BREAKING NEWS
 

Trump Tolak Bantu Serang Houthi, Saudi Gigit Jari

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Minggu, 13 September 2026 07:30 WIB
Presiden AS Donald Trump berbincang dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) di Gedung Putih, Selasa (18/11/2025) lalu. (Foto: Evelyn Hockstein/Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Arab Saudi kembali meminta bantuan Amerika Serikat (AS) untuk menghadapi kelompok Houthi di Yaman. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Saudi untuk menyerang Houthi. Saudi pun gigit jari.

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dikabarkan menghubungi Trump melalui sambungan telepon sebanyak dua kali pada Kamis (10/9/2026). Dalam kontak pertama, MBS menyampaikan kemunduran pasukan Yaman yang menjadi sekutu Riyadh.

Beberapa jam kemudian, dalam pembicaraan kedua, MBS kabarnya mendesak Trump melakukan intervensi militer langsung terhadap kelompok Houthi di Yaman. Namun, Trump dikabarkan menolak permintaan tersebut.

Dilansir Reuters, Jumat (11/9/2026), berdasarkan laporan terbaru media Amerika Serikat Axios, dua pejabat AS menyatakan pemerintahan Trump tidak berniat melakukan aksi militer langsung terhadap Houthi untuk saat ini.

Baca juga : Tuntaskan Kasus Gratifikasi, KPK Geledah Rumah 3 Wakil Rektor Unsoed

Menurut Axios, Pemerintah AS memang semakin khawatir dengan konflik yang kembali memanas di Yaman. Arab Saudi sebagai sekutu Washington ikut terseret dalam eskalasi tersebut. Namun, AS berupaya menghindari keterlibatan militer secara langsung agar tidak membuka front pertempuran baru di kawasan.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, bahkan berangkat ke Saudi pada Kamis (10/9/2026) untuk melakukan pembicaraan koordinasi secara mendesak. Dalam pertemuan tersebut, pejabat militer dan sipil AS menyampaikan kepada mitra mereka di Saudi bahwa arahan Trump adalah militer AS tetap fokus pada Iran dan pengamanan Selat Hormuz.

Washington juga ingin menghindari munculnya front pertempuran militer lainnya.

Meski menolak intervensi militer, Gedung Putih menyetujui pemberian bantuan nonkinetik. AS mengizinkan transfer informasi intelijen dan data penargetan yang dapat digunakan untuk membantu pasukan Saudi.

Baca juga : Pemilihan Ketum PBNU Lebih Sejuk & Bermartabat

Berbagi informasi tersebut melengkapi sekitar 200 personel militer AS yang telah ditempatkan di Saudi untuk menjalankan tugas sebagai penasihat dan penghubung.

Hingga berita ini ditulis, Gedung Putih dan Kedutaan Besar Saudi di Washington DC belum memberikan tanggapan atas laporan Axios.

Saudi sebenarnya telah berupaya menghadapi ancaman Houthi melalui kerja sama internasional. Laporan Reuters pada awal Juli lalu menyebutkan, Saudi berusaha membentuk koalisi internasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi.

Konflik Yaman kembali memanas setelah situasi sempat relatif tenang selama beberapa tahun terakhir. Eskalasi terbaru bermula pada awal Juli. Saat itu, Houthi mengklaim pasukannya berhadapan dengan pesawat tempur Saudi yang berupaya mencegah pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa.

Baca juga : Bantah Kabar Hubungannya Retak, Farhan Masih Kasih Tugas Ke Wakilnya

Sejak itu, Houthi kembali menyerang pasukan Pemerintah Yaman yang didukung internasional. Kelompok yang didukung Iran tersebut juga mulai menyerang wilayah Saudi.

Adsense

Houthi bahkan mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi dan kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense