Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Berkesempatan membuka kegiatan Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC) Alumni Day, bersama Wakil Dubes India, Bijay Selvaraj, mengingatkan saya pada manfaat kerja sama Indonesia-India. Di antaranya jejaring pelatihan TI di Makassar yang dirancang oleh insinyur India; petani Boyolali yang panennya melimpah berkat irigasi cerdas; serta startup Bandung yang merambah pasar global berkat investasi dari Mumbai. ITEC bukan hanya akronim, tapi adalah ekosistem kolaborasi yang mengubah hubungan bilateral menjadi mesin inovasi.
Dalam lima dekade terakhir, program ITEC telah melahirkan ribuan "duta pengetahuan" Indonesia-India. Ada dokter yang mengadopsi teknik bedah robotik, petugas kebencanaan yang menguasai sistem peringatan dini, hingga diplomat yang merancang kebijakan digital inklusif. Di era saat teknologi sering menjadi alat dominasi, ITEC justru membalik narasi: pengetahuan dibagikan tanpa syarat, krisis dijawab dengan solidaritas, dan kepercayaan dibangun melalui proyek-proyek yang membumi.
Bayangkan, seorang pemuda asal Lombok yang kini duduk di ruang kuliah Indian Institute of Technology (IIT) di Delhi. Atau juga seorang dokter dari Surabaya yang mempelajari teknik bedah mutakhir di Bangalore. Ini bukan sekadar mimpi, tapi realitas yang diwujudkan melalui program Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC) dan Indian Council for Cultural Relations (ICCR). Ini bukan program baru tapi sudah sejak 1964. ITEC menjadi jembatan pengetahuan yang menghubungkan India dengan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada 2022 saja, menurut ITEC Chronicle, lebih dari 100 profesional Indonesia dikirim ke India. Mereka mendapatkan pelatihan di bidang teknologi informasi, manajemen publik, hingga pertanian berkelanjutan. Mereka belajar di institusi bergengsi seperti Centre for Development of Advanced Computing (C-DAC), di Pune atau Indian Council of Agricultural Research (ICAR) di New Delhi. Hasilnya? Pulang dengan keahlian baru, mereka menjadi agen perubahan di Tanah Air.
Jika pendidikan adalah investasi jangka panjang, kolaborasi kesehatan adalah ujian nyata solidaritas. Pandemi Covid-19 menjadi momen ketika Indonesia dan India saling mengulurkan tangan. Di puncak gelombang Delta 2021, ketika Indonesia kesulitan akses vaksin, India mengirimkan 2 juta dosis vaksin melalui inisiatif Vaccine Maitri (Vaksin Persahabatan). Bantuan ini bukan sekadar tentang angka. Kolaborasi ini jelas menyelamatkan nyawa ribuan tenaga kesehatan dan lansia di pelosok Nusantara.
Baca juga : Prabowo Saksikan Serah Terima Kepemimpinan Kaukus ASEAN-ABAC dari RI ke Malaysia
Kerja sama kesehatan kedua negara pun tidak berhenti di situ. India juga membagikan pengetahuan melalui pelatihan telemedicine dan manajemen pandemi. Tenaga medis Indonesia diajarkan cara mengoptimalkan sumber daya terbatas, strategi vaksinasi massal, hingga pengembangan obat generik. Yang menarik, kolaborasi ini bersifat timbal balik. Indonesia turut mendukung India saat gelombang Omicron melanda New Delhi dengan mengirimkan obat-obatan dan oksigen.
Jika pendidikan dan kesehatan adalah pilar yang membumi, maka teknologi dan diplomasi adalah sayap yang membawa hubungan Indonesia-India melesat ke masa depan. Dua bidang ini tak hanya mencerminkan kemampuan kedua negara sebagai kekuatan global baru, tetapi juga membuktikan bahwa kolaborasi bisa berjalan dari tingkat pejabat hingga startup garasi. Seperti dua sisi mata uang, kemajuan teknologi dipercepat oleh diplomasi yang lincah, sementara diplomasi diperkuat oleh inovasi yang lahir dari laboratorium dan ruang rapat.
Pendidikan dan kesehatan mungkin terdengar seperti dua bidang berbeda, tapi keduanya adalah fondasi kemajuan sebuah bangsa. Melalui ITEC, Indonesia memperkuat SDM-nya untuk bersaing di era digital. Melalui Vaccine Maitri, kedua negara membuktikan bahwa kemanusiaan bisa mengatasi egoisme geopolitik.
Di pusat kota Jakarta, sebuah gedung berlantai 20 berdiri megah dengan logo Tata Consultancy Services (TCS). TCS bukanlah sekadar kantor, tapi pusat inovasi tempat insinyur Indonesia dan India mengembangkan solusi big data untuk mengurai kemacetan ibu kota. Sejak 2021, TCS telah melatih lebih dari 1.000 talenta lokal dalam bidang cloud computing dan artificial intelligence.
