Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Selama Februari 2026 tercatat dua kasus campak di Australia yang dihubungkan dengan penumpang pesawat terbang dari negara kita. Pertama di Perth, sesuai berita Rakyat Merdeka dalam RM.id 21 Februari 2026 berjudul “Campak di Australia Barat Berasal dari Pesawat Jakarta”, dan kedua di Sydney sesuai RM.id 24 Februari 2026 berjudul “Campak di Sydney Sesudah Perth, Dihubungkan dengan Pesawat dari Jakarta”.
Berita ini ditambah lagi dengan media news.com.au 22 Februari 2026 yang menuliskan bahwa beberapa negara populer di Asia Tenggara sedang menangani masalah KLB campak, termasuk Indonesia, “A number of popular Southeast Asian countries have been battling outbreaks of measles, including Indonesia.”
Dengan adanya perkembangan ini, baik kita melihat bagaimana situasi campak di negara kita berdasarkan data CDC, WHO, dan juga data Kementerian Kesehatan.
Laman “Global Measles Outbreaks” dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, 11 Februari 2026, yang mengutip data WHO, menunjukkan Indonesia adalah negara kedua dengan kasus wabah campak terbanyak, sesuai daftar 10 negara dengan KLB/wabah (outbreaks) campak terbanyak, “Top 10 Countries with Measles Outbreaks”.
Data ini didasarkan pada laporan pengawasan bulanan sementara kepada WHO per Januari 2026, mencakup periode Juli 2025–Desember 2025. Urutannya adalah: pertama Yaman dengan 11.288 kasus campak, disusul Indonesia dengan 10.744 kasus. India, dengan penduduk sekitar 1,3 miliar jiwa, berada di urutan ketiga sebanyak 9.666 kasus.
Berikutnya Pakistan 7.361 kasus, Angola 4.843, Republik Demokratik Rakyat Laos 3.167, Meksiko 2.846, Nigeria 2.755, Afganistan 2.668, dan Mongolia di urutan kesepuluh dengan 2.551 kasus campak.
Sementara itu, laman Kementerian Kesehatan pada 27 Agustus 2025 menyebutkan pada 2022 dilaporkan sebanyak 64 KLB campak di negara kita. Tahun 2023 meningkat menjadi 95 KLB.
Baca juga : UHC Dan BPJS Kesehatan
Pada 2024 menurun menjadi 53 KLB, namun kembali meningkat di 2025. Hingga Agustus 2025 tercatat sudah terjadi 46 KLB.
Tentang jumlah kasus, pada 2022 tercatat lebih dari 4.800 kasus campak terkonfirmasi, meningkat pada 2023 menjadi lebih dari 10.600 kasus. Pada 2024 menurun menjadi lebih dari 3.500 kasus, namun kembali meningkat pada 2025. Hingga Agustus 2025 telah tercatat lebih dari 3.400 kasus.
Disebutkan bahwa meningkatnya kasus campak di Indonesia berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir. Cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia pernah mencapai 92 persen pada 2018, namun turun menjadi 87,8 persen pada 2023.
Cakupan imunisasi campak-rubela (MR) dosis pertama (MR1) dan kedua (MR2) juga masih jauh dari target 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok. Pada 2024, cakupan MR1 sebesar 92 persen dan MR2 sebesar 82,3 persen. Tren ini berimbas langsung pada meningkatnya kasus campak.
Data terakhir di laman Kementerian Kesehatan 23 Februari 2026 menyebutkan tercatat 11.094 kasus campak terkonfirmasi sepanjang 2025. Sementara itu, hingga Februari 2026 telah dilaporkan sebanyak 550 kasus. Meski demikian, ditegaskan bahwa saat ini belum ada penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak secara nasional.
Baca juga : Penanganan Peningkatan Tuberkulosis di Malaysia
Di pihak lain, pada 11 Februari 2026 WHO Regional Eropa mengeluarkan publikasi yang menyatakan angka kasus campak di Eropa dan Asia Tengah tahun 2025 menurun secara bermakna dibandingkan 2024, berdasarkan data pendahuluan (preliminary data) dari 53 negara anggota regional WHO Eropa.
Jumlah kasus campak di Eropa dan Asia Tengah pada 2025 sebanyak 33.998 kasus, menurun hampir 75 persen dari 127.412 kasus pada 2024. Kendati terjadi penurunan, United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan WHO Eropa tetap memperingatkan risiko KLB/wabah yang masih perlu mendapat perhatian.
Disebutkan bahwa banyak kasus campak dapat dicegah bila cakupan imunisasi ditingkatkan dan respons penanganan KLB diperkuat.
Direktur Regional UNICEF untuk Eropa dan Asia Tengah menyebutkan bahwa selama belum semua anak divaksinasi dan informasi tidak benar dari kelompok penolak vaksin masih beredar, risiko campak tetap mengancam dan perlu terus diantisipasi.
Sementara, Direktur Regional WHO Eropa menyatakan bahwa meskipun kasus menurun, masih ada lebih dari 200.000 warga di kawasan tersebut yang terkena campak dalam tiga tahun terakhir.
Disampaikan pula lima hal penting dalam pengendalian campak. Pertama, cakupan vaksinasi minimal 95 persen. Kedua, memperkuat surveilans. Ketiga, melakukan respons penanganan KLB secara baik. Keempat, menangani informasi tidak benar tentang vaksinasi. Kelima, eliminasi campak berperan penting dalam ketahanan kesehatan negara dan kawasan.
Baca juga : Visi Kesehatan Kepulauan 2050
Kelima hal ini perlu dijadikan bahan kajian dalam pengendalian campak di negara kita.
Data nasional dan internasional tersebut kembali menunjukkan bahwa kita perlu memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit campak dan penyakit menular pada umumnya, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi nasional.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara,
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat,
- Penerima Rekor MURI April 2024,
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI,
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.