Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial
Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Saya meneliti dunia digital selama lebih dari dua dekade. Namun, tak satu pun literatur, riset, atau teori yang saya pelajari dapat mempersiapkan saya menghadapi kenyataan ketika anak laki-laki saya sendiri terjebak dalam kecanduan game online di masa pandemi.
Anak, yang dulu ceria dan aktif, berubah menjadi pribadi tertutup, mudah marah, dan kehilangan semangat belajar. Nilai akademiknya turun drastis. Ia mengalami ledakan emosi yang tidak terkendali. Rumah kami berubah menjadi ruang penuh ketegangan. Sebagai ibu sekaligus akademisi, saya dihadapkan pada pertanyaan paling mendasar: apakah saya benar-benar memahami tantangan yang dihadapi generasi digital?
Melalui intervensi keluarga yang intensif—membatasi akses gawai, memulihkan keterlibatan fisik, dan menghadirkan kelekatan emosional—anak saya perlahan pulih. Namun, pengalaman itu menjadi refleksi mendalam ketika saya menonton serial dokumenter Adolescence di Netflix yang dirilis awal 2025.
Serial ini menjadi sorotan global karena menggambarkan secara jujur betapa remaja laki-laki modern menghadapi tekanan digital yang kompleks. Profesor Jane Harris dari University of Gloucestershire menilai bahwa Adolescence telah “mengangkat isu penting tentang krisis identitas, isolasi emosional, dan ketidakpastian gender yang sering kali terabaikan dalam diskursus publik.”
Tekanan Tak Kasat Mata di Ruang Digital
Baca juga : ITEC, 6 Dekade Menguatkan Kolaborasi Indonesia-India
Kehidupan remaja hari ini tidak bisa dilepaskan dari dunia maya. Laporan UNICEF (2023) menunjukkan bahwa 95 persen remaja Indonesia menggunakan internet setiap hari. Sebanyak 2 persen di antaranya—sekitar 500.000 anak—pernah menjadi korban eksploitasi seksual online. Ironisnya, lebih dari separuh dari kasus tersebut tidak pernah dilaporkan.
Media sosial, yang awalnya dianggap sebagai sarana koneksi, kini justru menjadi ladang tekanan sosial dan psikologis. Laporan Cleveland Clinic mengungkap bahwa paparan digital yang berlebihan berdampak langsung terhadap penurunan kualitas tidur, peningkatan kecemasan, dan gangguan harga diri pada remaja. Hal ini didukung pula oleh riset Computers in Human Behavior (2022) yang menyatakan bahwa penggunaan media sosial secara intensif berhubungan dengan peningkatan gejala depresi, terutama pada remaja laki-laki.
Di dalam Adolescence, tokoh-tokohnya digambarkan mengalami kekosongan emosional, relasi sosial yang dangkal, dan perasaan tertinggal karena tekanan ekspektasi dunia maya. Dr. Mark Travers, psikolog dalam artikelnya di Forbes, menyebut film ini sebagai “peringatan bagi semua orang tua bahwa dunia digital telah menjadi medan pertempuran utama bagi kesehatan mental anak-anak.”
Ibu sebagai Penyaring, Pelindung, dan Pemandu
Dalam dinamika keluarga modern, peran ibu tidak lagi sebatas pengasuh atau pendidik dasar, melainkan juga navigator digital. Ini mencakup tiga fungsi utama 3P:
- Penyaring konten: Menyaring paparan konten berbahaya dan menanamkan literasi digital yang kritis.
- Pendengar aktif: Menghadirkan ruang aman di mana anak dapat mengekspresikan emosinya tanpa takut dihakimi.
- Pemberi batasan yang sehat: Menetapkan aturan penggunaan teknologi dengan cara yang tegas namun penuh empati.
Baca juga : Prabowo Saksikan Serah Terima Kepemimpinan Kaukus ASEAN-ABAC dari RI ke Malaysia
Survei Pew Research (2023) mengungkap bahwa lebih dari 60 persen remaja merasa tertekan untuk selalu hadir di dunia maya, sementara 53 persen orang tua mengaku kewalahan dalam memantau aktivitas daring anak-anak mereka. Dalam konteks ini, peran ibu bukan hanya strategis, tetapi juga mendesak.
Kartini Digital: Menjaga Akal Sehat dalam Era Algoritma
Dahulu, Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan hak perempuan. Hari ini, “Kartini digital” menghadapi tantangan yang tak kalah berat: menjaga anak-anak tetap waras di tengah lautan informasi dan budaya instan yang sering kali menyesatkan.
Saya ingin mengajak kita semua—khususnya para ibu—untuk kembali menghidupkan semangat Kartini: menjadi terang di tengah kegelapan. Di zaman Kartini, kegelapan itu adalah kebodohan dan ketidakadilan. Saat ini, kita berhadapan dengan algoritma yang dirancang untuk membuat ketagihan, notifikasi yang tak henti-hentinya mencuri perhatian, serta norma sosial digital yang tak selalu sehat. Dalam konteks ini, mendampingi anak bukan hanya tentang memberi makan atau tempat tinggal, tetapi tentang membangun ketahanan mental, kemampuan berpikir kritis, dan nilai hidup.
Kartini 4.0 adalah mereka yang memilih hadir secara nyata dalam kehidupan digital anak-anaknya. Mereka tidak membiarkan teknologi mengambil alih peran pengasuhan. Seperti Kartini yang tak menyerah menghadapi zamannya, para ibu masa kini juga tidak boleh tunduk pada kecepatan teknologi yang sering kali mengabaikan kemanusiaan.
Baca juga : Guangzhou: Kunjungan Singkat yang Memikat
Kita mungkin tidak bisa menghentikan laju digitalisasi, tetapi kita bisa membentuk generasi yang lebih kuat, lebih sadar, dan lebih utuh. Dan semuanya bermula dari rumah—dari seorang ibu yang menemani, memahami, serta, tak pernah berhenti mencintai.
Dr. Devie Rahmawati, CICS
Peneliti Komunikasi Digital dan Praktisi Pendidikan, Vokasi Universitas Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya