Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Agama dapat dianalogikan dengan energi nuklir. Energi nuklir memiliki daya yang sangat besar dan mampu memberikan manfaat luar biasa sebagai sumber pembangkit listrik yang relatif lebih murah dibandingkan energi berbasis gas atau batu bara. Namun, di sisi lain, nuklir juga dapat menjadi kekuatan penghancur yang dahsyat, sebagaimana peristiwa yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.
Demikian pula agama. Agama memiliki kekuatan positif yang luar biasa sebagai daya penyatu (centripetal) dan sebagai sumber motivasi yang sangat kuat untuk menggerakkan individu maupun masyarakat melakukan berbagai kebaikan. Akan tetapi, agama juga memiliki potensi sebagai daya pemecah-belah (centrifugal). Agama dapat menjadi faktor sentrifugal ketika para penganutnya mengarahkan dan mengerahkan potensi tersebut ke arah yang salah.
Baca juga : Ketika Agama Menjadi Legitimasi Politik
Sebagaimana kekuatan sentripetal mampu melahirkan manfaat yang luar biasa, kekuatan sentrifugal pun dapat menimbulkan dampak yang sama besarnya, bahkan dalam bentuk kehancuran.
Daya pemecah, bahkan daya penghancur yang dimiliki agama, jauh lebih dahsyat dibandingkan ikatan-ikatan primordial seperti kesukuan, kebangsaan, kebahasaan, maupun kedaerahan. Kekuatan agama melampaui batas-batas geografis, sekat-sekat budaya, dan identitas sosial.
Baca juga : Ketika Agama Mengalami Desakralisasi
Ia mampu menyentuh relung jiwa manusia yang paling dalam sehingga seseorang dapat mengesampingkan kepentingan keluarga, etnis, daerah, bangsa, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keyakinan agamanya.
Karena itu, apabila suatu seruan dikemas dengan bahasa agama, masyarakat perlu bersikap sangat hati-hati. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan, ’Isy karīman aw mut syahīdan—hiduplah dengan mulia atau matilah sebagai syahid. Apabila ungkapan seperti ini dipahami secara keliru atau dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, dampaknya dapat sangat berbahaya.
Baca juga : Ketika Agama Kehilangan Fungsi Kritis
Agar agama tetap menjadi faktor sentripetal dan tidak berubah menjadi faktor sentrifugal, agama harus dipelihara, dirawat, dan dikelola dengan baik oleh tangan-tangan yang profesional, berintegritas, dan amanah. Agama yang salah dikelola ibarat memelihara seekor harimau yang pada akhirnya dapat memangsa pemeliharanya sendiri.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.