BREAKING NEWS
 

Kisruh Upeti Tinggi Sang Bupati

Senin, 11 Agustus 2025 08:15 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan Perkotaan sebesar 250 persen di Kabupaten Pati, Jawa Tengah memicu konflik berkepanjangan. Kebijakan Bupati tersebut dinilai kurang sensitif dan cenderung memberatkan rakyat. Kabupaten yang terkenal dengan semboyan Pati Bumi Mina Tani, seharusnya daerah “gemah ripah loh jinawe, murah sandang dan pangan”. Namun beberapa hari terakhir ini, rakyat Pati turun ke jalan menentang kebijakan Bupati.

“Mungkin Pak Bupati mau ikuti kebijakan Presiden Amerika, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar mesem tidak tertarik nimbrung urusan kenaikan pajak kabupaten Pati. Romo Semar sedang galau dengan maraknya pemasangan bendera “One Piece” yang disandingkan dengan bendera merah putih menjelang perayaan HUT RI ke-80. Menyikapi fenomena bendera “One Piece” harus dengan kepala dingin. Tidak boleh grusah-grusuh untuk mencegah polarisasi konflik di masyarakat.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang rebus dan ubi bakar menambah nikmatnya sarapan pagi gaya padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Baka tewas oleh Bima karena meminta upeti berupa daging manusia.

Baca juga : Amnesti Untuk Kalanjaya Dan Kalantaka

Kocap kacarito. Pasca lolos dari rencana pembunuhan Bale Gala–Gala, para Pandawa tinggal di Kerajaan Sapta Pertala tempat Dewa Antaboga bersemayam. Setelah cukup lama tinggal di khayangan Sapta Pertala, Pandawa ingin kembali ke Hastina. Namun dalam perjalanannya tersesat di Kerajaan Ekacakra.

Adsense

Kerajaan Ekacakra merupakan kerajaan kecil terletak di perbatasan Hastina dan Gilingwesi. Ekacakra di bawah kekuasaan raja raksasa bernama Prabu Baka. Raja bengis suka memungut upeti dari rakyatnya. Kemarahan rakyat Ekacakra memuncak saat sang raja minta upeti berupa daging manusia sebagai menu santapannya.

Para Pandawa dan Ibu Kunti tinggal sementara di tempatnya Begawan Wijrapa. Pada tengah malam, Wijrapa dan istrinya sedih dan menangis. Karena besuk paginya mendapat jatah untuk menyediakan santapan untuk prabu Baka. Anak satu-satunya yaitu Bambang Rawan harus diantar ke kerajaan sebagai upeti kepada Prabu Baka.

Baca juga : Cuaca Ekstrem Menerjang Dwarawati

Dewi Kunti mendengar tangisan Wijrapa dan istrinya tidak tega membiarkan anaknya jadi santapan Raja Ekacakra. Kunti membangunkan Bima yang sedang terlelap tidur agar bersedia menggantikan Bambang Rawan. Bima bersedia dan minta Wijrapa mengantarkan ke Prabu Baka.

Prabu Baka kaget melihat Wijrapa membawa Bima sebagai upetinya. Belum hilang rasa kagetnya dan bersiap menyantap Bima, Prabu Baka ditarik ke alun-alun oleh Bima. Terjadi perang tanding antara Bima dan Prabu Baka. Walaupun Prabu Baka berwujud raksasa sebesar gunung anakan, namun Prabu Baka tidak mampu mengalahkan kesaktian Bima. Prabu Baka tewas tersungkur oleh kuku Pancanaka milik Bima.

“Itulah nasib raja yang mementingkan upeti, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. "Betul, Tole. Upeti atau glondong pengareng-ngareng harus disesuaikan dengan kemampuan rakyatnya. Jangan sampai membebani para kawulo. Justru sebagai raja, harus inovatif bagaimana menciptakan ekonomi kerakyatan wilayahnya,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense