeriksaan selanjutnya diangkut menggunakan truk menuju bandara.
Sesuai ketentuan maskapai, berat koper bagasi maksimal 32 kilogram, sedangkan koper kabin dibatasi hingga 7 kilogram. Jika melebihi batas yang ditentukan, jemaah diwajibkan mengurangi isi koper sebelum dapat diberangkatkan.
Baca juga : SBY Bagikan Tips Hindari Krisis 2008
Aviation Security Garuda Indonesia, Norman Fajar, menjelaskan bahwa tidak ada mekanisme pembayaran kelebihan bagasi saat proses penimbangan di hotel. Jemaah yang kopernya melebihi ketentuan harus mengeluarkan sebagian barang hingga beratnya sesuai aturan.
"Kami meminta jemaah mengurangi isi koper terlebih dahulu apabila beratnya lebih dari 32 kilogram. Tidak ada proses pembayaran saat penimbangan," katanya.
Pemandangan koper yang dibongkar pun beberapa kali terlihat selama proses berlangsung. Petugas meminta sejumlah jemaah mengeluarkan barang karena berat koper melebihi batas. Bahkan, koper yang diikat menggunakan tali rafia harus dibuka agar memudahkan pemeriksaan keamanan di bandara.
Meski demikian, sebagian besar jemaah tampak lebih khawatir kehilangan ruang untuk oleh-oleh dibandingkan barang yang mereka bawa dari Indonesia. Banyak di antara mereka yang telah membeli berbagai buah tangan untuk keluarga, tetangga, dan kerabat.
Junarti Ramli, jemaah asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, mengaku telah menyiapkan banyak oleh-oleh untuk dibagikan setibanya di kampung halaman. Baginya, buah tangan dari Tanah Suci menjadi bagian penting dari perjalanan haji.
Dia bahkan telah menentukan prioritas apabila kopernya dinyatakan kelebihan berat. Menurutnya, oleh-oleh akan menjadi barang terakhir yang dikurangi.
"Kalau memang harus memilih, tentu oleh-oleh untuk keluarga yang saya pertahankan terlebih dahulu," katanya.
Junarti menambahkan, barang-barang yang dibawa dari Indonesia justru akan menjadi pilihan pertama untuk ditinggalkan apabila diperlukan pengurangan berat koper.
Baca juga : Ekspor-Impor Naik, Neraca Dagang RI Surplus 1,6 T
Sikap serupa ditunjukkan Andi Tenri Olle, jemaah dari Kloter UPG 4. Dia mengaku membeli berbagai oleh-oleh seperti kurma, cokelat, hingga boneka unta untuk anak dan cucunya di rumah.
Menurut Tenri, boneka unta menjadi salah satu barang yang paling diminati keluarga. Karena itu, dia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, termasuk melepas baterai dari mainan tersebut agar sesuai dengan aturan penerbangan.
Meski telah berusaha menata barang bawaan secara cermat, Tenri tetap pasrah jika nantinya harus mengurangi isi koper. Namun, dia memastikan bahwa oleh-oleh akan tetap menjadi prioritas utama.
"Kalau memang melebihi kapasitas, saya akan mengeluarkan barang yang saya bawa dari Indonesia. Oleh-oleh tetap harus pulang bersama saya," ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Ambo Anna Ambo Amang. Jemaah asal Wajo itu mengaku lebih memilih mempertahankan oleh-oleh yang dibeli di Tanah Suci daripada barang yang dibawanya dari rumah.
Cokelat Dubai, kurma ajwah, tas yang sedang viral, hingga berbagai souvenir khas Arab Saudi telah disiapkannya untuk keluarga tercinta. Baginya, oleh-oleh bukan sekadar barang, melainkan wujud kasih sayang dan kenangan dari perjalanan ibadah yang telah ditunaikan.
Di tengah aturan ketat mengenai berat bagasi, kisah para jemaah ini menunjukkan satu hal yang sama. Oleh-oleh dari Tanah Suci memiliki makna emosional yang begitu besar. Tak heran jika banyak jemaah rela meninggalkan sebagian barang bawaan dari Indonesia demi memastikan boneka unta, kurma, dan berbagai buah tangan lainnya dapat tiba dengan selamat di rumah, sebagai hadiah bagi keluarga yang telah lama menanti kepulangan mereka. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.