RM.id Rakyat Merdeka - Diplomasi sebuah negara tidak hanya berlangsung di meja perundingan para pemimpin. Diplomasi juga hadir ketika mahasiswa Indonesia memperoleh pendampingan di negeri orang, ketika ijazah mereka mendapatkan pengakuan lintas negara, dan ketika anak-anak diaspora tetap memiliki kesempatan mengenal bahasa serta budaya tanah air.
Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan delegasi Indonesia yang mengikuti Global Digital Forum II 2026 dengan Wakil Duta Besar Republik Indonesia, Hartyo Harkomoyo beserta tim KBRI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Khoirul Rosyadi, Erna Herlina dan Ruth Yohannda L. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi delegasi untuk mengenal lebih dekat berbagai upaya perwakilan Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral, mendampingi warga negara, serta mengembangkan diplomasi pendidikan, kebudayaan, dan sumber daya manusia.
Salah satu capaian penting yang menjadi perhatian adalah pendampingan terhadap lebih dari 700 mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di 41 kota di Federasi Rusia, sebagaimana dipaparkan dalam materi layanan kemahasiswaan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow pada Oktober 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa tugas perwakilan Indonesia tidak hanya berpusat di ibu kota Rusia.
Baca juga : Gelar Resepsi Diplomatik Berwarna Nusantara
Mahasiswa Indonesia tersebar di berbagai wilayah, dengan kebutuhan yang berbeda, mulai dari urusan akademik dan administrasi hingga adaptasi sosial, pengembangan jejaring, serta persiapan karier. Dalam menjalankan peran tersebut, KBRI Moskow melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan tiga pilar pelayanan, yakni layanan administrasi akademik, fasilitasi kegiatan dan pengembangan mahasiswa, serta program penghargaan dan pembinaan pendidikan-kebudayaan.
Salah satu perkembangan penting hubungan bilateral adalah penandatanganan persetujuan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Federasi Rusia mengenai pengakuan timbal balik atas pendidikan, kualifikasi, dan gelar akademik pada 10 Desember 2025. Kesepakatan tersebut ditandatangani dalam rangkaian pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Brian Yuliarto dengan Menteri Sains dan Pendidikan Tinggi Federasi Rusia Valery Falkov.
Kerja sama ini memiliki arti strategis karena mendukung mobilitas akademik dan membuka peluang bagi pemegang kualifikasi pendidikan untuk melanjutkan studi maupun melakukan kegiatan profesional di kedua negara, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bagi mahasiswa Indonesia di Rusia, pengakuan kualifikasi bukan sekadar urusan administratif.
Baca juga : KBRI Riyadh Imbau WNI Tak Sebarkan Foto Lokasi Jatuhnya Rudal dan Drone
Kepastian mengenai pengakuan pendidikan menjadi salah satu faktor penting ketika mereka hendak melanjutkan studi, memasuki dunia kerja, atau kembali berkontribusi di Indonesia. KBRI Moskow juga memfasilitasi layanan surat keterangan lulus dan legalisasi dokumen akademik.
Pada 17 Agustus 2026, layanan tersebut diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan bursa kerja dalam rangka peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Dengan demikian, diplomasi pendidikan tidak berhenti pada keberangkatan mahasiswa ke luar negeri, tetapi turut memperhatikan perjalanan mereka hingga menyelesaikan pendidikan dan memasuki tahap profesional.
Upaya penting lainnya adalah pengembangan Rumah Nusantara, yang diresmikan pada 2 Mei 2025, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Rumah Nusantara menjadi ruang bagi diaspora, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan kebudayaan.
Baca juga : KBRI Riyadh: 2 WNI Korban Serangan Bandara Tinggalkan RS Di Hari Yang Sama
Melalui fasilitas tersebut, KBRI Moskow mengembangkan Kelas Akhir Pekan yang mencakup pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa Rusia, tari, serta kegiatan pendidikan dan keagamaan. Program sekolah musim panas juga diselenggarakan untuk membantu anak-anak diaspora belajar, berinteraksi, dan mempertahankan kedekatan dengan budaya Indonesia.
Rumah Nusantara sekaligus menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan apresiasi pendidikan, termasuk Ki Hajar Dewantara Award. Kehadiran ruang tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi kebudayaan tidak harus selalu berupa pertunjukan besar atau kegiatan seremonial. Pembelajaran bahasa, pertemuan keluarga diaspora, dan kegiatan anak-anak dapat menjadi sarana yang berkelanjutan untuk memperkuat identitas kebangsaan.
Diplomasi bahasa juga dikembangkan melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Pada 2025, program BIPA KBRI Moskow mencatat 149 pemelajar pada berbagai tingkat kemampuan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.