Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Para investor asing ramai-ramai memborong saham emiten Indonesia. Hasilnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menanjak. Rupiah juga ikutan menguat, meski tak seperkasa IHSG.
Pada penutupan perdagangan Selasa (21/7/2026), IHSG berada di level 6.340. Indeks menguat 108,24 poin atau 1,74 persen dari penutupan perdagangan Senin (20/7/2026).
Berdasarkan laporan RTI Infokom, investor melakukan transaksi hingga Rp 21,50 triliun dengan 51,06 miliar saham yang diperdagangkan. Sebanyak 421 saham menguat, 205 saham terkoreksi, dan 169 saham stagnan.
Para investor asing ramai-ramai membeli saham Indonesia. Hal ini terlihat dari pembelian bersih (net buy) investor asing pada 16-20 Juli yang mencapai Rp 1,96 triliun. Nilai ini menghapus hampir separuh tekanan jual yang terjadi pada 1-15 Juli yang mencapai Rp 3,97 triliun.
Secara rinci, investor asing membukukan net buy Rp 1,22 triliun pada 16 Juli, Rp 638,05 miliar pada 17 Juli, dan Rp 96,72 miliar pada 20 Juli. Meski nilai pembeliannya menurun, konsistensi pembelian selama tiga hari berturut-turut menjadi sinyal awal membaiknya kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia.
Peningkatan minat investor asing juga tercermin dari aktivitas perdagangan. Rata-rata volume transaksi pada 16-20 Juli mencapai 26,95 miliar saham per hari, meningkat 25,4 persen dibandingkan rata-rata 21,49 miliar saham per hari pada 1-15 Juli. Sementara rata-rata nilai transaksi melonjak 38,8 persen menjadi Rp 15,59 triliun per hari.
Baca juga : Pangkalannya Dirudal Iran, 100 Tentara AS Luka-luka
Untuk nilai tukar rupiah, juga sudah mulai membaik. Namun, belum jauh dari angka Rp 17.900 per dolar AS.
Dalam penutupan perdagangan Selasa (21/7/2026), rupiah berada di level Rp 17.888 per dolar AS. Angka ini menguat 60 poin atau 0,33 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang sebesar Rp 17.948 per dolar AS. Dengan peningkatan ini, rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa lega dengan kondisi pasar ini. Ia menerangkan, penurunan kinerja IHSG sebelumnya terjadi imbas rumor penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings. Rumor tersebut memicu sentimen negatif di pasar saham domestik. “Itu yang menarik ke bawah pasar saham secara tajam di awal Juli tahun ini,” ucapnya, dalam konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Hasilnya, rumor itu tak terbukti. Dalam laporan terbaru, S&P justru mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Dengan kondisi ini, pasar saham pun bangkit.
Purbaya curiga, ada oknum yang sengaja ingin menjatuhkan IHSG. "Ternyata, emang banyak permainan rumor yang nggak jelas, yang ditiupkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab," sesalnya.
Ia menambahkan, keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia menunjukkan bahwa kinerja Pemerintah bergerak ke arah yang positif. Purbaya mengklaim, kebijakan Pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan fiskal.
Baca juga : Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Batu Bara, Polisi Komit Bertindak Tanpa Pandang Bulu
“Artinya memang mereka melihat ke yang dikerjakan oleh Pemerintah. Semuanya bergerak ke arah yang benar dengan dampak ke pertumbuhan yang kuat tanpa mengabaikan kehati-hatian pelaksanaan kebijakan fiskal," ucapnya.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, minat investor asing yang mulai kembali masuk ke saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sinyal positif. Namun, pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus ke kondisi fundamental ekonomi dan kinerja emiten.
"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," ujar Rully, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, tantangan utama pasar pada semester II-2026 masih berasal dari kebijakan moneter global. Ia memprediksi, Bank Sentral AS, The Fed, akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026. Kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) diperkirakan masih berlanjut.
"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," ulas Rully.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, penguatan pasar keuangan Indonesia dalam sepekan terakhir merupakan perkembangan yang sangat positif.
Baca juga : 18 Bulan Selesaikan 110 Masalah, Presiden: Ojo Dumeh
Menurut Fakhrul, perbaikan sentimen yang terjadi didukung oleh meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Termasuk setelah keputusan S&P mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level investment grade BBB dengan outlook stabil. Namun, stabilisasi pasar dalam jangka pendek tidak boleh diartikan bahwa seluruh tantangan eksternal telah selesai.
"Kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar. Karena itu, momentum positif ini justru perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel," saran Fakhrul, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Selasa (21/7/2026)
Ia memperkirakan, Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal sekitar 11 miliar dolar AS hingga akhir tahun untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam konteks tersebut, BI masih perlu memberikan daya tarik aset keuangan domestik melalui langkah kebijakan yang konsisten. MEN/UMM
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya