Sebelumnya
Larangan keluar rumah ini mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia. Cuma, penerapan PSBB di Indonesia, terlihat lebih ketat ketimbang Jepang.
Di Jepang, tidak ada denda bagi pelanggar protokol kesehatan atau yang menolak test PCR, sebagaimana yang terjadi di Jakarta.
Baca juga : Ayo Kita Jadi Masyarakat Tangguh Bencana
"Cuma ada mobil halo-halo doang. Ngomong dilarang berkumpul-dilarang berkumpul, segera bubar,” ceritanya.
Dengan 3M dan PSBB yang jauh lebih ketat dari Jepang, kenapa kurva Covid- 19 di Indonesia belum melandai?
Baca juga : Cegah Klaster Keluarga, Ikuti Protokol Kesehatan dengan Maksimal
Adam mengatakan, berdasarkan penelitian, ada 2 kemungkinan. Pertama, karena faktor jumlah minimal orang yang patuh protokol kesehatan masih belum dominan.
“Contoh masker, itu harus minimal 60-80 persen orang pakai masker kain. Baru nanti akan ada kemungkinan penurunan. Termasuk juga jaga jarak. Harus ada sekian persen orang melakukan itu,” jelasnya.
Baca juga : Sukseskan Pemilu Seretak Dengan 9 Hal Baru Di TPS
Kedua, kapasitas tes PCR yang masih minim. Hanya beberapa daerah yang sudah memadai. Di Indonesia, kata Adam, pernah menyentuh angka 38.500 tes per hari. Atau 1 per 1.000 orang per minggu di periode antara September atau Oktober. Tapi kini, jumlah tes terus turun.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.