BREAKING NEWS
 

Setiap Jam, Jalan Raya “Membunuh” Lebih dari 100 Orang di Dunia

Senin, 11 Mei 2026 11:21 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Peristiwa tabrakan beruntun di perlintasan sebidang Bekasi beberapa hari lalu kembali mengguncang kita semua. Sebuah kendaraan diduga menerobos rel, lalu dalam hitungan detik, bukan hanya logam yang saling bertabrakan, tetapi juga harapan, rencana, dan masa depan banyak keluarga yang ikut dipertaruhkan.

Tragedi ini sesungguhnya jauh lebih besar daripada dari fenomena kecelakaan lalu lintas. Bekasi sedang mengingatkan kita tentang satu persoalan yang jauh lebih mendasar yaitu budaya keselamatan yang belum sepenuhnya menjadi budaya hidup.

Di Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI), kami mempelajari bahwa hampir semua bencana besar, baik di jalan raya, di rel kereta, di kawasan banjir, di ruang publik, bahkan di ruang digital, jarang dimulai karena bahaya semata. Tragedi hampir selalu dimulai ketika bahaya bertemu dengan manusia, yang kemudian merasa

“Saya tahu.”
“Saya sudah biasa.”
“Saya masih sempat.”
“Cuma sebentar aja.”

Justru empat kalimat sederhana itulah, yang sering kali menjadi awal dari kabar duka. Perlu dipahami bahwa kecelakaan lalu lintas bukan hanya masalah transportasi, namun krisis kesehatan publik, ekonomi keluarga, dan dalam banyak kasus adalah krisis antar generasi.

Laporan United Nations ESCAP 2024 menunjukkan bahwa, kawasan Asia Pasifik menyumbang hampir 59 persen seluruh kematian lalu lintas dunia, dengan lebih dari 702 ribu korban jiwa dalam satu tahun. Kerugian ekonomi mencapai 2,5 triliun dolar AS.

Fakta yang menyedihkan bahwa dua pertiga korban berada pada usia produktif. Artinya, yang hilang bukan sekadar angka, tetapi ayah dan ibu. Yang hilang adalah pencari nafkah. Yang hilang adalah anak muda yang bahkan mungkin baru saja merintis hidup.

Baca juga : Perempuan, Mobilitas, dan Ilusi Solusi: Membaca Ulang Gerbong KRL di Hari Buruh

Dan dalam banyak keluarga, ketika satu korban jatuh, efeknya tidak berhenti pada hari pemakaman. Laporan yang sama menunjukkan bahwa perempuan sering kali menjadi pihak yang harus menanggung dampak sosial-ekonomi pasca kecelakaan, bekerja lebih keras, menjadi caregiver, membesarkan anak sendirian, bahkan tidak sedikit yang akhirnya jatuh ke jurang kemiskinan. Jadi ketika kita berbicara tentang kecelakaan kita sesungguhnya sedang berbicara tentang efek domino antar generasi.

Ada satu fenomena menarik terkait kejadian kecelakaan, yaitu manusia takut naik pesawat, tetapi tidak takut jalan raya. Saat mendengar turbulensi di pesawat, banyak orang panik. Begitu juga ketika kereta melaju lebih dari seratus kilometer per jam, banyak orang waspada. Tetapi, saat mengemudi delapan puluh kilometer per jam sembari melihat ponsel, banyak orang merasa itu normal.

Data U.S. Bureau of Transportation Statistics menunjukkan bahwa secara konsisten, mayoritas kematian transportasi justru terjadi di jalan raya, bukan di udara, bukan di rel, bukan di laut. Fenomena ini terjadi bukan hanya di Amerika semata, namun telah menjadi pola global.

Temuan World Health Organization menunjukkan, sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun di jalan raya. Artinya, setiap hari sekitar 3.200 nyawa hilang. Setiap jamnya lebih dari 130 orang meninggal, yang bermakna, lebih dari seratus keluarga di dunia kehilangan orang yang mereka cintai akibat kecelakaan lalu lintas.

Karena itulah, jalan raya hari ini lebih mematikan daripada pesawat, kapal, bahkan kereta. Ironisnya, justru karena kita melewatinya setiap hari, kita mulai menganggap risiko itu biasa, yang kemudian menjadi persoalan sesungguhnya. Mengingat, di negara maju sekalipun, mereka masih berjuang keras membangun budaya keselamatan. 

Adsense

Penelitian dari University of New South Wales dalam Towards a Holistic Framework for Road Safety menyebutkan dengan sangat tegas, road trauma is a public health crisis. Penelitian tersebut menunjukkan perubahan besar dalam keselamatan jalan tidak pernah lahir dari teknologi semata, namun lahir dari perubahan norma sosial.

Oleh karenanya, kamera CCTV boleh semakin canggih, mobil boleh semakin cerdas, tetapi kalau manusianya masih membawa budaya 
“Saya buru-buru…”
“Sudah biasa…”
“Tidak akan kenapa-kenapa…”

maka teknologi pun hanya akan menjadi kosmetik.

Baca juga : Diamnya Anak Hari Ini, Krisis Besar di Masa Depan

Survei terbaru Network Rail UK terhadap lebih dari dua ribu warga Inggris menunjukkan fakta yang mengejutkan, bahwa tujuh dari sepuluh anak muda, percaya mereka masih bisa menghindari kereta yang datang. Bahkan, hampir seluruh responden tidak tahu bahwa kereta membutuhkan hingga 1,6 kilometer jarak untuk dapat berhenti total. Studi juga menemukan banyak yang tetap menggunakan ponsel atau headphone saat melintasi rel misalnya. 

Sementara, penelitian lain di Eropa menunjukkan, 41 persen warga tetap menggunakan jalur ilegal di sekitar rel, dan 84,8 persen mengaku melakukannya karena lebih cepat. Temuan ini membuktikan satu hal yang sangat penting bahwa masalah terbesar manusia bukan kurang tahu bahaya, namun manusia terlalu percaya diri terhadap bahaya. Dalam ilmu perilaku risiko, ini disebut familiarity bias.

Semakin sering manusia menghadapi risiko, maka semakin kecil merasa risiko itu berbahaya. Karena dilakukan setiap hari, otak pun mulai menganggap bahwa menerobos lampu merah, melawan arus sedikit, menutup rel, dan membuka WhatsApp sambil menyetir, adalah normal. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa praktik - praktik tersebut, bukan soal keberanian, namun apa yang disebut sebagai risk normalization, bahaya yang sudah dinormalisasi.

Kabar baiknya, budaya keselamatan bisa dibangun. Data ESCAP menunjukkan bahwa antara 2010–2021, Jepang dan Singapura berhasil menurunkan kematian lalu lintas lebih dari 50 persen. Demikian juga dengan kondisi di Korea Selatan dan Rusia, yang juga menunjukkan penurunan jumlah kematian yang signifikan. Hal ini ditengarai bukan karena warga mereka tidak pernah salah, tetapi karena sistem mereka, memahami bahwa manusia bisa salah, oleh karenanya sistem yang kemudian terus bergerak semakin cerdas.

Mereka membangun tiga hal secara konsisten yaitu:  
Engineering, dengan desain kebijakan di jalan yang berbasis data pola perilaku manusia;
Enforcement, melalui penegakan hukum yang inovatif dan sistematis ;
Engagement, lewat edukasi publik yang konsisten dan tidak berhenti setelah tragedi.

Di tengah tantangan itu, budaya yang menjanjikan mulai tumbuh di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Sejak akhir 2025 hingga April 2026, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) PMJ menerapkan Ripple Effect, pendekatan yang berfokus mengubah perilaku dari takut dihukum, menjadi tertib karena merasa dilindungi.

Data terkini pada Bulan Maret hingga April 2026 misalnya, menunjukkan jumlah kecelakaan turun dari 1.191 menjadi 959 kasus, atau turun sekitar 19 persen. Dalam periode yang sama, penegakan ETLE meningkat dari 24.516 menjadi 52.116.

Baca juga : Anak Vs Algoritma: Negara Harus Memihak Siapa?

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika sistem semakin konsisten, maka perilaku mulai berubah. Saat edukasi keselamatan terlihat di media sosial seperti di TMC, penindakan yang semakin transparan serta ruang gelap pelanggaran mulai dipersempit, maka budaya baru pun pelan-pelan mulai terbentuk. Inilah yang disebut dengan ripple effect, sebuah kebijakan yang fokusnya bukan sekadar menilang, tetapi membangun budaya.

Ke depan, tragedi Bekasi tidak boleh berhenti sebagai berita, namun harus menjadi titik balik cara pandang kita semua dalam budaya keselamatan, karena kecelakaan tidak pernah kompromi, dan maut tidak pernah peduli apakah kita sedang terlambat ke kantor, sedang mengejar meeting, ataupun sedang membalas pesan.

Jika Indonesia benar-benar ingin menurunkan korban jiwa, maka keselamatan harus berhenti menjadi slogan, namun menjadi budaya di keluarga, sekolah, komunitas, media dan institusi. Karena pada akhirnya, keselamatan bukan soal takut ditilang, namun tentang seseorang bisa pulang, dan tidak menjadi kabar duka bagi keluarganya.

Dr. Devie Rahmawati, CICS
Tim Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia dan Folks Strategic

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense