Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Tanggal 8 September 2025 menandai hari ulang tahun ke-52 Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Kini, jumlah anggotanya hampir 2.000 orang yang tersebar di berbagai provinsi dan kabupaten, dari Aceh hingga Papua. Setidaknya ada lima tantangan besar kesehatan paru di Indonesia yang perlu kita tangani bersama.
Pertama, penyakit infeksi. Ragamnya banyak, tetapi ada tiga yang paling mengemuka.
Tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman serius. Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi kasus TB di dunia. Kasus tragis anak dengan kecacingan di Jawa Barat misalnya, terungkap bahwa orang tuanya juga pasien TB. Ini bukti TB bukan hanya persoalan nasional, tapi juga masalah nyata di tingkat lokal.
Baca juga : KLB Campak Di 80 Tahun Kemerdekaan Dan Rendahnya Vaksinasi
Selain TB, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga terus menyerang masyarakat dari waktu ke waktu. Belum selesai dengan itu, dunia masih dihantui ancaman pandemi. Pengalaman Covid-19 membuktikan betapa rapuhnya sistem pernapasan kita terhadap penyakit menular lewat udara. Besar kemungkinan pandemi mendatang juga berupa airborne infection yang langsung menyerang paru. Di sisi lain, belakangan ini kasus infeksi jamur paru pun kian sering dijumpai dan menambah beban masalah kesehatan paru di Indonesia.
Kedua, polusi udara. Beberapa kali Indonesia dilaporkan memiliki kualitas udara tidak baik dibanding kota besar dunia. Belum lagi polusi akibat kebakaran hutan, polusi di tempat kerja, hingga dampak gas air mata terhadap paru dan sistem pernapasan.
Ketiga, kebiasaan merokok yang masih tinggi. Yang lebih mengkhawatirkan, perokok anak justru meningkat, ditambah makin meluasnya penggunaan rokok elektronik. Pemerintah Singapura sudah membuat aturan sangat ketat untuk melindungi rakyatnya, termasuk pengendalian merokok sejalan dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Indonesia tentu perlu langkah serius untuk melindungi rakyat dari bahaya rokok, termasuk rokok elektronik.
Baca juga : Penghargaan Achmad Bakrie XXI Bidang Kesehatan
Keempat, penyakit paru obstruktif seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jumlah penderitanya jutaan di Indonesia, mengganggu produktivitas, meningkatkan angka rawat inap, hingga berkontribusi pada angka kematian.
Kelima, kanker paru. Ini salah satu kanker dengan kasus terbanyak. Meski diagnosis dan terapi terus berkembang, kanker paru tetap menjadi masalah serius di Indonesia.
Selain lima tantangan utama itu, ada pula masalah kesehatan paru lain seperti Interstitial Lung Disease (ILD), gangguan paru pada jemaah haji, sleep apnea, pulmonologi intervensi, hingga pemanfaatan teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan (AI) dan sel punca (stem cell).
Baca juga : 8 Hal Kesehatan Di 80 Tahun Kemerdekaan
Selama 52 tahun, PDPI telah berperan besar dalam meningkatkan kesehatan paru dan pernapasan bangsa. Komitmen PDPI adalah terus memberikan upaya maksimal untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022, Rekor MURI April 2024, Paramakarya Parama Husada 2024 dan Penghargaan Achmad Bakrie 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.