Sebelumnya
Indonesia sebagai negara plural memerlukan kebijakan yang tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga sensitif terhadap keragaman sosial dan budaya. Dari itu implementasi Asta Cita dalam suasana pasca-Lebaran juga harus memperkuat narasi persatuan nasional. Visi Indonesia Emas 2045 mensyaratkan adanya solidaritas kebangsaan yang kokoh. Pembangunan tidak boleh terfragmentasi oleh identitas sektarian atau kepentingan sempit.
Pemerintah juga harus menanamkan nilai-nilai toleransi dan hidup bersama dalam perencanaan pembangunan, termasuk dalam sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur. Misalnya, pemberdayaan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah harus mempertimbangkan karakteristik lokal dan keadilan sosial, bukan semata logika pasar. Dengan demikian, pembangunan menjadi alat untuk memperkuat kohesi sosial dan memperkecil kesenjangan antardaerah.
Baca juga : Mencegah Korupsi Dalam Pemerintahan Berdasarkan Asta Cita
Makanya visi besar tidak akan berjalan tanpa pengawasan dan keterlibatan aktif masyarakat. Pemerintahan Prabowo-Gibran harus membangun kemitraan dengan publik dalam bentuk transparansi, akuntabilitas, dan pelibatan masyarakat sipil dalam evaluasi kebijakan. Asta Cita akan kehilangan makna jika tidak dijalankan secara partisipatif dan berkelanjutan. Semangat gotong royong yang diperkuat saat Ramadan dan Lebaran harus dibawa ke ruang-ruang kebijakan publik. Kesadaran bahwa negara dibangun oleh dan untuk rakyat menjadi sangat penting untuk menghindari alienasi antara penguasa dan masyarakat. Oleh karena itu, pelibatan komunitas lokal, ormas, dan tokoh agama sangat krusial dalam menyukseskan agenda pembangunan.
Dalam kerangka geopolitik dan tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia juga dituntut untuk memainkan peran sebagai kekuatan moral dan diplomatik di kawasan. Nilai-nilai toleransi, kesucian, dan penghormatan terhadap perbedaan yang diwarisi dari budaya Lebaran dapat menjadi soft power Indonesia dalam membangun hubungan internasional yang damai dan adil.
Baca juga : Asta Cita Dalam Tindakan Membangun Indonesia Maju
Pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa Indonesia bisa menjadi contoh negara demokratis yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus menjalankan pembangunan dengan keberpihakan pada rakyat. Asta Cita, jika dijalankan dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan, akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan militer, tetapi juga bermartabat secara moral.
Dengan begitu pada akhirnya bahwa pasca-Lebaran, adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali arah perjalanan bangsa ini. Pemerintahan bersih, birokrasi efektif, hukum yang adil, dan masyarakat yang toleran adalah syarat mutlak bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045. Asta Cita bukanlah akhir, melainkan alat untuk mencapainya.
Baca juga : Asta Cita Butuh Gerak Nyata
Dalam semangat kesucian pasca-Ramadan, kita diajak untuk tidak hanya menuntut perubahan dari pemerintah, tetapi juga dari diri sendiri sebagai warga negara. Membangun Indonesia tidak bisa hanya dilakukan oleh negara, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Dengan berpegang pada nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh tradisi dan agama, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih adil, makmur, dan beradab.
Prof. Dr. Drs, Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur Lemhannas RI (2001-2005)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.