Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Seharian kemarin, Rabu (3/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berdarah-darah. Sepanjang hari, IHSG memerah. Dalam penutupan perdagangan, IHSG terjun ke level 5.941,06 atau melemah 4,11 persen dibanding penutupan hari sebelumnya.
IHSG sudah mengalami tekanan sejak awal perdagangan. Bahkan, pada penutupan sesi I, pukul 12.00 WIB, IHSG turun hingga 4,94 persen ke level 5.899,48 persen. Lalu, pelemahan lebih tajam terjadi pada pukul 13.40 WIB, yang berada di level 5.859,15 alias turun 5,15 persen.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 752 melemah. Hanya 38 saham yang menguat, dan 169 saham lainnya bergerak stagnan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, salah satu faktor yang membuat IHSG berdarah-darah adalah pelemahan rupiah yang hampir menyentuh Rp 18.000 per dolar AS. Penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 yang menjadi 89,1 juta dolar AS juga turut menekan kondisi IHSG. Hal ini menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal yang menjadi penahan laju penguatan IHSG.
Selain itu, kata dia, saat ini pelaku pasar masih wait and see atas indeks yang akan dikeluarkan FTSE Russell terhadap bursa Indonesia. “Pelaku pasar mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru dari sentimen rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang," ujar Nafan, Rabu (3/6/2026).
Dari sisi global, kembali memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa pekan terakhir serta operasi militer Israel di Lebanon juga membuat pasar terguncang.
Baca juga : Aturan Bagasi Haji Diperketat Demi Keselamatan
Meski begitu, Nafan memproyeksikan IHSG tetap berpeluang bergerak ke fase konsolidasi dalam beberapa bulan mendatang. Konsolidasi ini lebih segar, karena pasar tak lagi terbebani oleh isu rebalancing MSCI yang sempat membuat IHSG anjlok signifikan pada Mei 2026. Para investor juga mulai beralih fokus ke faktor-faktor fundamental domestik, terutama stabilisasi nilai tukar rupiah.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengungkapkan, investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, dan mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman, sehingga memicu pelemahan IHSG. Sikap tersebut merupakan respons terhadap kombinasi sentimen dari tingkat domestik dan global.
"Tekanan terjadi cukup merata, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan terhadap indeks, sehingga penurunannya berdampak signifikan terhadap IHSG," ulas Elandry, di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Dari faktor domestik, kata dia, pelemahan kurs rupiah yang mendekati Rp 18 ribu per dolar AS, menekan sentimen pasar saham, karena meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas makro dan potensi capital outflow. "Selain itu, tekanan teknikal akibat penembusan level support juga mempercepat aksi jual di pasar," terang Elandry.
Dari faktor mancanegara, pelaku pasar merespons meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan sentimen risk-off yang mendorong perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Menurut Elandry, saat ini investor asing cenderung menunggu. Mereka fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah suku bunga global, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca juga : SBY Bagikan Tips Hindari Krisis 2008
"Saya melihat lebih banyak aksi pengurangan risiko jangka pendek dibanding perubahan pandangan fundamental terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan," kata Elandry.
Dalam penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah melemah 127 poin atau 0,71 persen menjadi Rp 17.966 per dolar AS. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan ini dipicu berbagai faktor eksternal. Mulai dari lonjakan harga minyak dunia, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga ekspektasi suku bunga tinggi AS yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi stagnasi perundingan antara AS dan Iran terkait program pengayaan uranium. Iran menilai AS bersikap tidak konsisten dalam proses negosiasi karena serangan terhadap wilayah Iran masih terjadi di tengah pembahasan kesepahaman kedua negara.
Selain faktor geopolitik, pernyataan salah satu pejabat Federal Reserve (The Fed), Beth M. Hammack, turut memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Hammack menyebut Bank Sentral AS kemungkinan perlu bertindak cepat apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan signifikan. Pernyataan itu memperkuat ekspektasi pasar terkait peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut, kenaikan harga minyak mentah dunia turut meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi dan pembayaran kewajiban luar negeri. Kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan utang jatuh tempo yang nilainya mencapai sekitar Rp 600 triliun ikut menambah tekanan terhadap rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso memastikan, bank sentral akan terus berada di pasar untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki. Upaya ini dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas sehingga stabilitas pasar keuangan terjaga.
Baca juga : Ekspor-Impor Naik, Neraca Dagang RI Surplus 1,6 T
"BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik, serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar Ramdan, Rabu (3/6/2026).
Salah satu upaya yang dilakukan BI adalah menurunkan kembali ketentuan batas pembelian valas tanpa dokumen underlying dari 50 ribu dolar AS menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan baru ini berlaku mulai 2 Juni 2026.
BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. "Kerja sama tersebut telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab," terang Ramdan.
Selain kebijakan internal, BI juga bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, baik Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, maupun pelaku pasar, untuk memastikan mekanisme pasar bekerja dengan baik dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional. "Bank Indonesia memandang bahwa stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan," tegas Ramdan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya