BREAKING NEWS
 

Mungkinkah Indonesia Menjadi Kiblat Peradaban Dunia Islam (1)

Kamis, 13 November 2025 05:55 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Mrs. Clinton adalah tokoh pertama yang mengungkapkan bahwa dunia Islam perlu belajar dari Indonesia dalam banyak hal ketika ia berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, dan Pangeran Charles, pada kesempatan kunjungan mereka ke Indonesia, juga pernah menyampaikan hal serupa. Bahkan, Tony Blair menandatangani Surat Keputusan Bersama dengan Presiden SBY tentang pembentukan UK–Indonesia Islamic Advisory Group.

Baca juga : Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Ibn Khaldun

Dalam forum tersebut, sejumlah tokoh Muslim dari kedua negara duduk bersama dan bertugas memberikan pertimbangan kepada kedua kepala negara mengenai penanganan umat Islam di masing-masing negara. Sejumlah imam (pemimpin komunitas Muslim) dari Inggris pun telah diutus ke Indonesia.

Adsense

Mengapa pemerintah Inggris memilih bekerja sama dengan Indonesia, bukan dengan negara-negara Timur Tengah yang secara geografis lebih dekat? Pemerintah Australia sejak tahun 2005 juga memilih bekerja sama dengan ormas-ormas Islam Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dalam pembinaan imam-imam di Australia, setelah sebelumnya lebih banyak bermitra dengan Lebanon dan Arab Saudi.

Baca juga : Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Nasiruddin al-Thusi

Pemerintah Kanada, Jerman, dan Belanda bahkan telah lebih dahulu menjalin kerja sama di bidang pendidikan Islam dengan berbagai institusi pendidikan di Indonesia, seperti UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, dan sejumlah pondok pesantren.

Semua ini menunjukkan adanya pandangan positif terhadap Indonesia, khususnya di mata dunia Barat. Pilihan dan kebijakan mereka tentu bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh banyak negara Islam lainnya, antara lain sebagai berikut:

  1. Jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.Berdasarkan survei penduduk tahun 2024, jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 245.973.915 jiwa (87,08%) dari total populasi 282.477.584 jiwa. Jumlah ini bahkan melebihi total umat Islam di seluruh negara Arab atau Afrika jika digabungkan.
  2. Wilayah geografis yang sangat luas.Jika dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, Indonesia memiliki wilayah terluas. Dari Sabang sampai Merauke terdapat tiga zona waktu: WIB, WITA, dan WIT. Perjalanan udara dari ujung ke ujung memakan waktu sekitar tujuh jam, setara dengan jarak dari Ankara ke London yang melintasi hampir 15 negara.
  3. Posisi geografis yang strategis. Indonesia terletak di jalur silang dunia. Artinya, siapa pun yang bepergian dari Barat ke Timur atau sebaliknya hampir pasti akan melewati wilayah Indonesia. Selain strategis, wilayah ini juga dikenal aman dan efisien bagi berbagai jalur transportasi.
  4. Umat Islam Indonesia didukung oleh kebudayaan lembut (soft culture). Kondisi alam Indonesia yang bersahabat membentuk karakter masyarakat yang lembut. Sebelum datangnya Islam pun, wilayah Nusantara telah mengenal ajaran Hindu dan Buddha yang berorientasi pada soft culture. Hal ini berbeda dengan kultur Timur Tengah yang dibentuk oleh lingkungan padang pasir dan kehidupan nomaden yang keras.
  5. Karakter kebudayaan maritim. Indonesia terdiri atas ribuan pulau dengan wilayah laut yang jauh lebih luas daripada daratannya. Kebudayaan maritim cenderung lebih terbuka, demokratis, dan egaliter dibandingkan kebudayaan kontinental (daratan) seperti di Eropa atau Timur Tengah, meskipun hal ini tidak bersifat mutlak.
  6. Bebas dari konflik regional Timur Tengah. Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik Israel–Palestina atau konflik berkepanjangan lainnya di kawasan Timur Tengah. Karena itu, Indonesia berpotensi memainkan peran besar dalam upaya menciptakan hegemoni damai dan mendukung perdamaian global, termasuk di Timur Tengah.
  7. Mazhab yang relatif homogen (Sunni).Keadaan ini memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Bayangkan jika negara yang sangat heterogen ini masih harus terpecah oleh perbedaan mazhab; tentu akan menambah kompleksitas persoalan kebangsaan. Kota Beirut dan Baghdad, misalnya, kini tercabik akibat pertentangan antara dua komunitas besar, Sunni dan Syiah.

Baca juga : Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Ibn ‘Arabi

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 13 November 2025 dengan judul "Mungkinkah Indonesia Menjadi Kiblat Peradaban Dunia Islam (1)"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense