Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 7 Poin Penjelasan BMKG Soal Gempa Kepulauan Seribu, Tak Berpotensi Tsunami
- Gempa M5,9 Guncang Kepulauan Seribu Jakarta, Getaran Terasa Hingga Mentawai
- Sunderland Vs Arsenal, The Gunners Siap Buru Kemenangan Keempat
- US Open 2026, Sabalenka Dihadang Rybakina
- Muenchen, MU dan Como Pesta Gol di Liga Champions 2026/27
3 Gunung Masih Erupsi
Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Tak Terdeteksi Lagi
Sabtu, 12 September 2026 08:31 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Aktivitas vulkanik masih menggeliat di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Jumat (11/9/2026), tiga gunung api tercatat mengalami erupsi. Ketiganya yakni Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu. Untuk abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, kini tak lagi terdeteksi.
Berdasarkan laporan Magma Indonesia dan Badan Geologi, erupsi di tiga gunung tersebut terjadi pada waktu berbeda, dengan durasi mulai 41 detik hingga lebih dari tiga menit.
Di Maluku Utara, Gunung Ibu tercatat mengalami dua kali erupsi pada pagi hari. Letusan pertama terjadi pukul 00.49 WIT dan kedua pukul 08.56 WIT. Ketinggian semburan abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 1.725 meter di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut," demikian laporan pengamatan Badan Geologi, Jumat (11/9/2026).
Aktivitas serupa terjadi di Gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada pagi hari, dua erupsi tercatat masing-masing pukul 07.09 WITA dan 08.02 WITA.
Baca juga : Subsidi Makin Berat, Tapi APBN Terkendali
Aktivitas Gunung Ili Lewotolok sebenarnya sudah terjadi sejak dini hari. Tiga erupsi tercatat masing-masing pukul 00.57 WITA, 02.08 WITA dan 02.21 WITA. Dari rangkaian erupsi tersebut, kolom abu tertinggi mencapai sekitar 600 meter di atas puncak. Bahkan, hingga kini geliat Gunung Ili Lewotolok masih menghantui warga sekitar.
“Dentuman kuat masih menyertai aktivitas erupsi dan menimbulkan getaran yang terasa di bangunan sekitar pos," tulis Badan Geologi Kementerian ESDM melalui akun media sosial Threads, Jumat (11/9/2026).
Di Jawa Timur, Gunung Semeru juga masih aktif. Empat erupsi tercatat sejak dini hari hingga pagi. Erupsi pertama terjadi pukul 00.26 WIB. Aktivitas kembali tercatat pada pukul 04.27 WIB, 05.05 WIB dan 06.16 WIB. Meski visual letusan tidak teramati, erupsi terakhir pukul 06.16 WIB terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama 187 detik.
Di tengah aktivitas tiga gunung tersebut, Gunung Anak Krakatau juga masih dalam pemantauan ketat. Badan Geologi menetapkan statusnya tetap Level III atau Siaga.
Berdasarkan evaluasi hingga 11 September pukul 06.00 WIB, tercatat satu gempa erupsi, 21 gempa ringan, 13 gempa hybrid atau fase banyak, 28 gempa vulkanik dangkal, 18 gempa vulkanik dalam serta tremor menerus. Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah itu, aktivitas berubah menjadi erupsi Strombolian episodic atau mode erupsi ringan.
Baca juga : Prabowo Pidato di HUT Demokrat: Demokrasi Banyak Warna, Tapi Rukun
Hingga Jumat (11/9/2026), tercatat sudah terjadi 14 kali erupsi Strombolian. Namun, sebaran abu vulkanik tidak lagi semasif sebelumnya, yang terbawa angin ke wilayah Jabodetabek.
"Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi siang ini," kata Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, Jumat (11/9/2026).
Meski sebaran abu mereda, kondisi Anak Krakatau belum sepenuhnya aman. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, status gunung api tersebut masih Level III atau Siaga karena probabilitas terjadinya letusan lanjutan masih tinggi.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, penetapan status tersebut mengacu pada analisis Badan Geologi terhadap perkembangan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
"Berdasarkan perkembangan aktivitas tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga). Probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya dinilai masih tinggi," kata Berton, di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Baca juga : Setelah Ratusan Siswa & Guru Keracunan MBG, Pati Tetapkan Status Kejadian Luar Biasa
Menurut Berton, meski periode erupsi menerus selama sekitar 25 jam telah berakhir, Anak Krakatau kini memasuki fase erupsi Strombolian episodik. Dari evaluasi kegempaan, gempa Vulkanik Dangkal memang terpantau menurun. Namun, gempa Vulkanik Dalam justru meningkat. Kondisi tersebut mengindikasikan masih berlangsungnya suplai magma dari kedalaman.
Ancaman yang masih perlu diwaspadai berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika erupsi menerus kembali terjadi, potensi aliran lava juga tetap ada.
Karena itu, BNPB mengingatkan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki, untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Anak Krakatau.
BNPB juga meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap tenang dan beraktivitas normal. BNPB meminta warga tidak mempercayai isu tsunami yang dikaitkan dengan aktivitas Anak Krakatau jika informasi tersebut tidak berasal dari kanal resmi Pemerintah. BYU/FAQ
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya