RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) mulai mengirim para diplomatnya kembali ke kedutaan besar dan kantor konsulernya di Timur Tengah (Timteng). Langkah ini mengisyaratkan, perang AS dengan Iran mulai adem.
Keputusan untuk menempatkan kembali para diplomat di kawasan Timteng juga mengakhiri masa ketidakpastian yang telah berlangsung selama berbulan-bulan bagi staf kantor perwakilan AS.
Kembalinya para diplomat AS dan pencabutan sejumlah langkah darurat yang diberlakukan di kantor-kantor perwakilan AS di Timteng dapat dimulai pekan ini, berdasarkan dokumen internal Departemen Luar Negeri (Deplu) AS yang diperoleh The New York Times yang dirilis, Rabu (26/8/2026).
Dikutip dari Arab News, Kamis (27/8/2026), Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengatakan, Washington DC tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Baca juga : Agnez Mo, Dapat Kado Tiga Kerambit
Rubio menyebut, Washington justru akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Sebelumnya, perang melawan Iran yang dimulai 28 Februari lalu memicu pemulangan besar-besaran diplomat dan keluarga mereka dari Timteng.
Para diplomat yang ditugaskan di sejumlah negara tersebut bekerja dari rumah, sebagai langkah pencegahan.
Pejabat Departemen Luar Negeri AS baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat mengatakan, pengerahan kembali staf menandakan meredanya ketegangan. Hal itu terjadi meski perundingan antara AS dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari yang berakhir pekan lalu, masih menemui jalan buntu.
Baca juga : Muktamar ke-35 NU Akan Dibuka Presiden
“Pengembalian personel ke perwakilan diplomatik yang sebelumnya sebagian dievakuasi menunjukkan pemerintahan yakin perang mulai mereda,” kata Dan Shapiro, yang pernah menjabat Duta Besar AS untuk Israel pada era pemerintahan Barack Obama dan pejabat Departemen Pertahanan yang menangani Timteng pada pemerintahan Joe Biden.
Dokumen Deplu tersebut menyebutkan, diplomat pertama yang akan kembali bertugas adalah mereka yang berada di Kedutaan Besar AS di Lebanon. Namun, jumlah staf di kedutaan tersebut belum akan kembali sepenuhnya seperti sebelum evakuasi.
Pada akhirnya, menurut dokumen tersebut, seluruh staf akan kembali ke tiga kedutaan adalah Israel, Yordania dan Oman. Sementara, jumlah staf di perwakilan AS di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar dan Lebanon pada tahap awal akan dibatasi hingga 85 persen. Adapun di Irak, Kuwait dan Bahrain, jumlah staf dibatasi hingga 75 persen.
Di enam negara Teluk dan Lebanon, Departemen Luar Negeri AS juga akan memberlakukan pembatasan terhadap staf yang ingin membawa anggota keluarga mereka, menurut dokumen tersebut.
Baca juga : Prabowo Tancap Gas Selesaikan Bencana
“Pembatasan terhadap anggota keluarga di kawasan Teluk menunjukkan pemerintah masih menilai terdapat risiko yang lebih tinggi,” kata John R. Bass, mantan Wakil Menlu AS untuk Manajemen pada pemerintahan Joe Biden.
“Ini menunjukkan tingkat ancaman sekarang lebih rendah dibandingkan 30, 60 atau 90 hari lalu. Namun masih lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai,” imbuhnya.
Dua pejabat AS mengatakan, sejumlah diplomat yang dievakuasi akibat perang sebelumnya meminta kepastian mengenai lokasi penempatan mereka. Hal ini terutama dilakukan diplomat yang memiliki anak dan perlu menentukan sekolah menjelang dimulainya tahun ajaran baru.
Namun, belum jelas sejauh mana desakan tersebut mempengaruhi keputusan pemerintah, jika memang ada pengaruhnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.