Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Belakangan ini cukup banyak dibicarakan tentang beratnya beban kerja dokter di negara kita, termasuk juga para mahasiswa kedokteran dan peserta program pendidikan dokter spesialis.
Harus disadari bahwa memang beban kerja dokter yang langsung melayani pasien –dan petugas kesehatan lainnya- dimanapun juga di dunia ini cukup berat, dengan berbagai tantangan psikologis, mental emosional dan juga tantangan fisiknya.
Selain jam kerja yang panjang maka dokter tidak lepas dari tugas kerja jaga malam di Rumah Sakit yang kerap berlanjut dengan tugas di hari berikutnya.
Sebagai perbandingan situasi maka disampaikan hasil survey MEDSCAPE yang dilakukan di penghujung tahun 2024 ini. Mereka mensurvei lebih dari 9.000 dokter di Amerika Serikat, yang terdiri dari 29 jenis spesialisasi.
Sedikitnya ada lima temuan pada para dokter yang melayani pasien di Amerika Serikat ini, salah satu negara paling maju di dunia.
Pertama, hampir separuh (49 persen) dokter di Amerikla Serikat mengalami “burn-out”, yang menurut WHO definisinya adalah suatu kumpulan gejala /sindroma akibat stress berkepanjangan di tempat kerja yang tidak tertangani dengan baik, dalam hal ini tentu di rumah sakit, klinik dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Ada tiga karakteristik “burn-out” pada dokter dan petugas kesehatan di dunia ini, termasuk Amerika Serikat dan juga Indonesia tentunya.
Pertama, merasa kelelahan atau kelemahan energi. Kedua, secara mental merasa tertekan dengan pekerjaannya dan ketiga penurunan efikasi profesionalismenya. Karena angka di Amerika Serikat adalah 49 persen maka jurnal ilmiah negara itu menyebutkan bahwa kita harus memberi perhatian penting pada kenyataan bahwa separuh dokter di Amerika Serikat mengalami berbagai gejala dari stress berkepanjangan.
Baca juga : Cy-Tb, Generasi Baru Deteksi Tuberkulosis Laten
Temuan kedua survei MEDSCAPE di akhir 2024 ini menunjukkan bahwa satu dari lima dokter di Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka mengalami depresi.
Kita perlu tahu bahwa situasi "burn-out" relatif dapat ditangani dengan perbaikan suasana dan lingkungan kerja, sementara depresi–kalau benar ada- akan membutuhkan penanganan medik yang lebih menyeluruh dan mungkin dengan konsumsi obat tertentu.
Perlu pula digarisbawahi bahwa situasi “burn-out” yang terus tidak tertangani akan dapat mencetuskan terjadinya depresi dengan segala akibatnya.
Artinya, penentu kebijakan perlu menangani “burn-out" dengan baik sehingga pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat tetap berjalan dengan baik, sesuai standar mutu yang layak.
Tentu tidak baik kalau bersilang pendapat satu dengan lainnya, sementara yang terkena dampaknya adalah petugas kesehatan yang beraktifitas langsung di lapangan setiap harinya.
Temuan ketiga di Amerika Serikat ini menunjukkan bahwa “burn-out” lebih sering terjadi poada dokter perempuan dibandingkan dokter laki-laki.
Sementara itu temuan keempat menunjukkan bahwa dokter yang bekerja di garda terdepan menghadapi pasien (front-line physicians) lebih banyak mengalami “burn-out”, suatu hal yang tentu dapat dimengerti. Juga ada perbedaan pada berbagai jenis spesialisasi.
Di Amerika Serikat maka jenis spesialisasi yang paling banyak mnelaporkan terjadi “burn-out” adalah Dokter Spesialis Emergensi /gawat darurat dengan angka 63 persen.
Baca juga : Banjir Dan Lima Penyakit Menular
Selain itu yang juga tinggi mengalami “burn-out” di Amerika Serikat adalah Dokter Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan, Dokter Spesialis Onkologi, Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga.
Di pihak lain, jenis spesialisasi di Amerika Serikat yang keadaan “burn-out” nya relatif lebih rendah, di bawah 40 persen adalah Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Spesialis Mata dan Dokter Spesialis Bedah Plastik.
Temuan kelima dari survai MEDSCAPE 2024 ini menunjukkan bahwa dokter di Amerika Serikat banyak mengeluhkan dan bahkan menyalahkan tugas-tugas birokrasi, kurangnya penghhargaan dari sesama teman kerja serta panjangnya atau lamanya jam kerja mereka.
Data dari Amerika Serikat ini juga menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen dokter yang mengaslami berbagai stress di atas yang kemudian berkonsultasi pada pakar yang profesional dibidang kesehatan jiwa.
Sebagian besar mencoba menanganinya sendiri saja. Data yang ada menunjukkan bahwa ada lima hal yang dilakukan oleh para dokter di Amerika Serikat ketika mengalami “burn-out”.
Pertama, mengatasinya dengan menjalankan waktu bersama keluarga dan teman, kedua adalah menjalankan hobi yang biasa dilakukan, ketiga adalah melakukan aktifitas fisik dan olahraga, keempat tidur yang cukup dan kelima dengan pola makan sehat.
Uraian di atas adalah apa yang terjadi pada dokter di Amerika Serikat sekarang ini. Ada banyak pula data serupa dari berbagai negara dan mungkin juga di negara kita, karena kenyataannya dokter melihat secara langsung di depan matanya pasien yang membaik dan mungkin juga memburuk.
Tentu dokter akan bahagia melihat pasiennya sembuh dan bugar, dan dokter juga akan sedih kalau melihat keadaan kesehatan pasiennya terus memburuk dan apalagi kalau meninggal dunia walaupun semua upaya yang mungkin dilakukan sudah dijalankan dengan baik.
Baca juga : Komunikasi Kantor Presiden Turki
Pekerjaan menjadi dokter untuk kesehatan merupakan tugas mulia. Harus disadari bahwa kerja sebagai dokter punya tantangan yang tinggi, baik fisik, psikologik, emosional dan sosial pula.
Suasana kerja dan suasana lingkungan yang baik, kehidupan pribadi dan keluarganya yang patut, serta dukungan kebijakan publik memang diperlukan bagi kinerja dokter dan petugas kesehatan lainnya, demi terwujudnya derajat kesehatan bangsa kita, kini dan di masa datang.
Prof Tjandra Yoga Aditama
Menjadi dokter sejak tahun 1980
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.