RM.id Rakyat Merdeka - Banjir bandang dan longsor dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China (Tibet), Rabu (26/8/2026). Data sementara menunjukkan, 168 orang meninggal dunia, dan lebih dari 1.300 orang dinyatakan hilang. Bencana dahsyat ini juga menyebabkan rumah-rumah dan jembatan hancur.
Banjir dan longsor ini menghantam desa dan kota di jalur dua sungai, Bhote Koshi dan Trishuli, sepanjang 170 km. Suara gemuruh air dan lumpur yang menghantam begitu keras, seperti tsunami. Rumah, gedung, jembatan, serta pos lintas batas di wilayah Gyirong tersapu. Sebagian rata tertutup lumpur, yang tebalnya mencapai 1,5 meter.
Banjir juga menghancurkan 13 proyek pembangkit listrik tenaga air serta sekitar 40 kilometer ruas jalan. Wilayah terdampak ini merupakan rute populer Kathmandu-Lhasa.
Dalam laporan AFP, Kamis (27/8/2026), Otoritas Penanggulangan Risiko Bencana Nepal mencatat, korban di wilayahnya mencapai 165 jiwa dengan 826 orang hilang. Sementara, otoritas China mengonfirmasi 3 meninggal dunia dan 558 hilang di sisi Tibet.
Di antara korban hilang, terdapat ratusan turis asing, termasuk 300 warga India, 54 warga AS, 34 warga Australia, dan 33 warga Inggris. "Juga turis Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat," tulis Dewan Pariwisata Nepal, dalam siaran resminya.
Baca juga : Prabowo: NU Tentukan Masa Depan Bangsa
Perusahaan pendakian Himalayan Glacier menyebut, 47 orang dari sebuah kelompok pendakian, termasuk dua anak, hilang di Nepal. "Tim kami sedang memeriksa rumah sakit tempat para korban datang," kata direktur perusahaan tersebut, Sanket Pandey, seperti dilansir AFP, Kamis (27/8/2026).
Saat ini, ribuan tim penyelamat masih mengarungi lumpur dan endapan untuk mencari korban selamat. Pemerintah kedua negara mengerahkan ribuan pekerja darurat, helikopter, drone, perahu cepat, dan anjing pelacak.
Presiden China Xi Jinping menerangkan, pemerintahnya tengah fokus mencari korban yang hilang. "Tugas yang paling mendesak adalah melakukan segala upaya untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang," kata Jinping, seperti dikutip kantor berita Pemerintah China, Xinhua, Kamis (27/8/2026).
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah dalam sebuah pernyataan di media sosial amat berduka atas bencana ini. "Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil. Namun saya ingin meyakinkan bahwa Anda tidak sendirian di masa sulit ini, negara hadir dengan segala daya dan sumber daya yang ada," ucap Balendra, seperti dikutip AFP.
Bantuan internasional pun mulai berdatangan. Palang Merah Internasional (IFRC) menyalurkan dana darurat sebesar 1 juta franc Swiss dan mengirimkan pasokan darurat termasuk selimut, kotak P3K, tandu, hingga kantong jenazah. Pemerintah Amerika Serikat mengirim tim penasihat penanggulangan bencana beserta bantuan senilai 500.000 dolar AS. Uni Eropa dan WHO mengonfirmasi pengiriman tenda medis serta pasokan obat-obatan.
Baca juga : Muktamar ke-35 NU Akan Dibuka Presiden
Negara sahabat, India, mengirimkan 10 ton bantuan ke Nepal untuk membantu penanganan keadaan darurat. "Kami berduka cita kepada keluarga yang berduka dan semua yang terdampak. India berdiri bersama Nepal dan rakyatnya," kata Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar lewat unggahan di X sembari mengunggah foto-foto bantuan yang tengah dimuat ke pesawat.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, pihaknya mengerahkan bantuan personel untuk mendukung upaya penanganan pascabencana. "Saya sedih atas banjir di Nepal dan China yang telah merenggut banyak nyawa, menyebabkan orang-orang hilang, dan menimbulkan kehancuran luas," kata Guterres, di platform X, seperti dikutip Anadolu.
Menurut Survei Geologi AS dan berdasarkan penyelidikan awal ilmuwan lewat citra satelit, penyebab banjir bandang dahsyat ini karena longsoran es dan batu dari gletser di ketinggian Tibet. Longsoran ini membendung Sungai Lhende sebelum akhirnya jebol dan memicu banjir dahsyat ke Sungai Bhote Koshi. Longsoran es juga memicu getaran setara gempa bermagnitudo 5,2.
Banjir di wilayah ini bukan kali pertama terjadi. Banjir besar di Nepal paling mematikan terjadi pada 1993 di Kawasan Kulekhani yang menewaskan 1.336 orang akibat fenomena cloudburst atau curah hujan ekstrem mendadak. Sebelumnya, banjir juga menghantam lembah Kathmandu pada September 2024 disebabkan hujan ekstrem tertinggi, memicu 132 titik tanah longsor, menewaskan sedikitnya 236 orang, dan merusak 22 pembangkit listrik tenaga air.
45 WNI Selamat
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memantau kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) di dua negara. KBRI Dhaka dan KBRI Beijing terus memantau kondisi WNI melalui koordinasi dengan jejaring komunitas WNI serta Konhor RI di Kathmandu.
Baca juga : Prabowo Tancap Gas Selesaikan Bencana
"Hingga saat ini, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak dari sekitar 45 WNI di Nepal, yang mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan," kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah dalam pernyataan resminya, Kamis (27/8/2026).
Untuk mendukung pemantauan dan perlindungan, KBRI Dhaka mengimbau agen perjalanan yang membawa WNI ke Nepal agar segera memberikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi para wisatawan.
KBRI Beijing dan KBRI Dhaka juga meminta seluruh WNI waspada selama berada di Nepal. WNI diminta mengikuti arahan otoritas setempat dan menghindari wilayah yang terdampak banjir.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.