Sebelumnya
“Lebih banyak negara Timur Tengah kini mengevaluasi kembali strategi keamanan mereka dan berupaya lebih mengandalkan diri sendiri untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional,” ujar Sun kepada Global Times.
Menurutnya, mereka juga ingin memiliki peran lebih besar dalam menentukan arsitektur keamanan kawasan yang sesuai dengan kepentingan sendiri.
Dari Gurun Jadi Industri
Tak hanya bicara soal keamanan, Xi juga membawa agenda ekonomi dan pembangunan dalam kunjungannya ke Mesir.
Kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di bidang energi hijau, kendaraan listrik, kedirgantaraan, ekonomi digital, serta teknologi pertanian modern.
Menurut Xinhua, China dan Mesir menandatangani lebih dari 20 dokumen kerja sama yang mencakup ekonomi digital, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, hingga transportasi.
Baca juga : Stabilitas Ekonomi Jadi Fondasi Jaga Investasi
Xi juga mendorong perusahaan-perusahaan China untuk meningkatkan kerja sama dalam lokalisasi industri. China juga mendukung transformasi digital dan pembangunan berkelanjutan Mesir.
Li Weijian, peneliti Shanghai Institutes for International Studies sekaligus Wakil Presiden Chinese Association for Middle Eastern Studies mengatakan, Mesir telah merasakan manfaat nyata dari kerja sama yang konsisten dan pragmatis dengan China.
“Jika dibandingkan dengan satu dekade lalu, negara-negara di Timur Tengah telah membangun konsensus yang lebih kuat mengenai pentingnya pembangunan, kerja sama, dan modernisasi,” kata Li.
Menurutnya, kerja sama China-Mesir kini bergerak menuju model yang lebih beragam, berbasis teknologi, dan berorientasi masa depan. Seperti energi hijau, kendaraan listrik, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga teknologi pertanian modern.
Dengan posisi Mesir yang strategis di dunia Arab dan Afrika, kerja sama tersebut juga berpotensi memberikan dampak lebih luas bagi kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Baca juga : Syahrini, Belajar Jadi Istri Mandiri
Dampak kerja sama China-Mesir bukan hanya terlihat di atas meja perundingan. Di lapangan, jurnalis Global Times menyaksikan langsung perkembangan tersebut di Kairo.
Dari Pelabuhan Sokhna di tepi Laut Merah, jalur pelayaran yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa terus bergerak.
Kapal-kapal kargo keluar masuk pelabuhan, sementara kontainer dimuat dan dibongkar.
Tak jauh dari kawasan pelabuhan, berdiri pabrik, fasilitas produksi, serta berbagai layanan pendukung di China-Egypt TEDA Suez Economic and Trade Cooperation Zone.
Setelah bertahun-tahun dikembangkan, lahan yang sebelumnya tandus kini berubah menjadi salah satu contoh kerja sama industri China-Mesir.
Baca juga : Tak Naikkan Tarif Listrik & BBM Subsidi, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Bagi masyarakat Mesir, perubahan itu tidak sekadar mengubah wajah kawasan. Semakin banyak anak muda mendapatkan pekerjaan, membangun karier, sekaligus mengejar mimpi profesional mereka.
Dari pembangunan infrastruktur hingga teknologi tinggi, China dan Mesir kini berusaha memperluas kerja sama ke berbagai sektor. Di saat yang sama, Beijing ingin menunjukkan bahwa stabilitas Timur Tengah tidak semata-mata soal senjata dan kekuatan militer, tetapi juga pembangunan ekonomi dan kemandirian negara-negara kawasan. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Jumat, 4 September 2026 dengan judul "Tawarkan Arsitektur Keamanan Baru Ke Mesir Xi Rayu Timur Tengah Lepas Dari Bayang-bayang Barat"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.