BREAKING NEWS
 

Gempur Iran, Trump Tekor 671 Triliun

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : UJANG SUNDA
Kamis, 23 Juli 2026 08:23 WIB
Ilustrasi biaya besar Amerika untuk perang melawan Iran. (Gambar dibuat dengan Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) menghabiskan dana besar untuk perang melawan Iran. Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth mengungkapkan, estimasi biaya sampai akhir tahun anggaran mencapai 37,5 miliar dolar AS atau setara Rp 671,7 triliun. 

Besarnya biaya itu diungkap Hegseth dalam Sidang Dengar Pendapat Komite Alokasi Anggaran Senat AS, Selasa (21/7/2026). Hegseth awalnya memaparkan situasi pertempuran terkini.

"Secara militer, Iran telah kalah jauh dan dihancurkan sejak awal. Kemampuan mereka tidak ada apa-apanya dibanding milik kita," klaimnya, seperti dilansir BBC.

Hegseth lalu mengungkap besaran dana operasi militer yang digelontorkan Washington untuk perang tersebut. "Sebesar 37,5 miliar dolar AS," ujar Hegseth, menjawab pertanyaan Senator asal Illinois, Dick Durbin, yang bertanya estimasi biaya perang Iran sejauh ini.

Hegseth memaparkan, angka tersebut mencakup pengeluaran operasional militer saat ini serta proyeksi biaya hingga akhir tahun fiskal pada 30 September mendatang.

Mengenai pemicu perang, ia menolak anggapan bahwa AS adalah pihak yang memulai duluan. Ia menuding, Iran-lah yang memulai perang itu.

Baca juga : APBN Trennya Positif

"Iran memulai perang ini 47 tahun yang lalu. Mereka telah membunuh ribuan warga Amerika, termasuk saudara-saudara kita di medan perang Irak. Iran telah menargetkan kita sejak lama," ucap Hegseth, merespons kritik Senator Chris Van Hollen.

Ia lalu menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump layak mendapat pujian atas keberanian mengambil langkah tegas untuk memastikan rezim di Teheran tak mendapatkan senjata nuklir pemusnah massal.

Walaupun mengklaim militer Iran telah lemah, Hegseth menyatakan, pihaknya tetap waspada. Ia mewanti-wanti, ancaman belum meredup total. Sebab, Iran masih menyembunyikan ribuan rudal balistik di fasilitas bawah tanah. Hegseth pun mengajukan anggaran bantuan tambahan sebesar 87,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.567 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal AS Daniel Caine mendesak Senat memberi kepastian anggaran militer mengingat eskalasi ancaman yang kian kompleks. Kata dia, karakter perang sedang berubah. Medan pertempuran membentang dari dasar laut hingga ruang siber secara bersamaan di semua lini. 

"Saya hadir di hadapan Anda hari ini untuk meminta dana yang diperlukan selagi kita berada di jendela kesempatan, selagi waktu masih memihak kita," tutur Caine. 

Adsense

Sementara, Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social yang membandingkan durasi waktu dan jumlah korban jiwa dalam berbagai perang AS. Perang Afganistan berlangsung selama 20 tahun dengan korban tewas sebanyak 2.000 prajurit AS. Perang Irak berlangsung selama 9 tahun dengan korban tewas sebanyak 4.600 prajurit AS. Perang Vietnam berlangsung selama 19 tahun 5 bulan dengan korban tewas mencapai 58.220 prajurit AS. Perang Korea berlangsung selama 3 tahun 1 bulan dengan korban tewas mencapai 36.574 prajurit AS. Operasi Militer Venezuela berlangsung selama 1 hari tanpa ada korban tewas. Konflik Militer Iran berlangsung selama 4 bulan dengan jumlah korban tewas mencapai 18 prajurit AS. 

Baca juga : Asing Borong Saham: IHSG Menanjak, Rupiah Menguat

Perang AS versus Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Sempat terjadi gencatan senjata dan perundingan, namun kini perang pecah kembali. Sudah lebih dari sepekan, AS dan Iran kembali saling serang. AS menyerang fasilitas militer Iran di Selat Hormuz dan sekitarnya. Iran membalas, meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di negara Teluk. 

Kawasan Timur Tengah pun semakin mendidih setelah Trump menerbitkan peringatan keras rencana serangan militer terhadap fasilitas nuklir strategis Iran, seperti kawasan situs bawah tanah di Gunung Pickaxe dalam waktu dekat. Gunung Pickaxe dikenal sebagai kompleks bawah tanah terfortifikasi ketat yang berlokasi di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz. Situs misterius ini belum pernah diizinkan diinspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). 

"Kami akan menghantam area tersebut sangat segera. Tak ada satu hal pun yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya," ancam Trump, seperti dikutip Fox News.

Trump meyakini, Iran mungkin telah memindahkan sentrifugal nuklir ke lokasi tersebut. "Menurut saya mungkin saja mereka sudah melakukannya," katanya.

Soal perundingan damai, Trump mengatakan, Washington tak tertarik mengadakan pertemuan dengan Iran hingga Teheran siap menggelar perundingan nuklir lebih serius dan bermakna.

"Mereka sangat ingin bertemu. Kami sama sekali tidak tertarik," klaim Trump saat berbicara dalam pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Ruang Oval Gedung Putih.

Baca juga : Pangkalannya Dirudal Iran, 100 Tentara AS Luka-luka

Merespons ancaman langsung dari Washington, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan, setiap agresi AS terhadap situs nuklir atau fasilitas vital lainnya, akan langsung memicu perluasan perang di seluruh kawasan. "Seluruh aset, markas militer, dan kepentingan AS beserta para pendukungnya akan menghadapi balasan dahsyat," tulis peringatan tersebut.

Militer Iran pun kembali melancarkan gelombang serangan drone terhadap fasilitas militer AS di Kuwait, Rabu (22/7/2026). Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan militer Iran menghantam depot amunisi dan peralatan logistik milik Angkatan Darat AS di Camp Doha, Kuwait bagian barat.

"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran siap memberikan respons tegas terhadap setiap konspirasi dan aksi provokatif baru dari musuh," demikian bunyi pernyataan itu, seperti dikutip Al Jazeera.

Sementara, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya pada peringatan Hari Nasional Industri dan Pertambangan, Selasa (21/7/2026) menegaskan, Iran tetap memilih jalur diplomasi, sembari berpegang pada prinsip kehormatan, kebijaksanaan, dan martabat bangsa. 

"Lembaga-lembaga diplomatik kami tidak akan pernah mundur dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Iran," tuturnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengklaim, Teheran telah menerima sejumlah usulan dari berbagai pihak mediator untuk meredakan ketegangan dengan AS. Dia menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi meski konflik dengan Washington terus berlangsung.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense