BREAKING NEWS
 

Diplomasi Senyap Sang Presiden

Sabtu, 6 Juni 2026 16:04 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Apresiasi Presiden Perancis, Emmanuel Macron terhadap posisi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto mengenai Palestina membuat saya melihat satu hal yang menarik. Karena selama ini banyak masyarakat Indonesia mengira diplomasi diukur dari seberapa sering seorang pemimpin berbicara.

Terkadang mereka mengukur dari jumlah konferensi pers dan dari banyaknya pernyataan yang muncul di media. Padahal dalam hubungan internasional, ukuran yang jauh lebih penting adalah siapa yang akhirnya memilih untuk mendengar. Dan yang mendengar kali ini adalah Emmanuel Macron.

Macron pemimpin negara kecil yang sedang mencari perhatian dunia? Bukan. Ia adalah pemimpin Prancis, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, negara pemilik hak veto, salah satu kekuatan politik utama Eropa, sekaligus tokoh yang dalam beberapa bulan terakhir semakin aktif mendorong pengakuan terhadap negara Palestina.

Karena itu, sulit bagi saya untuk melihat apresiasi Macron itu sebagai sekadar kalimat basa-basi politik yang digunakan untuk menyenangkan tamu negara. Terlalu sederhana jika dibaca seperti itu. Selama bertahun-tahun Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang paling konsisten membela Palestina.

Two-state solution terus digaungkan, bahkan di Sidang Umum PBB, Prabowo menekankan ulang hal tersebut. Sikap itu tidak berubah. Presiden berganti, pemerintahan berganti, dunia berubah, tapi posisi Indonesia tetap berdiri di tempat yang sama.

Baca juga : Ultras Milan Serang Cardinale

Palestina harus memperoleh kemerdekaannya. Penjajahan tidak memiliki tempat di muka bumi. Itu adalah posisi yang sudah selesai bagi Indonesia. Namun dunia hari ini menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit daripada sekadar memilih pihak yang disukai dan pihak yang dibenci. Gaza terbakar.

Timur Tengah terus bergejolak. Negara-negara besar saling mengunci kepentingan. Dalam situasi seperti itu, dunia membutuhkan lebih banyak solusi dan lebih sedikit pertunjukan politik. Karena itu sangat masuk akal bahwa kita bisa melihat posisi Presiden Prabowo mendapatkan perhatian. Indonesia tetap membela Palestina, lewat cara pembicaraan soal solusi, bukan sekadar teriak harus merdeka. Indonesia tetap memegang prinsip, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk berdialog.

Dunia internasional selalu menghargai negara yang mampu memegang keduanya sekaligus. Anak-anak muda hari ini sering menggunakan istilah yang saya kira cukup menarik, legend acknowledge legend.

Saya tersenyum ketika mendengar istilah tersebut. Tentu diplomasi internasional tidak bekerja dengan logika media sosial. Namun ada satu kenyataan yang tidak banyak berubah sejak dahulu.

Adsense

Pemimpin dunia memberi perhatian kepada pemimpin yang mereka anggap memiliki arti. Negara yang berpengaruh mendengar negara yang mereka anggap relevan. Respek dalam politik internasional lahir ketika sebuah negara berhasil menunjukkan bobotnya, yang justru di bagian penting ini, banyak orang sering keliru membaca makna diplomasi.

Baca juga : Golkar: Diplomasi Presiden Perkuat Kepentingan Nasional

Perhatian mereka terlalu sering tertuju pada pesawat yang digunakan, negara yang dikunjungi, atau berapa hari seorang presiden berada di luar negeri. Padahal yang jauh lebih penting adalah aksi-aksi yang terjadi di balik pintu-pintu pertemuan itu.

Apa yang didengar. Apa yang mulai dipercayai oleh para pemimpin dunia mengenai Indonesia. Dunia tidak pernah berubah karena ramainya media sosial. Dunia berubah karena dialog antarnegara. Dunia berubah karena kepercayaan yang dibangunoleh pemimpin yang mampu membuat negara lain mendengar pandangannya.

Apresiasi Macron terhadap posisi Presiden Prabowo mengenai Palestina sebagai sesuatu yang layak dihargai. Buat apa Perancis menjilat Indonesia? Pun tidak karena Indonesia sedang mencari pujian. Maknanya jauh lebih besar. Dunia sedang menunjukkan bahwa suara Indonesia masih memiliki tempat yang terhormat dalam percaturan internasional. Inilah esensi diplomasi senyap yang sesungguhnya.

Diplomasi senyap tidak sama dengan diplomasi diam. Diplomasi senyap adalah diplomasi yang bekerja tanpa perlu berisik setiap hari. Hasilnya terlihat ketika pemimpin-pemimpin dunia mulai memperhatikan apa yang disampaikan Indonesia.

Dan ketika Emmanuel Macron memberikan apresiasi terhadap posisi Presiden Prabowo mengenai Palestina, pesan politiknya sangat jelas. Indonesia sedang didengar. Palestina siap menjadi negara yang diakui dunia?

Baca juga : Demokrasi Tanpa Sanksi

Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si.

Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar.

Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Kotea Selatan.

Visiting Professor Tomsk State University (TSU) Siberia Rusia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense