BREAKING NEWS
 

Pertemuan Prabowo Dan Megawati: Simbol Rekonsiliasi Nasional Dan Aktualisasi Pancasila

Senin, 9 Juni 2025 07:48 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Maka, kehadiran mereka dalam satu forum kenegaraan menjadi oase di tengah tensi politik yang masih terasa. Ke­teladanan ini seharusnya menular hingga ke tingkat akar rumput, menginspirasi masyarakat untuk lebih mengedepankan dialog dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Lahir Panca­sila tahun ini menjadi lebih ber­­makna karena menghadirkan dua tokoh sentral bangsa da­lam satu panggung kenegaraan. ­Pertemuan Prabowo dan Mega­wati tidak semata berkono­tasi politis, tetapi mencerminkan ada­­nya kesepahaman ideologis ten­tang pentingnya menjaga Pancasila sebagai fondasi kehi­dupan berbangsa dan bernegara.

Megawati Soekarnoputri, yang telah dianugerahi 12 gelar doktor dan profesor kehormatan dari berbagai universitas nasio­nal dan internasional, tampil sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP yang terus mengarusutamakan nilai-nilai Pancasila dalam ranah kebijakan publik. Di sisi lain, Jenderal (Purn) Prabowo Subianto sebagai pre­­siden terpilih menegaskan ­bahwa Pancasila bukanlah sekadar simbol seremoni, tetapi harus diaktualisasikan sebagai ideologi kerja.

Baca juga : Memperkukuh Trisakti Dan Asta Cita Di Momentum Hari Lahir Pancasila

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya persatuan nasional sebagai kunci untuk menghadapi tantangan global yang kompleks. Ia menolak menjadikan Pancasila sebagai retorika kosong, dan sebaliknya meng­angkatnya sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan strategis negara. Pernyataan ini menyiratkan arah kepemimpinan nasional ke depan yang berpijak pada prinsip-prinsip keadilan sosial, musyawarah mufakat, dan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sementara itu, Megawati Soekarnoputri meneguhkan bahwa Pancasila adalah titik temu berbagai kekuatan politik dan identitas sosial di Indonesia. Perannya di BPIP memperlihatkan bahwa pembinaan ideologi negara tak terpisahkan dari dinamika dan proses politik nasional.

Oleh karena itu, pertemuan antara Prabowo dan Megawati tidak bisa hanya dipahami dalam kacamata politis sempit. Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, peristiwa ini mengandung pesan bahwa hanya melalui persatuan dan kesatuan nasional, Indonesia mampu menjawab tantangan zaman. Persatuan dalam hal ini bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan menjaga komitmen bersama untuk tetap bersama dalam keberagaman. Nilai ini sejalan dengan sila ketiga Pancasila: Persatuan ­Indonesia.

Baca juga : Revitalisasi Birokrasi Dalam Pemerintahan Pusat Dan Daerah

Dengan demikian, pertemuan Prabowo dan Megawati tidak hanya mencerminkan rekonsiliasi pasca-pemilu, melainkan juga menegaskan kembali bahwa NKRI dibangun dan diperta­hankan melalui semangat persatuan. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kepentingan ekonomi dan geopolitik, kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya menjaga kesatuan dalam perbedaan.

Semangat inilah yang harus terus dijaga agar pembangunan nasional dapat berlangsung dalam suasana damai, stabil, dan berkeadilan. 

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Dewan ­Pakar BPIP RI dan Ketua ­Dewan ­Pembina ­Center for ­Geopolitics & Geostrategy Studies ­Indonesia (CGSI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense