Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Di bulan kemerdekaan ini, ketika kita merayakan semangat membangun generasi penerus yang cerdas, sehat, dan merdeka, mari kita jujur bertanya: Apakah anak-anak kita benar-benar merdeka saat mereka menjelajahi dunia digital?
Di balik warna-warna cerah dan karakter imut Roblox, ada dunia yang jauh lebih gelap dari yang kita bayangkan.
Menurut laporan The Guardian, tahukah kalau anak-anak di Australia yang bermain Roblox menghabiskan rata-rata 2 jam 17 menit setiap hari. Ini bukan cuma main sebentar, ini sudah seperti “kerja paruh waktu” di dunia maya!
Baca juga : Ketika Anak Jadi Pelaku Kekerasan di Rumah: Salah Asuh, Salah Tonton, Salah Sistem
Dan masalahnya bukan cuma soal waktu. Penelitian terbaru dari Universitas Sydney menyebut sistem belanja di Roblox mirip seperti “perjudian anak-anak”. Anak-anak beli mata uang virtual (Robux), berharap dapat barang langka, tapi malah merasa “tertipu” dan kehilangan kendali. Beberapa anak bahkan menyebutnya sebagai “scam” dan “jebakan uang.
BBC baru-baru ini menyelidiki dan menemukan bahwa akun palsu yang mengaku sebagai anak bisa dengan mudah diarahkan ke konten dewasa—dan itu semua terjadi di dalam platform Roblox sendiri!
Negara Lain Sudah Bertindak. Indonesia Harus Bagaimana?
- Turki resmi memblokir Roblox pada 2024 demi melindungi anak-anak dari konten eksplisit dan predator digital.
- Di negara-negara lain, orang tua mulai memblokir sendiri karena khawatir: ada chat dengan orang asing, game dewasa tersembunyi, bahkan “permainan kekerasan” yang viral di kalangan bocah.
Sementara itu, 40 persen pengguna aktif Roblox secara global adalah anak-anak di bawah 13 tahun. Artinya, ini bukan cuma “game anak-anak” tapi juga ruang interaksi yang rawan dan tak sepenuhnya bisa diawasi.
Jangan Sampai Menyesal Duluan
Baca juga : Sukseskan Kopdes Merah Putih, Kemenkop Tandatangani Pakta Integritas Anti-Korupsi
Roblox memang bisa jadi tempat anak-anak belajar coding dan berkreasi. Tapi saat dunia digital berkembang jauh lebih cepat dari kemampuan kita mengawasi, perlindungan anak harus jadi prioritas, bukan pilihan.
Orang tua, pendidik, dan pemerintah perlu bertanya ulang: Apakah kita sedang membiarkan anak-anak menjelajah dunia maya tanpa kompas?
Solusinya Bukan Sekadar Blokir
Pertama, Perlu evaluasi serius dari pemerintah dan lembaga pendidikan tentang sejauh mana game seperti Roblox mematuhi prinsip keamanan anak. Kedua, orang tua butuh panduan praktis dan kontrol digital untuk bisa benar-benar tahu apa yang dimainkan anak. Ketiga, jika terbukti gagal melindungi anak, blokir bisa menjadi bentuk tanggung jawab negara, bukan tindakan anti teknologi, tapi demi masa depan yang lebih sehat dan aman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.