Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto memberikan kabar gembira perihal kondisi ekonomi Indonesia. Kepala Negara memastikan kondisi ekonomi Indonesia aman di tengah krisis yang dihadapi dunia.
Prabowo menggambarkan situasi global saat ini diliputi ketidakpastian. Terutama akibat krisis pangan dan energi yang memicu kepanikan di sejumlah negara.
“Banyak negara sudah panik, kita masih aman,” kata Prabowo saat menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monumen Nasional, Jumat (1/5/2026).
Prabowo menjelaskan, ketahanan ekonomi nasional saat ini ditopang oleh capaian swasembada pangan serta amannya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah juga menargetkan Indonesia segera mencapai swasembada energi guna memperkuat kemandirian nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
“Tidak lama lagi kita akan swasembada BBM, swasembada energi. Target kita adalah mandiri sepenuhnya,” ujarnya.
Baca juga : 80 Persen Masih Impor, Urusan LPG Perlu Terobosan Radikal
Sebelumnya, Prabowo mengatakan, Pemerintah menargetkan swasembada energi dapat tercapai paling lambat pada 2029. “Kalau bisa lebih dulu, ya kita akan bekerja cepat,” ujar Prabowo saat kunjungan kerja di SMA Negeri 1 Cilacap, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi yang besar, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, hingga energi baru terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah.
Senada dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Menurut dia, perekonomian Indonesia tetap memiliki resiliensi kuat di tengah tekanan global.
Ia memaparkan, sejumlah indikator ekonomi nasional yang masih terjaga, di antaranya pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada tahun sebelumnya dan ditargetkan meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026. Bahkan, pertumbuhan pada kuartal I-2026 diperkirakan dapat mencapai sekitar 5,5 persen.
Selain itu, inflasi dinilai tetap terkendali di kisaran 3,48 persen. Sementara indeks keyakinan konsumen berada di level tinggi, yakni 122,9. “Konsumsi dalam negeri masih menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB),” ujar Airlangga.
Baca juga : Polri Temukan Unsur Pidana, Kecelakaan Kereta Api Di Bekasi Naik Ke Penyidikan
Dari sisi eksternal, ia menyebut neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut dengan nilai mencapai 148,2 miliar dolar AS. Rasio utang luar negeri juga relatif terkendali di level 29,9 persen terhadap PDB.
Struktur pembiayaan negara pun dinilai kuat, dengan kepemilikan surat berharga negara (SBN) didominasi investor domestik sebesar 87,4 persen, sementara investor asing sebesar 12,6 persen.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, ketahanan energi Indonesia termasuk yang terbaik kedua di dunia di tengah tekanan geopolitik global. Menurut Bahlil, penilaian tersebut mengacu pada laporan Eye on the Market yang diterbitkan JP Morgan Asset Management.
Menurut dia, capaian tersebut didukung oleh produksi domestik minyak dan gas bumi, cadangan batu bara yang masih besar, serta potensi energi baru terbarukan yang terus dikembangkan.
Sedangkan, Pengamat Ekonomi Anzori Tawakal menilai, gejolak ekonomi global justru membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor. Menurut dia, terganggunya distribusi energi dan perdagangan internasional akibat ketegangan geopolitik memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan pasar global, terutama pada sektor energi, pangan, dan bahan baku industri.
Baca juga : Tak Dibantu Gempur Iran, Trump Jengkel Ke Negara NATO
“Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperoleh keuntungan dari kenaikan permintaan global,” ujarnya, Jumat (1/5/20/2026).
Ia menambahkan, meningkatnya permintaan terhadap komoditas seperti minyak nabati, hasil tambang, dan produk pangan berpotensi mendorong nilai ekspor nasional sekaligus meningkatkan produksi dalam negeri dan penyerapan tenaga kerja.
Selain itu, kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai tambah produk ekspor, sehingga tidak lagi bergantung pada bahan mentah. Dengan penguatan sektor industri pengolahan, kata dia, Indonesia diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai tinggi yang sesuai dengan kebutuhan pasar global. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya