BREAKING NEWS
 

Refleksi Prosesi Mudik Lebaran

Senin, 7 April 2025 17:56 WIB
Tulus Abadi
Pengamat Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik

RM.id  Rakyat Merdeka - Lebih dari 52 persen masyarakat Indonesia baru saja usai merayakan Idul Fitri 1446 Hijriyah, dengan melakukan perjalanan mudik Lebaran. Ibarat sayur tanpa garam, jika puasa Ramadan dan Idul Fitri, tanpa ada prosesi mudik ke kampung halaman. 

Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub, mengestimasi sebanyak 146,48 juta warga RI melakukan perjalanan Lebaran, entah untuk silaturahmi, mengunjungi tempat wisasa, atau ke kampung halamannya. Betapa asyiknya ke kampung halaman untuk saling bermaafan, merajud kohesi silaturahmi dan persaudaraan, yang kadang retak, bahkan terputus.

Kendati pemudik 2025 mengalami penurunan hingga 48 jutaan, dibanding tahun lalu (2024), tetapi pergerakan masa pemudik masih sangat terasa. 

Namun suasana hiruk-pikuk tradisi mudik Lebaran itu, pada batas tertentu menjadi tradisi dan fenomena sosio kultural yang paradoks, bahkan ironis. Loh, kok bisa, musabab apa kok mudik Lebaran diklaim menjadi fenomena yang paradoks? Berikut sejumput ilustrasinya, yang patut kita jadikan bahan evaluasi dan bahkan refleksi.

Pertama, adanya fenomena disparitas ekonomi antara masyarakat perkotaan (urban society) dengan masyarakat perdesaan (rural society). Mudik Lebaran menjadi bukti bahwa konsentrasi dan perputaran uang masih di perkotaan, dan ekonomi perdesaan masih terpinggirkan. Idealnya jika spirit desentralisasi ekonomi itu benar-benar merata, maka fenomena mudik Lebaran dari kota besar ke kota kecil, atau bahkan dari kota kecil ke perdesaan, seharusnya makin mengempis. 

Baca juga : Kemenko Polkam: Masyarakat Puas dengan Pelayanan Selama Mudik Lebaran

Jika keseimbangan dan desentralisasi ekonomi itu terwujud, maka fenomenanya mustinya berubah/berbalik: saat Lebaran orang perdesaan juga bisa melakukan perjalanan ke ranah perkotaan. Lah ini pergerakan masa saat mudik Lebaran seperti air bah, jutaan masa perkotaan migrasi ke perdesaan. 

Asal mula fenomena mudik Lebaran secara historis memang dipicu oleh pembangunan yang sentralistrik di perkotaan (Jakarta), sejak era 70-an, dan lebih meluas lagi di Pulau Jawa. Ironisnya era reformasi yang misinya membawa desentralisasi ekonomi ternyata hanya pepesan kosong; yang terjadi malah desentralisasi korupsi, bukan desentralisasi ekonomi, alamaak.

Kedua, rendahnya aspek keselamatan, khususnya di jalan raya. Setiap mudik Lebaran faktanya selalu diiringi dengan ratusan orang meninggal dunia di jalan raya karena kecelakaan lalu lintas, dan 77 persen melibatkan pengguna sepeda motor. Mudik Lebaran pada 2024 lalu korban meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas mencapai 281 orang, tahun sebelumnya (2023) malah sebanyak 291 orang. Itu menurut data resmi Korlantas Mabes Polri. Diduga data tidak resmi akan lebih besar. 

Pada 2025, menurut data Korlantas terdapat 37 orang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas (pada saat arus mudiknya saja). Oleh karena itu, sejatinya prosesi mudik Lebaran itu prosesi yang berdarah, tersebab ratusan orang menjadi tumbal pada prosesi mudik Lebaran itu. Tren ini akan sulit turun secara signifikan, sebab pengguna sepeda motor pada mudik Lebaran 2025 masih sangat tinggi, yakni 7,8 persen atau sekitar 11,3 juta perjalanan. Perjalanan mudik Lebaran, khususnya yang menempuh perjalanan via darat, adalah perjalanan yang risiko tinggi (high risk), sekalipun menggunakan mobil pribadi nan mahal dan mewah. Apalagi jika perjalanan mudik Lebaran itu menggunakan sepeda motor. 

Adsense

Ketiga, dari perspektif daya beli masyarakat, sebagian masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik Lebaran, sejatinya dengan basis ketidakmampuan ekonominya. Alias memaksakan diri untuk mudik Lebaran, sekalipun harus merogoh kocek dengan berutang. Apalagi sekarang begitu mudah mengajukan utang via pinjaman daring (pindar), alias pinjol. Terbukti menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat mudik Lebaran tahun ini masyarakat yang mengajukan utang ke pinjol mencapai Rp 78 triliun. 

