RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak tawaran bersyarat dari Iran soal perdamaian dan pembukaan Selat Hormuz dalam tujuh hari. Trump justru mengklaim, militer AS masih mengendalikan Selat Hormuz hingga saat ini. Kondisi ini membuat harga minyak dunia semakin melejit.
Trump menuding, Iran sengaja buru-buru ingin berdamai karena berada di posisi yang terdesak. "Mereka berada di ambang kekalahan besar," ujar Trump, di Gedung Putih, seperti dikutip BBC, Minggu (27/9/2026).
Ia menyatakan, AS tegas menolak tawaran itu. Trump pun mengklaim, AS sudah memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur perdagangan global yang selama ini ditutup gara-gara perang.
"Kami memegang kendali penuh. Minyak dalam jumlah besar keluar dari Selat Hormuz, tadi malam. Ada 29 kapal yang melintas keluar," klaimnya.
Trump melanjutkan, sebenarnya AS tak mempermasalahkan jika Iran hendak mengusulkan kesepakatan damai. Namun, baginya, penawaran kali ini sudah tidak relevan.
Baca juga : Bestari Barus: Pengaruh Jokowi Di PSI Sangat Besar
"Saya juga senang membuat kesepakatan, tetapi kesepakatan itu tidak akan bisa diterima," sambung Trump.
Meski menolak, Trump mengindikasikan pintu negosiasi belum sepenuhnya tertututp. "Saya memperkirakan para negosiator Amerika Serikat akan tetap terlibat dalam pembicaraan lanjutan pekan ini," tuturnya.
Sebelumnya, tawaran pembukaan Selat Hormuz dari Iran disampaikan melalui proposal nota kesepahaman (MoU) yang disampaikan melalui perantaraan Qatar dalam pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, pekan lalu.
Dalam poin penawaran itu, Iran berjanji akan membuka Selat Hormuz dalam tujuh hari begitu AS menyetujui persyaratan yang diajukan. Jika Trump menyetujui, selama sepekan, AS dan Iran akan melakukan sejumlah langkah sebelum Selat Hormuz benar-benar dibuka.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan, berdasarkan proposal itu, AS perlu melakukan langkah kurang lebih empat atau lima hari. Di hari keenam, Selat Hormuz akan dibuka. "Dan pada hari ketujuh, pembicaraan dengan AS akan dimulai untuk membahas kesepakatan final," kata Araghchi, Jumat (25/9/2026).
Baca juga : Adi Prayitno: Tantangan Utama PSI Adalah Mesin Politik
Langkah-langkah yang perlu diambil AS sebenarnya tak jauh beda dengan MoU yang ditandatangani Juni lalu. Seperti jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz selama 60 hari, perundingan perdamaian selama masa pembukaan selat, pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, ganti rugi biaya perang, otorisasi pelayaran Selat Hormuz di masa depan, dan pencabutan sanksi serta penghengtian blokade ekonomi.
Menanggapi penolakan Trump, Iran masih membuka jalur diplomasi. Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan, Teheran masih menunggu sikap resmi AS yang disampaikan mediator. "Solusi melalui perundingan dapat mengakhiri kebuntuan ini. Keputusan ada di tangan Trump," kata Araqchi, melalui media sosial X, Minggu (27/9/2026).
Meski membuka jalur perundingan, Araghchi menegaskan, Iran sangat siap menghadapi kemungkinan apa pun. Termasuk perang habis-habisan melawan AS.
"Kami sepenuhnya siap jika perang kembali berkecamuk, kami tetap teguh menghadapi agresi baru apa pun, bahkan jika itu berujung pada perang dahsyat yang menghancurkan," ucap Araghchi, dalam program Meet the Press, di NBC News, Minggu (27/9/2026).
Imbas penolakan damai Trump, harga minyak dunia kembali melonjak. Dalam laporan Reuters, Senin (28/9/2026), harga minyak mentah Brent naik 1,82 dolar AS atau 1,74 persen menjadi 106,31 dolar AS per barel pukul 22.02 GMT. Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate berada di posisi 93,62 dolar AS per barel, naik 1,14 dolar AS atau 1,23 persen.
Baca juga : Menlu Sugiono Suarakan Palestina Merdeka
Situasi di Selat Hormuz dan Timur Tengah pun tetap mencekam. Yang terbaru, seperti dilaporkan NBC News, 8 marinir AS dilaporkan terluka dalam serangan Iran di Selat Hormuz. Koresponden Fox News sebelumnya juga melaporkan, sebuah kapal yang dikontrak AS terkena amunisi Iran di dekat Selat Hormuz, 14 September 2026. Berdasarkan data Pentagon, jumlah total personel yang terluka sejak dimulainya agresi militer AS-Israel terhadap Iran mencapai 861 orang.
Dalam laporan The Washington Post, Jumat (25/9/2026), angkatan Laut AS menyatakan telah memvalidasi lonjakan jumlah tentara AS yang terluka dalam Perang Iran. Jumlah korban luka sebanyak 37 personel awal pekan ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 orang merupakan pelaut Angkatan Laut (Navy) dan delapan orang lain ialah Marinir.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.