BREAKING NEWS
 

Jakarta Menyala: Ketika Flexing Menjadi Bensin Penjarahan

Selasa, 2 September 2025 19:53 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

Peristiwa yang Mengguncang, Gejala yang Lebih Dalam

RM.id  Rakyat Merdeka - Agustus 2025, publik dikejutkan penjarahan rumah seorang pejabat. Peristiwa itu bukan sekadar kerusakan fisik; ia memantik perbincangan tentang budaya pamer, dari tur rumah mewah hingga parade supercar, yang selama ini membanjiri linimasa. Nama-nama selebritas pun ikut terseret. Pertanyaannya sederhana, tapi menohok: bagaimana konten “pamer” bisa menyulut amarah jalanan?

Jawabnya ada pada rantai sebab-akibat yang bertemu di satu titik rawan yaitu ketimpangan yang terlihat, diperkuat oleh algoritma yang mengganjar sensasi, dan emosi kolektif yang menumpuk.

Dua Wajah Flexing: Blak-blakan Vs Terselubung

Studi tahun 2018 dan 2023 membagi gaya pamer (flexing) menjadi dua jenis:

Yang mengejutkan, humblebragging justru lebih memicu ketidaksukaan dan ketidakpercayaan. Audiens bukan hanya tak simpati; mereka merasa ditipu. Di tengah sensitivitas sosial, kepura-puraan lebih mudah dibenci ketimbang kejujuran yang berlebihan. Dari sinilah malicious envy, iri yang ingin melihat orang lain jatuh, lebih cepat menyala. 

“Orang lebih bisa mentoleransi kesombongan blak-blakan, ketimbang kepura-puraan dalam pamer.”

Jebakan Perbandingan Sosial: Like Menenangkan, Banding-bandingan Melukai

Baca juga : Makan Malam Bersama, Kapolri Beri Motivasi Pasukan Pengamanan DPR

Setiap kali seseorang membuka media sosial, mereka berisiko terjebak dalam Social Comparison Trap, jebakan perbandingan sosial. Melihat unggahan liburan mewah atau barang mahal memicu dorongan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Studi global tahun 2017 menunjukkan bahwa perbandingan sosial via media sosial erat kaitannya dengan penurunan kebahagiaan diri (subjective well-being).

Di Thailand, riset tahun 2022 menemukan bahwa paparan konten pamer mendorong tiga perilaku berbahaya:

  1. Belanja tak terkendali (compulsive buying)
  2. Belanja demi gaya (conspicuous buying)
  3. Belanja spontan (impulse buying)

“Makin lama scroll medsos, makin gampang kebablasan belanja. Buntutnya bukan cuma utang, tapi juga hati gelisah dan pikiran drop.”

Dalam konteks Indonesia, flexing tokoh publik tidak hanya memperlebar jarak simbolik dengan rakyat, tetapi juga mendorong generasi muda meniru perilaku konsumtif yang berisiko tinggi.

Konsumsi Mencolok: Saat Belanja jadi Mikrofon Status

Sejak 1899, Thorstein Veblen telah mengenalkan konsep conspicuous consumption, konsumsi yang bertujuan menunjukkan status sosial, bukan sekadar memenuhi kebutuhan.

Baca juga : PT Jakarta Tambah Hukuman Pengacara Ronald Tannur Jadi 14 Tahun Penjara

Flexing adalah bentuk modernnya: jam tangan miliaran, sepatu limited edition, atau mobil sport yang dipamerkan secara mencolok. Di masyarakat dengan ketimpangan ekonomi seperti Indonesia (Gini Ratio 0,375, BPS 2025), hal ini menjadi bahan bakar rasa tidak adil.

Di momen ketegangan sosial, rumah-rumah elit bukan sekedar properti, melainkan simbol, yang mudah menjadi sasaran. Bukan semata iri; ini soal narasi keadilan: “Kenapa kemewahan dipertontonkan ketika banyak yang sedang kesulitan?” Ketika emosi kolektif memuncak, rumah mewah pejabat berubah menjadi lambang. Dan lambang adalah target.

Belajar dari China: Ketika Pamer Dibatasi, Risiko Berkurang

Pemerintah China menerapkan kebijakan tegas untuk membatasi pamer kekayaan. Hasilnya, budaya konsumsi mewah yang mencolok pun menurun. Orang kaya beralih ke low-key luxury—kemewahan yang tidak mencolok namun tetap berkualitas. Flexing itu liability (beban sosial dan politik) bukan legacy (warisan). 

Analogi praktisnya ialah kurangi sinyal kemewahan yang terlihat, baik di dunia nyata (pagar megah, parade mobil) maupun di dunia digital (tur rumah, etalase brand). Profil yang sederhana bukan kalah gaya, justru strategi membangun kenyamanan sosial.

Generasi Muda dan Kecanduan Pengakuan Sosial

Riset tahun 2021 menunjukkan bahwa anak muda gemar pamer di media sosial bukan hanya karena gengsi, tetapi juga karena kecanduan akan pengakuan sosial. Mereka mencari likes, komentar, dan pujian sebagai ukuran harga diri.

Studi Ozimek dkk. (2024) mengonfirmasi bahwa materialisme, sikap menilai kesuksesan dari banyaknya harta, dapat mendorong orang untuk aktif di media sosial demi membandingkan diri dengan orang lain.

Baca juga : Jempol yang Membunuh: Ketika Hoaks Jadi Peluru dan Kita Jadi Korban

“Flexing memberi validasi instan, namun efeknya cepat pudar. Hasilnya: siklus kecanduan yang merugikan mental dan finansial.”

Dalam masyarakat dengan ketimpangan ekonomi, flexing juga memperkuat relative deprivation, perasaan “dirampas” karena tidak mampu memiliki hal yang sama. Ini rawan menjelma menjadi amarah sosial. Benih-benih  itu, jika bertemu pemicu (demo, kabar buruk, kebijakan kontroversial), dapat bereskalasi menjadi backlash, mulai dari serangan reputasi digital hingga penjarahan simbolik.

Menuju Perbaikan: Dari Pamer ke Peduli

Flexing adalah bom waktu sosial. Ia merusak kepercayaan, memperlebar jurang, dan berpotensi memicu anarki. Namun, kita masih bisa mengubah arah:

“Status sejati bukan apa yang bisa dipamerkan, tapi apa yang bisa dibagikan.”

Mari jadikan media sosial sebagai jembatan kasih sayang, bukan etalase kesombongan. Dari pamer, menuju peduli. Dari simbol kekuasaan, menjadi simbol keberpihakan.

DR. Devie Rahmawati, CICS
Peneliti Sosial Digital

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense