Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial
Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Belakangan ini, kita dihebohkan dengan berbagai peristiwa yang bukan hanya mengundang kegeraman, kesedihan sekaligus keprihatinan, yang didorong oleh kejadian yang bahkan berujung pada hilangnya nyawa diantaranya kejadian bunuh diri seorang pelajar di Blitar akibat ponsel disita orang tua, yang membuat dirinya tidak dapat bermain game; di lain tempat, seorang istri membeberkan alasan perceraiannya, akibat sang suami kecanduan bermain gim, yang mengakibatkan salah seorang anaknya meninggal dunia karena ditelantarkan; Belakangan kasus judi online yang sampai membuat presiden membentuk satgas khusus, ketertarikan para pecandunya, juga diawali dengan “wajah” judi online yang berwujud gim. Pertanyaannya, apakah gim online benar-benar “racun” bagi para penggunanya?
Saya pribadi, pernah melakukan studi tentang kecanduan game online selama tiga tahun, dan telah dipresentasikan dalam Kuliah Umum di Department of Public Health, Nursing and Social Policy, Swansea University, Inggris serta LEAD Seminar di Faculty of Science, Leiden University, Belanda, pada tahun 2016 lalu. Dalam penelitian saya tersebut, pada prinsipnya gim online secara umum tidak menimbulkan bencana. Namun, ada sederet faktor, salah satunya lingkungan sosial, yang berpotensi mendorong gim online berdampak negatif.
Pandangan negatif pada teknologi, seperti gim pada akhirnya menjadi debat kusir. Generasi lebih senior seringkali menganggap gim sebagai entitas merugikan generasi muda. Walaupun, beberapa penelitian menemukan sebaliknya.
Baca juga : Dorong Transformasi Digital, Kominfo Genjot Penataan Kepegawaian Lewat SIMPHONI
Di saat generasi lebih muda, asyik dengan gim, Generasi senior sering menyoroti dampak negatifnya. Apalagi, banyak informasi satu sisi tentang gim yang menyebabkan generasi lebih tua mengalami malnutrisi digital. Di sisi lain, generasi muda, yang lebih melek teknologi pun, sering tidak mampu memilah sisi positif teknologi, seperti gim yang dimainkan.
Salah satu penelitian yang membuktikan meski generasi senior dinilai “tertinggal”, tetapi generasi muda pun, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, tidak mampu membedakan iklan dari sebuah artikel berita serta tidak mampu menemukan dari mana datangnya sebuah informasi, menurut studi dari Stanford History Education Group.
Ranah kesenjangan keterampilan dan kapasitas teknologi antar generasi ini, masih menjadi ranah yang belum diteliti secara mendalam. Kesalahpahaman hingga miskomunikasi dalam pemanfaatan teknologi menjadi sebabnya. Padahal fenomena malnutrisi digital ini seharusnya tidak terjadi, baik pada generasi muda ataupun yang senior. Memahami cara ‘mengkonsumsi’ nutrisi digital pada masa ini pun menjadi krusial untuk kedua generasi.
Belajar dari Red Dead Redemption 2
Baca juga : Relaksasi Impor Bisa Ganggu Pertumbuhan Ekonomi
Red Dead Redemption 2 (RDR2), sebuah gim yang bersama seri populer GTA (Grand Theft Auto), merupakan gim besutan developer gim Rockstar Games, telah menjadi salah satu gim yang mendunia. Dimana, karena saking populernya, dalam waktu 15 hari setelah rilis, RDR 2 berhasil meraup pendapatan lebih dari $725 juta USD. RDR2 telah terjual lebih dari 45 juta kopi di seluruh dunia hingga tahun 2022. Angka ini menjadikannya salah satu game terlaris sepanjang masa. RDR2 memenangkan lebih dari 175 penghargaan Game of the Year dari berbagai publikasi ternama, termasuk Golden Joystick, BAFTA Games Awards, dan Game Awards tahun 2019.
Gim RDR2 ini bercerita tentang Arthur Morgan. Ia adalah protagonis dalam geng Van der Linde yang digambarkan sebagai pria kasar. Tetapi ia juga memiliki kode etik dan kesetiaan kuat pada gengnya. Geng Van der Linde ini terdiri dari para perampok dan pembunuh bayaran. Mereka terus berpindah untuk menghindari kejaran pihak berwajib. Karakter dalam RDR2 didesain dengan sentuhan realistis dan detail dalam penampilan, ekspresi, hingga kepribadian mereka. Hal ini yang menciptakan pengalaman imersif bagi para pemainnya.
Dalam hal cerita dan karakternya, RDR2 juga mendapat banyak pujian. Cerita yang berjalan selama 60 jam, jika dimainkan non-stop dihiasi plot yang kompleks. Karakter mendalam dengan latar belakang dan motivasi yang kuat juga ditampilkan. Cerita berfokus pada Geng Van der Linde dalam menghadapi tantangan seperti perpecahan internal, pengkhianatan, dan tekanan dari agen pemerintah serta geng rival. Aktivitas seperti berburu, memancing, melakukan pekerjaan sampingan, berinteraksi dengan geng lain, detail untuk meresapi kisah hidup karakter yang hampir mirip dengan realitas.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya