Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 17 Maret 2026, media “ThinkGlobalHealth” menurunkan artikel berjudul “Where the Iran War Could Disrupt Pharmaceutical Supply Chains”, sesuatu yang perlu kita cermati juga di negara kita. Selama ini, kita sering menganggap masalah di Selat Hormuz hanya berkaitan dengan pasokan minyak. Gangguan penerbangan di Timur Tengah juga kerap dipersepsikan sebatas soal mobilitas manusia.
Padahal, “ThinkGlobalHealth” menjelaskan kondisi tersebut turut memengaruhi rantai pasok obat dan alat kesehatan global. Untuk Amerika Serikat, misalnya, disebutkan bahwa dalam waktu dekat belum akan terjadi kelangkaan obat karena persediaan (buffer stock) masih cukup besar dan jalur kapal melalui Terusan Suez tetap berjalan baik. Namun, dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin diperlukan diversifikasi untuk menjamin ketersediaan obat dan alat kesehatan.
Di sisi lain, produsen obat dan alat kesehatan mulai mencari alternatif jalur transportasi. Ada yang memanfaatkan jalur darat antarb andara di negara-negara Teluk melalui jaringan “Gulf Cooperation Council (GCC)”, meski beberapa rute masih terbatas. Ada pula yang mengalihkan kargo udara ke China atau Singapura untuk menghindari wilayah konflik.
Baca juga : Hari TB Sedunia 2026, Indonesia di WPRO
Perubahan rute ini berdampak pada biaya distribusi, yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen. Artikel tersebut menyebutkan, jika situasi belum membaik, konsumen di Amerika Serikat berpotensi menghadapi penyesuaian harga obat dalam 4 hingga 6 minggu ke depan.
Peran negara-negara Teluk memang krusial dalam rantai pasok obat dan alat kesehatan global. Kawasan ini menjadi penghubung antara Amerika Serikat dengan Afrika, Asia, Eropa, dan India. Negara-negara anggota “Gulf Cooperation Council (GCC)” seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) memiliki peran penting dalam industri farmasi senilai 23,7 miliar dolar AS. Sekitar 80 persen impor farmasi melewati jalur udara di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Sementara itu, “ABC News” pada 18 Maret 2026 juga memuat artikel berjudul “Middle East War Forces Pharmaceutical Companies to Reroute Critical Medicines to Ensure Australian Supply”. Disebutkan bahwa di Australia, ketersediaan obat merupakan bagian dari keamanan nasional.
Baca juga : Keseimbangan Konsumsi Makanan dan Aktivitas Fisik Sesudah Lebaran
Kondisi perang di Timur Tengah, ditambah posisi geografis Australia yang relatif jauh di selatan, membuat distribusi obat terdampak dan biaya meningkat. Perusahaan farmasi di negara tersebut disebut mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga ketersediaan obat. Hal ini menjadi pengingat bagi kita untuk melakukan antisipasi serupa.
Artikel tersebut juga mengutip pimpinan “The Independent Pharmacies Association (IPA) UK” yang menyatakan bahwa disrupsi transportasi akibat konflik dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku obat. Dampaknya bisa berlanjut pada proses produksi. Hal ini relevan bagi Indonesia, mengingat kita masih mengimpor sebagian bahan baku obat.
Perlu diperhatikan pula bahwa beberapa produk, seperti vaksin, insulin, bahan biologik, serta sebagian obat kanker, harus didistribusikan dalam rantai dingin (cold chain) dan memiliki masa simpan (shelf life) yang relatif pendek. Vaksin, misalnya, harus dijaga pada suhu 2°C hingga 8°C sepanjang proses distribusi.
Baca juga : Tuberkulosis Harus Diobati Dengan OAT Yang Benar
Jika jalur pengiriman harus memutar dan waktu tempuh menjadi lebih lama, risiko kerusakan akan meningkat. Dampaknya dapat memengaruhi kualitas obat dan vaksin.
Dengan demikian, faktor transportasi memiliki peran penting yang harus diperhitungkan secara cermat. Banyak negara telah mengantisipasi berbagai kemungkinan. Indonesia pun perlu melakukan langkah serupa.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
-Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 (PERSI),
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.