Dark/Light Mode

Vaksin Lengkap Dan Kejadian Campak

Senin, 9 Maret 2026 07:12 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Rakyat Merdeka RM.id pada 1 Maret 2026 menurunkan berita berjudul “Komisi IX Minta Percepat Vaksinasi Hingga 95 ­Persen”. Dalam berita itu disebutkan Senayan mencemaskan lonjakan kasus campak di ­Indonesia yang mencapai 8.224 suspek dalam dua bulan pertama 2026.

Disebutkan pula bahwa berdasarkan data epidemiologi per 23 Februari 2026, Indonesia mencatat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) di 17 kabupaten atau kota di 11 provinsi. Untuk menghentikan transmisi virus, diperlukan cakupan imunisasi minimal 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

Data ilmiah menunjukkan efikasi vaksin campak lengkap dua dosis mencapai sekitar 97 persen. Artinya, seseorang yang sudah mendapat vaksinasi lengkap masih memiliki kemung­kinan sekitar 3 persen untuk tetap terkena campak.

Namun, data lapangan kadang menunjukkan situasi berbeda. Baru-baru ini dilaporkan dua kasus campak di Australia pada penumpang pesawat dari Jakarta. Salah satu kasus tersebut ternyata telah menerima vaksin campak lengkap dua kali, tetapi tetap terinfeksi campak.

Baca juga : 12 Tips Puasa Sehat

Selain itu, data Kementerian Kesehatan dalam laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta laporan rutin provinsi (MR-02) per 28 Februari 2026 mencatat 572 kasus campak terkonfirmasi laboratorium sepanjang 2026. Artinya, diagnosis tidak hanya berdasarkan gejala klinis.

Dari 572 kasus tersebut, sekitar 67 persen belum pernah menerima imunisasi sama sekali. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan tertular dan akhir­nya mengalami penyakit ­campak.

Namun, data yang sama juga menunjukkan sekitar 15 persen dari kasus campak pada 2026 terjadi pada individu yang telah menerima vaksinasi dua kali atau lebih. Dengan kata lain, mereka telah mendapat vaksinasi lengkap dan seharusnya memiliki perlindungan.

Situasi ini perlu dianalisis agar program vaksinasi dan pengendalian campak dapat ditingkatkan di masa mendatang. Setidaknya ada lima kemungkinan penjelasan mengapa seseorang yang telah divaksinasi lengkap tetap dapat mengalami campak.

Baca juga : Indonesia Urutan Kedua KLB Campak Di Dunia

Pertama, efikasi vaksin campak sekitar 97 persen sehingga memang tidak mencapai 100 persen. Artinya, secara statistik masih ada kemungkinan sekitar 3 persen penerima vaksin tetap dapat terinfeksi. Namun jika angka kejadian mencapai sekitar 15 persen, maka kemungkinan terdapat faktor lain yang perlu dianalisis lebih mendalam.

Kedua, dapat terjadi penurunan kadar antibodi pada sebagian orang walaupun sudah divaksinasi. Selain itu, bayi yang divaksinasi pada usia terlalu dini dapat memiliki respons antibodi lebih rendah dan perlin­dungan yang lebih cepat menurun dibandingkan mereka yang divaksin sesuai jadwal.

Ketiga, paparan virus yang sangat intens dan berlangsung lama juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang tetap terinfeksi. Keempat, tidak tertutup kemungkinan terjadi perubahan atau mutasi pada virus sehingga sebagian imunitas yang dihasilkan vaksin menjadi berkurang.

Kelima, faktor yang juga ­sangat penting adalah mutu vaksin yang diberikan. Distribusi vaksin harus selalu dijaga pada suhu tertentu melalui sistem ­rantai dingin atau cold chain.

Baca juga : UHC Dan BPJS Kesehatan

Jika mutu vaksin tidak optimal maka perlindungan yang dihasilkan juga tidak maksimal. Selain itu, walaupun mutu vaksin awalnya baik, penyimpanan dan distribusi tanpa rantai dingin yang sesuai dapat menurunkan kualitas vaksin.

Jaminan rantai dingin ini sangat penting, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Tantangan semakin besar karena adanya wilayah terpencil serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang memiliki keterbatasan infrastruktur.

Karena itu, perlu dilakukan analisis mendalam mengenai penyebab sekitar 15 persen kasus campak pada awal 2026 yang terjadi pada individu ­dengan vaksinasi lengkap. Jika penyebabnya telah diketahui, maka langkah perbaikan dapat dilakukan agar kondisi serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.