BREAKING NEWS
 

Target dan Prioritas Kesehatan Dunia 2025

Rabu, 1 Januari 2025 07:37 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Kita kini memasuki hari-hari pertama tahun 2025. Tentu banyak harapan kita untuk tahun 2025 ini, termasuk bagi kesehatan kita, kesehatan bangsa, dan kesehatan dunia. Dalam hal ini, untuk 2025 organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) sedikitnya punya delapan proyeksi harapan yang akan dicapai bagi kesehatan dunia, yang terbagi dalam lima target dan tiga prioritas kesehatan. Tentu akan baik kalau kita di Indonesia juga punya target sesuai kebutuhan kita, yang perlu dilakukan secara maksimal di tahun 2025 ini.

Target pertama kesehatan dunia adalah adanya tambahan 1,5 miliar penduduk dunia yang di tahun 2025 menjadi lebih sehat dan sejahtera (better health and well-being). Ini tentu suatu target yang amat mulia dan amat perlu kita wujudkan juga di negara kita. Derajat kesehatan dan kesejahteraan merupakan komponen utama program kesehatan masyarakat, dan merupakan indikator utama yang perlu diperjiangkan.

Target yang kedua adalah bahwa WHO memproyeksikan di tahun 2025 akan ada tambahan  585 juta orang yang dapat dilayani dengan pelayanan kesehatan esensial dan tidak mengalami hambatan keuangan untuk mendapat pelayanan ini. Target ini sejalan dengan konsep dasar Universal Health Coverage (UHC) dan punya dimensi kesehatan yang luas, tidak semata-mata pencapaian cakupan jaminan kesehatan nasional oleh BPJS Kesehatan.  

Baca juga : Peningkatan Kasus Infeksi Pernapasan Di China, Pelajaran Bagi Indonesia

Proyeksi atau target WHO ketiga adalah bahwa di tahun 2025 ini akan ada tambahan 776,9 juta penduduk dunia yang terlindungi dari kegawat-daruratan kesehatan (health emergencies) seperti wabah besar dan pandemi.

Sejalan dengan itu, target WHO keempat adalah di tahun 2025 ini dapat menyelesaikan Aturan Dunia untuk mengendalikan pandemi, atau semacam Pandemic Agreement, agar dunia dapat lebih terlindungi dalam menghadapi kemungkinan pandemi di waktu mendatang. Saya sendiri pernah ikut menjadi anggota Delegasi Republik Indonesia (DELRI) dalam pembahasan Pandemic Agreement ini, dan memang sampai pembahasan putaran ketiga belas di akhir 2024 belum dicapai kesepakatan antar negara anggota WHO, dan bahkan negosiasi diplomatiknya masih terbilang alot. Kini di targetkan agar Pandemic Agreement ini dapat disepakati pada ajang pertemuan kesehatan dunia World Health Assembly pada Mei 2025, yang mudah-mudahan memang dapat tercapai.

Adsense

Kemudian, proyeksi atau target WHO kelima adalah sesuatu yang banyak dibicarakan di negara kita, yaitu tentang tengkes atau stunting. WHO menargetkan bahwa di tahun 2025 akan ada penurunan 40 persen stunting pada balita di dunia, dan kita perlu upaya amat keras agar tengkes/stunting di negara kita juga dapat diturunkan secara bermakna. 

Baca juga : Tingkat Stress Dokter Di Amerika Serikat

Selanjutnya, WHO juga mencanangkan tiga prioritas kesehatan lainnya pada 2025 ini. Prioritas pertama, adalah memprioritaskan investasi multi-sektoral dalam pengendalian penyakit tidak menular (PTM) dan kesehatan jiwa.

Prioritas kedua adalah mengintegrasikan pengendalian dan respon penyakit tidak menular (PTM) dan kesehatan jiwa dengan sistem anggaran masyarakat (public financing systems).

Kita dapat mengerti tentang prioritasi penanganan penyakit tidak menular (PTM) ini, setidaknya karena tiga hal. 1) angkanya terus meningkat dan bahkan sudah melebihi penyakit menular. 2) karena PTM berhubungan dengan gaya hidup yang sehari-hari dilakukan masyarakat dunia dan juga kita. 3) sudah ada berbagai program yang relatif lebih mudah dan jelas hasilnya, yang disebut best buy program, yang baiknya juga diimplementasikan di negara kita.

Baca juga : Cy-Tb, Generasi Baru Deteksi Tuberkulosis Laten

Prioritas ketiga adalah melakukan berbagai program untuk akselerasi pencapaian Universal Health Coverage (UHC). Harus diingat bahwa pelayanan kesehatan dalam UHC ini bukan hanya menjangkau semua, atau no one left behind, tetapi juga harus bermutu. Selain itu maka pelayanan kesehatan memang harus menyeluruh, dari promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Seperti disampaikan di atas, kajian ini berdasar target dan prioritas kesehatan dunia. Tentu kita mengharapkan akan ada target dan prioritas kesehatan juga untuk negara kita di awal 2025 ini, dengan pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat secara bersama--sesuai peran dan tanggung jawabnya--melakukan upaya maksimal untuk peningkatan derajat kesehatan bangsa kita. Semoga.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes, Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat, Penerima Rekor MURI April 2024 penulis artikel COVID-19 terbanyak

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense