Dark/Light Mode

Sampah Bekasi Diubah Jadi Energi

Zulhas: Jalankan Solusi Pilah Dari Hulu Olah Di Hilir

Kamis, 27 Agustus 2026 07:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memberikan sambutan saat menghadiri Apel Gebrak Pilah Sampah dan groundbreaking proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. KEMENKO PANGAN
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memberikan sambutan saat menghadiri Apel Gebrak Pilah Sampah dan groundbreaking proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. KEMENKO PANGAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menjalankan strategi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir untuk mengatasi krisis sampah di Kota Bekasi, Jawa Barat. Mulai dari gerakan memilah sampah dari rumah hingga pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang mengubah sampah menjadi energi.

Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengatakan, persoalan sampah di Bekasi harus segera ditangani secara masif dan modern. Timbulan sampah di Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan telah masuk kategori darurat sampah.

“Bekasi baru-baru ini menjadi perhatian dunia karena cemaran gas metan dari TPA-TPA di sekitar Bantargebang. Kita harus segera menyelesaikan persoalan ini. Kita koordinasikan agar semua bergerak cepat, tidak boleh lagi masyarakat hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola,” ujar Zulhas-sapaan Zulkifli Hasa saat menghadiri Apel Gerak Pilah Sampah dan groundbreaking PSEL Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026).

Sebelum groundbreaking PSEL, Pemerintah menggelar Apel Gerak Pilah Sampah Kota Bekasi yang diikuti lebih dari 2.000 orang. Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Gerakan serupa sebelumnya telah dilakukan di Bandung Raya sekitar satu bulan lalu dengan melibatkan sekitar 4.000 peserta.

Zulhas mengatakan, pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap pengelolaan sampah.

“Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya. Kalau pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang,” katanya.

Baca juga : Stella: Riset Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Menurut dia, pemilahan dari rumah menjadi bagian penting karena Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir.

Olah 1.500 Ton Sampah per Hari

Di sisi hilir, Pemerintah memulai pembangunan PSEL Kota Bekasi sebagai salah satu solusi untuk mempercepat penanganan kedaruratan sampah perkotaan melalui teknologi Waste to Energy. PSEL Bekasi ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari atau sekitar 70 persen dari timbulan sampah Kota Bekasi.

Zulhas mengatakan, pengolahan tersebut juga diproyeksikan menurunkan emisi dari TPA hingga 80 persen, sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Selain itu, pengolahan sampah juga akan menurunkan emisi dari TPA sebesar 80 persen dan menciptakan 1.000 lapangan kerja.

“Jadi PSEL Bekasi ini mendatangkan empat manfaat yaitu pengelolaan sampah, menghasilkan energi hijau, mengurangi emisi, dan menggerakkan ekonomi lokal,” tegas Zulhas.

Groundbreaking PSEL Bekasi merupakan bagian dari percepatan pembangunan PSEL secara nasional. Pada Juli 2026, Pemerintah telah memulai pembangunan PSEL Bali dan Legoknangka, Jawa Barat.

Baca juga : Gerindra Kawal Terus Pemerintahan Prabowo

Setelah Bekasi, pembangunan akan dilanjutkan dengan PSEL Bogor Raya-1. Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan 13 lokasi PSEL baru, termasuk PSEL Kota Palembang yang diharapkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

Meski demikian, Zulhas menegaskan, PSEL bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan sampah nasional.

Jika seluruh PSEL tersebut beroperasi, kapasitas pengolahannya baru mampu menangani sekitar 22,5 persen dari total timbulan sampah. Karena itu, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, dan pemanfaatan berbagai teknologi pengolahan tetap menjadi bagian penting strategi nasional.

Pirolisis Olah Sampah Lama

Pemerintah juga menyiapkan teknologi pirolisis untuk menangani timbunan sampah lama yang sudah berada di TPA.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengapresiasi dukungan TNI Angkatan Darat dalam pengembangan teknologi tersebut melalui proyek percontohan di lima lokasi. Teknologi pirolisis dapat mengolah timbunan sampah lama menjadi sumber energi baru berupa Bahan Bakar Minyak (BBM) terbarukan yang setara dengan solar. Jika diterapkan secara nasional, teknologi pirolisis berpotensi mengurangi sekitar 20 persen timbulan sampah.

Dengan demikian, penanganan sampah dilakukan melalui dua pendekatan. Sampah baru diolah melalui PSEL, sementara timbunan sampah lama di TPA ditangani menggunakan teknologi pirolisis.

Baca juga : Gubernur-Wagub Gorontalo Dipastikan Kompak & Mesra

Pemulung Dilibatkan

Di tengah perubahan sistem pengelolaan sampah, Pemerintah memastikan keberadaan PSEL tidak akan menghilangkan mata pencaharian pemulung.

Zulhas mengatakan, tidak seluruh sampah dapat diolah melalui PSEL sehingga pemulung tetap memiliki ruang untuk menjalankan aktivitasnya. Bahkan, keberadaan PSEL diproyeksikan membuka peluang pekerjaan baru.

“Pemulung tidak usah resah. Tetap bisa memulung sampah yang ada karena tidak semua sampah bisa diselesaikan dengan PSEL. Kemudian kalau PSEL sudah berjalan, pasti akan membutuhkan banyak tenaga kerja. Ini bisa menjadi lahan baru bagi para pemulung,” ujar Zulhas.

Ketua Asosiasi Pemulung Indonesia Pris Polly menyambut positif penjelasan tersebut. Sebelumnya, para pemulung sempat khawatir keberadaan PSEL akan menghilangkan sumber penghasilan mereka.

“Awalnya kami resah karena takut mata pencaharian pemulung akan hilang dengan hadirnya PSEL. Tapi tadi Pak Menko sudah menjelaskan pemulung tetap dapat mengolah sampah yang ada dan bahkan bisa dilibatkan dalam proses pemilahan PSEL. Sekarang saya bisa keluar dengan tersenyum,” kata Pris. BCG

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 4, edisi Kamis, 27 Agustus 2026 dengan judul "Sampah Bekasi Diubah Jadi Energi Zulhas: Jalankan Solusi Pilah Dari Hulu Olah Di Hilir"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.