Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Selasa, 10 Juni 2025, kita merayakan Hari Media Sosial. Penting bagi kita untuk merenungkan tentang media sosial ini, tidak hanya manfaat yang diraih, tetapi juga bahaya yang mengintai. Media sosial ibarat pisau bermata dua: mempermudah komunikasi global, tetapi juga mengancam daya pikir, kesehatan mental, dan bahkan peradaban manusia itu sendiri.
Laporan The Independent (2023) menunjukkan bagaimana dominasi Google dan ChatGPT dalam ekosistem mesin pencari telah mempermudah pencarian informasi, tetapi memicu risiko serius: information overload dan pemikiran yang semakin dangkal. Generasi saat ini menghadapi cognitive offloading, yaitu ketergantungan berlebihan pada AI sebagai “otak eksternal” sehingga melemahkan kemampuan berpikir kritis dan meragukan narasi. Seperti diungkap studi Dr. Adrian Ward dkk. (2017), “The mere presence of one’s smartphone reduces available cognitive capacity,”—hanya dengan adanya smartphone di dekat kita, kapasitas kognitif bisa turun hingga 10 persen meskipun sedang tidak digunakan.
Ironisnya, era “kecerdasan buatan” ternyata tak selalu membawa kecerdasan manusia. Artikel Vice (2023) merujuk pada riset yang menunjukkan bahwa rata-rata IQ global menurun 2-3 poin per dekade sejak 1975—sebuah paradoks teknologi modern yang justru membuat manusia terperangkap dalam umpan balik instan, bukan refleksi. Studi Inc. (2023) menyoroti bagaimana multitasking digital dan notifikasi tiada henti menggerus fokus manusia, yang pada akhirnya merusak memori jangka panjang. Seperti ditulis Jessica Stillman, “Digital interruptions aren’t just annoying—they’re actually rewiring your brain.”
Baca juga : Manusia vs Mesin: Apakah Kita Masih Dibutuhkan di Era AI?”
Artikel In-Mind (2024) menyebut media sosial sebagai lahan subur bagi kecemasan dan depresi. Studi American Psychological Association (2022) menunjukkan 59 persen remaja Amerika merasa tertekan oleh kebutuhan “selalu online”, memicu fear of missing out (FOMO) dan gangguan tidur. Dr. Jean Twenge, penulis “iGen”, menegaskan: “Generasi yang tumbuh dengan media sosial menunjukkan tingkat kesepian dan depresi yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya”.
Lebih jauh, artikel di Medium (2023) memaparkan bahwa media sosial bukan sekadar ruang berbagi foto, melainkan arena di mana misinformasi dan polarisasi subur. Studi Pew Research Center (2023) menemukan 64 persen warga AS meyakini media sosial berkontribusi pada perpecahan masyarakat. Penelitian di ResearchGate (2024) menambahkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berhubungan dengan peningkatan perilaku menyimpang—mulai dari perundungan siber, ujaran kebencian, hingga kejahatan daring.
Sementara itu, fenomena ini tak hanya terjadi di Barat. Data We Are Social (2024) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 167 juta pengguna media sosial (60,4 persen dari populasi), dengan waktu rata-rata 3 jam 18 menit per hari. Angka ini membuka peluang besar bagi inovasi, tetapi sekaligus menjadi ladang subur bagi krisis sosial yang menggerus peradaban.
Baca juga : Mencerdaskan Akal, Menguatkan Mental: Pendidikan Indonesia di Persimpangan Digital
Hari ini, kita dihadapkan pada pilihan penting: apakah akan membiarkan media sosial menjadi racun yang merusak daya pikir, psikologi, dan stabilitas masyarakat, ataukah menjadikannya alat yang dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya. Kita butuh literasi digital yang menekankan critical thinking—bukan hanya kecepatan “klik”.
Hari Media Sosial semestinya menjadi momen refleksi, bukan sekadar pesta hashtag. Seperti yang dikatakan Marshall McLuhan, “We shape our tools and thereafter our tools shape us.” Dunia digital yang cerdas bukan hanya tentang teknologi yang canggih, tetapi juga tentang manusia yang mampu menaklukkannya.
Mari jadikan Hari Media Sosial sebagai pengingat: bahwa kita bukan hanya generasi yang sibuk mengetik, tetapi generasi yang mampu berpikir—dan berpikir kritis—untuk menjaga kelangsungan peradaban. Karena di balik setiap swipe dan scroll, ada tanggung jawab moral yang tidak bisa di-skip, dan masa depan yang harus kita jaga bersama!"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.