BREAKING NEWS
 

Sepekan Menyusuri Perth & Melbourne (2)

Jakarta-Canberra Makin Mesra

Reporter & Editor :
KARTIKA SARI
Kamis, 4 Juni 2026 08:22 WIB
CEO Perth USAsia Centre Profesor Gordon Flake (kiri) dan Dubes Indonesia untuk Australia Siswo Pramono. (Foto: Kartika Sari dan KBRI Canberra)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.ID Kartika Sari mengikuti Australia-Indonesia Senior Editors Program di kota Perth dan Melbourne atas undangan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Indonesia Institute (AII). Program yang berlangsung pada 16-23 Mei 2026 itu, dikemas untuk meningkatkan pemahaman dan people to people contact kedua negara. Berikut ini laporannya.

 

Delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program berfoto bersama CEO Perth USAsia Center Profesor Gordon Flake (keempat kiri) di Kampus University Western Australia. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Jarak geografis yang relatif dekat, membuat Indonesia dan Australia nyaris tak bisa menghindari satu sama lain. Meski berbeda bahasa, budaya, dan latar belakang sejarah, Jakarta dan Canberra menyadari satu hal: menjadi tetangga yang baik jauh lebih menguntungkan daripada saling curiga.

Kini, hubungan kedua negara bahkan disebut sedang berada pada masa paling mesra sepanjang sejarah.

"Hubungan Indonesia dan Australia belum pernah sebaik dan semesra saat ini. The best ever," ujar CEO Perth USAsia Centre Profesor Gordon Flake saat berdialog dengan lima Senior Editor asal Indonesia di kampus University of Western Australia, Perth, Senin (18/5/2026).

Perth USAsia Center adalah lembaga pemikir (think tank) kebijakan luar negeri independen dan non-partisan yang bermarkas di The University of Western Australia, Perth. Lembaga ini berfokus pada dinamika geopolitik, ekonomi, dan strategi di kawasan Indo-Pasifik.

Pernyataan Profesor Flake bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara meningkat di hampir semua sektor. Mulai dari bidang politik, keamanan, perdagangan, investasi hingga hubungan antarmasyarakat.

 

Profesor Gordon Flake saat menyapa para menyapa para Senior Editor asal Indonesia di Kampus University of Western Australia, Perth. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Bagi Australia, menurut Flake, Indonesia kini bukan lagi sekadar tetangga dekat. Indonesia telah menjelma menjadi mitra strategis yang semakin penting.

Baca juga : Melemah Hampir 5%, IHSG Berdarah-darah

Salah satu penanda kuatnya hubungan tersebut, menurut Flake, adalah ditandatanganinya Treaty on Common Security atau Jakarta Treaty oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Jakarta, 6 Februari 2026.

Perjanjian itu memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara, sekaligus membuka mekanisme konsultasi tingkat tinggi apabila salah satu pihak menghadapi ancaman keamanan.

Lebih lanjut Flake mengatakan, di tengah kondisi geopolitik dunia yang semakin tidak pasti, posisi Indonesia di mata Australia semakin strategis. Ketegangan Timur Tengah, rivalitas kekuatan besar, hingga perubahan peta geopolitik Indo-Pasifik, membuat Canberra membutuhkan mitra yang stabil dan berpengaruh di kawasan.

"Menurut saya, Australia lebih membutuhkan Indonesia daripada Indonesia membutuhkan Australia," kata Flake yang fasih berbahasa Korea dan Laos.

Alasannya sederhana. Australia adalah negara maju dengan populasi sekitar 35 juta jiwa. Sementara Indonesia memiliki lebih dari 285 juta penduduk, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan diproyeksikan menjadi salah satu dari lima hingga sepuluh kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045.

“Karena itu, kerja sama kedua negara harus terus diperluas. Tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga sektor maritim, energi, pangan, hingga berbagai bidang strategis lainnya,” ungkap Profesor yang juga menjabat sebagai Gubernur Kamar Dagang Amerika (AmCham) di Australia.

Menurut Flake, dinamika politik global juga turut mendorong Australia mempererat hubungan dengan Indonesia. Kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dianggap kontroversial dan sangat transaksional, membuat sejumlah sekutu tradisional Washington mulai memperluas jaringan kemitraan strategisnya. Indonesia menjadi salah satu mitra yang dinilai paling menjanjikan.

Pandangan serupa disampaikan CEO Asialink Rachel Thompson. Menurutnya, hubungan Indonesia-Australia saat ini sedang berada dalam fase yang sangat positif.

"Kami melihat hubungan kedua negara saat ini sangat erat. Hubungan yang positif ini dapat membantu meningkatkan kerja sama di berbagai bidang," ujarnya saat ditemui di kantor Asialink, Kampus Melbourne University, Kamis (21/5/2026).

Adsense

Momentum tersebut, kata Thompson, membuka ruang kolaborasi baru yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Sementara itu, Head of Communications Asialink Kristy Jones melihat peluang besar Australia untuk mendukung sejumlah program prioritas Presiden Prabowo, terutama di bidang ketahanan pangan.

Baca juga : Tragis, Mantan Kepala BGN Langsung Diborgol Kejagung

Australia, kata dia, memiliki kapasitas besar dalam penyediaan produk pertanian seperti susu dan daging sapi yang dapat mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kami memiliki daging sapi dan susu berkualitas tinggi yang dibutuhkan Indonesia untuk mendukung program tersebut," ujarnya.

Asialink merupakan lembaga kajian dan diplomasi publik yang berada di bawah naungan Melbourne University.

Perdagangan & Investasi Melonjak 

Kemesraan Jakarta dan Canberra ternyata tidak hanya terasa dalam hubungan politik.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Australia Siswo Pramono menilai, hubungan kedua negara saat ini sedang berada dalam fase yang sangat positif karena ditopang fondasi ekonomi yang semakin kuat.

"Mesra dalam pandangan saya karena dalam lima tahun terakhir, total perdagangan kedua negara meningkat lebih dari dua kali lipat. Arus investasi dua arah juga terus bertambah," kata Siswo saat dihubungi Rakyat Merdeka, Selasa (2/6/2026).

Data yang dipaparkan Siswo cukup mengesankan. Dalam periode 2020-2025, nilai perdagangan Indonesia-Australia melonjak dari 13 miliar dolar Australia menjadi 31 miliar dolar Australia. Kenaikan lebih dari dua kali lipat itu menunjukkan keterkaitan ekonomi kedua negara semakin erat.

Menurut Siswo, nilai investasi juga bergerak naik. Dalam lima tahun terakhir, investasi dua arah tumbuh sekitar 47 persen. Pada 2024, investasi Negeri Koala di Indonesia mencapai 1,1 miliar dolar Australia. Menariknya, investasi Indonesia di Australia justru lebih besar, yakni sekitar 1,4 miliar dolar Australia.

“Investasi Indonesia di Negeri Kanguru banyak ditopang perusahaan-perusahaan nasional yang bergerak di sektor pertambangan,” kata diplomat yang meraih gelar Doktor dari Australian National University (ANU) itu. 

Dia menyebut nama-nama perusahaan seperti Sinar Mas Group, Salim Group, BUMA hingga Adaro, telah menanamkan modal dalam berbagai proyek tambang di Australia. Mereka mengelola beragam komoditas strategis, mulai dari batu bara, emas, fosfat, tembaga hingga mineral kritis dan tanah jarang yang kini menjadi komoditas masa depan dunia.

Siswo menjelaskan, investasi Australia di Indonesia juga terus berkembang. Selain pertambangan, investor Australia mulai aktif masuk ke sektor perhotelan, resort dan restoran yang menopang industri pariwisata nasional.

Baca juga : Roy Suryo Cs Segera Disidang, Kubu Jokowi Berharap Nama Baik Pulih Lagi

Namun bagi Siswo, kekuatan hubungan Indonesia dan Australia sesungguhnya tidak hanya tercermin dari angka perdagangan maupun investasi.

“Fondasi yang paling kokoh justru terletak pada hubungan antarmasyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini sekitar 25 ribu pelajar dan mahasiswa Indonesia sedang menempuh pendidikan di Australia. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sebaliknya, warga Australia juga semakin banyak berkunjung ke Indonesia. "Jumlah wisatawan Australia yang berkunjung ke Indonesia meningkat pesat, mencapai lebih dari 1,7 juta orang," ungkap Siswo.

Ledakan wisatawan tersebut membawa dampak ekonomi yang signifikan. Indonesia mencatat surplus perdagangan jasa lebih dari 8,1 miliar dolar Australia, terutama berasal dari sektor pariwisata.

Mobilitas masyarakat kedua negara juga semakin mudah berkat bertambahnya penerbangan langsung Indonesia-Australia. Selain Garuda Indonesia dan AirAsia Indonesia, maskapai Australia seperti Qantas dan Virgin Australia terus memperluas konektivitas udara antara kedua negara.

Di bidang politik, hubungan kedua negara pun dinilai semakin matang dan stabil. "Buktinya, lebih dari 10 tahun terakhir tidak terjadi insiden diplomatik yang berarti seperti di masa lalu. Sebaliknya, saling kunjung pemimpin negara, pejabat tinggi, dan pelaku bisnis justru semakin meningkat," tutur Siswo.

Kedekatan itu kembali diperkuat melalui penandatanganan Defence Cooperation Agreement (DCA) dan Treaty on Common Security atau Jakarta Treaty. Kedua perjanjian itu menjadi tonggak baru kerja sama strategis Indonesia dan Australia, yang kini tinggal menunggu proses ratifikasi di DPR RI.

Bagi Siswo, seluruh perkembangan itu menunjukkan satu hal: hubungan Jakarta dan Canberra tak lagi sekadar bertetangga. Tetapi semakin bergerak menuju kemitraan yang saling menguntungkan. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense