Dark/Light Mode

AMR, Dari "Silent" Ke "Grand"

Kamis, 21 November 2024 18:59 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari-hari ini perhatian masyarakat banyak tersedot untuk Pemilihan Kepala Daerah yang akan dilaksanakan di seluruh Nusantara.

Tidak banyak yang tahu bahwa sekarang ini 18 sampai 24 November 2024 adalah “Minggu Pemahaman Resistensi Antimikroba”, atau “World Antimicrobioal Resistance Awareness Week - WAAW” dengan berbagai kegiatannya di seluruh dunia.

Pada 21 November 2024 ini saya menjadi pembicara pada Seminar Sehari Kementerian Kesehatan dalam rangka peringatan “World Antimicrobioal Resistance Awareness Week”, dengan tema “Collaborative and Participatory Action in Tackling AMR”.

 

Prof Tjandra Yoga Aditama saat menjadi pembicara dalam salah satu panel bersama dengan perwakilan WHO serta Flemming Fund Inggris. (Foto: Istimewa)

 

Baca juga : Hari PPOK Sedunia & Check Up Gratis Pemerintah

Saya menjadi pembicara dalam satu panel bersama dengan perwakilan WHO serta Flemming Fund Inggris.

Resistensi antibiotika dan antimikroba ini sudah lama dibahas, tetapi tetap jadi masalah kesehatan masyarakat dunia kini, dan juga di Indonesia.

Karena jumlah korbannya jutaan orang di dunia, dan banyak yang tidak dikenal apakah meninggal karena penyakitnya atau karena resistensi obat, maka AMR disebut sebagai “Silent Pandemic” atau Pandemi Senyap.

Situasinya ternyata masih belum dapat dikendalikan, dan kini oleh Bank Dunia maka AMR disebut sebagai “Grand Pandemic”, sudah jadi Besar, tidak Senyap lagi.

Ada beberapa alasannya. AMR menimbulkan kematian sekitar lima juta orang di dunia setahunnya, angka ini lebih besar dari kematian akibat HIV/AIDS atau malaria.

Baca juga : Empat Target Penuntasan TB

Angka lima juta itu juga membuat AMR menjadi penyebab kematian ketiga di dunia.

Selain itu AMR juga berdampak pada setiap komunitas, setiap negara di dunia, tapi mereka dengan pendapatan rendah secara disproporsional ternyata berdampak lebih besar.

AMR juga tidak terbatas hanya pada satu atau dua patogen penyebab penyakit saja, tetapi meluas ke banyak berbagai jenis penyakit infeksi.

Bahkan, AMR ternyata punya dampak luas pada aspek sosial dan ekonomi pula.

Karena berbagai hal di atas maka Bank Dunia pada tahun ini meluncurkan berbagai program dan kegiatan, yang semuanya terangkum dalam dokumen “Stopping the Grand Pandemic: A Framework for Action Addressing Antimicrobial Resistance through World Bank Operations”.

Baca juga : Tata Cara Rapat WHO Dan Aturan Pandemi

Kita tentu mengharapkan bahwa akan ada pula kegiatan Bank Dunia untuk menanggulangi AMR di negara kita.

Dalam presentasi di Kementerian Kesehatan kali ini saya tegaskan bahwa pengendalian AMR di negara kita merupakan salah satu prasyarat penting untuk tercapainya derajat kesehatan di era Indonesia Emas kelak.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Mantan Kabalitbangkes
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.