Inisiatif seperti ini adalah buah dari program ITEC dan investasi perusahaan India seperti Infosys dan Wipro di Indonesia. Tahun 2022, Kementerian Komunikasi dan Informatika menggandeng NASSCOM untuk menyusun kurikulum sekolah vokasi berbasis digital. Sekolah-sekolah di Lombok dan Makassar kini memiliki laboratorium TI canggih dengan pelatih dari Bengaluru.
Tak hanya di perkotaan, kolaborasi teknologi juga merambah desa. Perusahaan rintisan India Drishti membantu petani di Jawa Tengah memakai drone untuk memantau lahan. “Dulu butuh seminggu untuk survei 10 hektar, sekarang hanya 2 jam,” kata Slamet, ketua kelompok tani di Boyolali Jawa Tengah. Inilah wajah diplomasi teknologi: inklusif, transformatif, dan menyentuh langsung kehidupan warga.
Baca juga : Guangzhou: Kunjungan Singkat yang Memikat
Di balik layar kemajuan teknologi ini, ada diplomasi yang bergerak menguatkan pondasi kolaborasi. Sejak kunjungan PM Narendra Modi ke Bali pada 2022, Indonesia dan India telah menyepakati 15 perjanjian bilateral. Empat di antaranya, fokus pada transformasi digital dan keamanan siber. Yang menarik, diplomasi juga menjadi tameng saat tantangan datang. Ketika isu keamanan data mengancam proyek data center bersama di Batam, kedua pemerintah cepat membentuk joint task force untuk merumuskan regulasi.
Kerja sama politik ini bukan sekadar simbolis. Saat Indonesia memimpin ASEAN 2023 dan India memegang presidency G20, keduanya bersinergi mengusung isu kesetaraan digital. Buktinya langsung dihelat Deklarasi Bali tentang Digital Financial Inclusion. Deklarasi ini pun menjadi acuan 40 negara. Bahkan di level akar rumput, Kedutaan India di Jakarta rutin menggelar India-Indonesia Tech Forum, mempertemukan startup kedua negara. Startup kesehatan asal Bandung, MediChart, misalnya, mendapat investasi awal dari modal ventura India setelah pitching di forum tersebut.
Mutualisme diplomasi dan teknologi jelas krusial. Teknologi memberikan alat untuk mencapai tujuan diplomasi, sementara diplomasi membuka pintu bagi teknologi untuk berkembang. Saat Presiden Jokowi berkunjung ke Hyderabad pada 2020, misalnya, kunjungan itu tak hanya menghasilkan MoU senilai USD 2,3 miliar di sektor TI, tetapi juga komitmen India untuk mendukung Indonesia sebagai digital hub ASEAN.
Kolaborasi ini juga mengubah persepsi. Jika dulu hubungan Indonesia-India sering dilihat melalui lensa sejarah semata. Kini kedua negara menulis bab baru sebagai mitra setara di era Revolusi Industri 4.0.
Visi PM Modi tentang “dua demokrasi besar penentu masa depan Asia” mulai mewujud. Dari pelatihan coding di Lombok hingga pertemuan puncak di New Delhi, setiap langkah adalah tangga menuju kemakmuran bersama. Sebagaiman ‘aplikasi’ yang terus di-update, hubungan Indonesia-India pun makin tangguh. Hal ini karena kedua negara punya platform dialog yang terbuka.
Kolaborasi ITEC juga mengajarkan satu hal yaitu kerja sama internasional bukan hanya tentang kontrak atau proyek megah. Kolaborasi ialah tentang mahasiswa yang pulang membawa ide segar, tenaga kesehatan yang tersenyum lega karena vaksin tepat waktu, ataupun petani yang panennya meningkat berkat teknik irigasi dari India. Di situlah diplomasi menemukan makna sejatinya: membumi, menyentuh hidup, dan menginspirasi.
Baca juga : Malnutrisi Digital, Tantangan Peradaban Teknologi
Lebih dari 6 dekade, ITEC telah menjadi jembatan emas yang menyatukan visi Indonesia dan India: membangun ketangguhan melalui pendidikan, kesehatan, dan teknologi. Di tengah dunia yang terpecah oleh kompetisi geopolitik, kolaborasi ini justru menawarkan paradigma baru. Diplomasi yang tak hanya berbicara di meja perundingan, tetapi menyentuh ruang kelas, rumah sakit, hingga sawah-sawah di pedesaan.
India dan Indonesia adalah dua raksasa demokrasi, yang akan membentuk masa depan Asia. Dengan kerja sama dalam pendidikan, kesehatan, teknologi, serta diplomasi, maka, masa depan itu tak hanya gemilang, tapi juga inklusif, untuk rakyat, oleh rakyat.
Dr. Devie Rahmawati, CICS
Associate Professor, Program Vokasi Universitas Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.