Dark/Light Mode

Akses Dan Mutu Pendidikan Tenaga Medis Serta Asta Cita

Kamis, 24 Juli 2025 05:56 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam rangka meningkatkan akses dan kualitas pendidikan tinggi untuk tenaga medis dan tenaga kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi meluncurkan Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan Tenaga Medis. Program ini merupakan bagian dari upaya percepatan perwujudan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Peluncuran program dilaksanakan pada 22 Juli 2025 di kantor Kemdiktisaintek, dan dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Tiga kata kunci dalam program ini adalah akses, mutu, dan Asta Cita. Artinya, harus dijamin tersedianya akses terhadap pendidikan tenaga medis. Namun, akses saja tidak cukup. Harus dipastikan bahwa pendidikan tersebut bermutu tinggi. Akselerasi ini merupakan bagian penting dari Asta Cita, yang kini menjadi pegangan utama kebijakan Pemerintah.

Program ini dilaksanakan melalui Strategi Kemitraan Sistem Kesehatan Akademik (Academic Health System). Yaitu pendekatan dan model kemitraan strategis antara penyelenggara pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemerintah daerah/wilayah.

Baca juga : SIM Keliling Tangerang Kota Sabtu 19 Juli, Cek Di Sini Lokasinya

Kemendiktisaintek telah mengkoordinasikan perguruan tinggi dalam jejaring kemitraan ini dan membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk akselerasi pemenuhan dan distribusi dokter dan dokter spesialis mulai tahun 2025.

Secara umum, terdapat lima strategi dan kebijakan utama dalam program akselerasi ini. Pertama, penguatan sistem kesehatan akademik (Academic Health System) sebagai kerangka kerja integrasi antara sistem pendidikan tinggi dan sistem kesehatan. Kedua, peningkatan kapasitas dan distribusi penyelenggaraan pendidikan tinggi tenaga medis dan tenaga ke­se­­hatan yang memenuhi tiga kriteria yaitu bermutu, inklusif, dan lebih merata. Ketiga, ­penguatan kemitraan interdependen ­antar pemangku kepentingan. Ke­empat, pemanfaatan sumber ­daya bersama (resource ­sharing). Kelima, deregulasi adaptif terhadap standar mutu pendidikan tinggi di bidang tenaga medis dan kesehatan.

Dalam pemaparannya, ­juga disampaikan perkembangan jumlah dan pertumbuhan Program Studi Kedokteran di Indo­nesia. Pada kurun ­waktu 2000–2009, baru terdapat 71 program studi kedokteran. Kini, ­jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat, dengan 144 fakultas kedokteran yang semuanya menghasilkan dokter. Diharapkan, jumlah lulusan saat ini dapat ditingkatkan menjadi sekitar 15.000 dokter per tahun pada 2030. Pada periode 2025–2030, diproyeksikan lebih dari 48.000 dokter dapat dihasilkan untuk mengatasi kesenjangan kekurangan dokter berdasarkan data Kementerian Kesehatan.

Sementara, untuk pendidikan dokter spesialis, laman Kemendiktisaintek mencatat, sejauh ini terdapat 25 FK yang menjalankan 358 program studi spesialis/subspesialis. Sekitar 3.600 lulusan dokter spesialis dihasilkan setiap tahun. Kemendiktisaintek bermitra dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), yang mengkoordinasikan 57 FK untuk pembukaan 148 program studi baru dokter spesialis dan subspesialis, serta bekerja sama dengan sekitar 350 rumah sakit pada 2025–2026.

Baca juga : SIM Keliling Jakarta Sabtu 19 Juli, Hadir Di 5 Lokasi

Dengan akselerasi ini, diharapkan terjadi peningkatan kuota mahasiswa menjadi sekitar 8.000 mahasiswa pada 2026 (dua kali lipat dari sebelumnya), sehingga jumlah lulusan dapat meningkat menjadi sekitar 6.000 per tahun pada 2030.

Untuk peningkatan layanan dokter spesialis, disampaikan tiga strategi utama, yakni pembukaan program studi baru dan peningkatan kuota mahasiswa melalui model kemitraan perguruan tinggi, penempatan (deployment) residen senior, dan penguatan kemitraan dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta para pemangku kepentingan (stakeholders).

Sebagai penutup, disampaikan tiga kutipan penting dari tokoh nasional dan dunia tentang pendidikan. Nelson Mandela menyebutkan, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Martin Luther King Jr. menulis, “Intelligence plus character — that is the goal of true education.”

Sementara Ki Hajar Dewan­tara dengan amat bijak menyam­paikan, “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan, dengan amal kita menuju kebajikan.” Tiga kutipan dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Indonesia ini layak menjadi acuan utama seluruh insan pendidikan, demi rakyat dan bangsa Indonesia yang terus lebih baik di masa depan.

Baca juga : TB Dan Kesehatan Primer Serta UHC

Prof Tjandra Yoga Aditama
-Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
-Adjunct Professor, Griffith University, Brisbane, Australia
-Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.