Baca juga : DPR Dorong Pemda Optimalkan Potensi Pariwisata Desa di Libur Lebaran 2025

Dan ironisnya selepas utang pinjol/pindar dicairkan, konsumen akan kelimpungan dikejar/diteror oleh pihak pengelola pinjol dengan bunga yang setinggi langit, plus teror via data pribadi. Sangat disayangkan jika jerih payah mencari cuan dalam satu tahun, kemudian tergerus habis untuk perilaku yang konsumtif saat mudik Lebaran itu. 

Apalagi jika perilaku konsumtif itu berbasis utang dari pinjol. Turunnya persentase mudik Lebaran, secara keseluruhan karena faktor ekonomi yang lesu darah, banyak korban PHK masal, plus pemotongan anggaran oleh pemerintah hingga Rp 300 triliun!

Keempat, reduksi aspek kesehatan. Ini fenomena yang juga patut diwaspadai, tersebab saat perayaan Lebaran, lazimnya disajikan makanan dan minuman yang “serba enak”. Tetapi ironisnya dibalik rasa yang enak itu, tersebab adanya fenomena makanan/minuman yang tinggi gula, garam dan lemak. Minuman serba manis, makanan serba digoreng dan santan, plus aktivitas merokok pula makin gencar. Mumpung pulang kampung bersua teman, saudara, lalu begadang sampai larut malam sembari menjadi “ahli hisap”, alias merokok.

Tidak aneh jika selepas perayaah Lebaran, pasien di faskes (fasilitas kesehatan) membludak dengan keluhan klasikal, seperti: kolesterol tinggi, asam urat tinggi, dan gula darah tinggi. Fenomena perayaan Lebaran ibarat kata pepatah, kemarau satu tahun dihapus dengan hujan satu hari. Spirit pengendalian diri saat puasa Ramadhan, sirna saat perayaan Lebaran.

Kelima, dari perpektif dan spirit beribadah, jelang akhir puasa Ramadhan kualitas ibadah (umat Islam) justru terlihat menurun, bahkan “berantakan”. Padahal jelang akhir Ramadhan, diperintahkan untuk mengintensufkan ritualibadah, bahkan sangat dianjurkan untuk berdiam diri di masjid (i’tikaf). Namun yang terjadi justru sebaliknya, jelang akhir Ramadan, fokus masyarakat justru lebih dominan menyiapkan fenomena kultural Lebaran, seperti pergi ke mal untuk membeli baju baru, menyiapkan kue Lebaran, dll. 

Baca juga : Telkom Buka Posko Mudik Lebaran Di Bakauheni & Ketapang

Dan, saat melakukan prosesi perjalanan mudik Lebaran itu banyak yang batal puasanya. Memang boleh (cukup absah), sebagai musafir untuk tidak berpuasa Ramadan (asal nanti menggantinya); namun sejatinya urgensi pada akhir Ramadan adalah agar fokus  ibadah, bukan bejibaku melakukan perjalanan jauh, dengan segala upaya dilakukan. 

Jadi fenomena dan makna spiritual Idul Fitri pada akhirnya mengalami pergeseran, menjadi fenomena kultural. Dan ironisnya fenomena kulturalnya jauh lebih dominan, daripada fenomena spiritualitasnya. Bahkan ada semacam komersialisasi Idul Fitri yang terwujudkan pada fenomena kulural Lebaran yang sangat dominan.

Inilah sejumput fenomena paradoks dalam mudik Lebaran. Ironisnya hal ini kurang mendapatkan perhatian serius oleh banyak pihak, khususnya terkait dimensi keselamatan di jalan raya, dengan merenggut korban meninggal dunia mencapai ratusan orang. Melakukan revitalisasi keberadaan angkutan umum menjadi pekerjaan yang amat mendesak, khususnya oleh pemerintah daerah. 

Diharapkan dengan meningkatkan kapasitas dan keandalan angkutan umum, baik dari Jakarta ke daerah tujuan, dan angkutan umum di daerah; maka akan mendorong migrasi masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. Plus, yang lebih mendesak adalah melakukan pengendalian ketat terhadap marketing dan penjualan sepeda motor di Indonesia, yang kini jumlahnya sudah mencapai 132 jutaan unit. 

Dengan tingkat keandalan dan kapasitas angkutan umum yang memadai, berikut pengendalian ketat marketing dan penjualan sepeda motor, maka endingnya adalah untuk menekan tingginya fatalitas di jalan raya saat mudik Lebaran. Ataukah sebaliknya, kita akan terus melanggengkan ratusan nyawa melayang selama mudik Lebaran, dan hanya akan menjadi catatan statistik saja; sebagaimana tesis Joseph Stalin (bapak bangsa Rusia) bahwa “kematian satu orang membuat heboh, kematian banyak orang menjadi statistik”? Fenomena serupa juga terjadi pada kematian yang dipicu oleh penyakit akibat konsumsi rokok yang per tahun mencapai 250 ribuan orang. Fenomena yang memilukan ini seharusnya tidak sirna bak angin lalu, gone with the wind.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense