BREAKING NEWS
 

Mengenal Islam Berkeindonesiaan (9)

Bercorak Inklusif

Senin, 13 Juli 2026 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam lintasan sejarah perkembangan Islam dikenal dua corak pemahaman dan penghayatan Islam, yaitu corak eksklusif dan corak inklusif.

Corak yang pertama lebih berorientasi pada teks dalam memahami dalil-dalil agama sehingga cenderung bersifat “hitam-putih” dan formalistik dalam memahami ajaran Islam. Sementara itu, corak yang kedua lebih berorientasi pada konteks sehingga terkesan lebih fleksibel dalam memahami ajaran Islam.

Keduanya sama-sama berpegang teguh pada nilai-nilai dasar Islam, tetapi berbeda dalam persoalan non-dasar (furu’iyyah). Corak yang pertama lebih menekankan aspek fikih (madhhab-oriented), sedangkan corak yang kedua lebih menekankan ushul fikih (maqashid-oriented).

Islam berkeindonesiaan lebih akrab dengan corak Islam inklusif, yaitu pemahaman yang senantiasa berupaya menampilkan Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang (rahmah), toleransi (tasamuh), dan keadilan (’adalah).

Corak ini menekankan pentingnya titik temu, ruang perjumpaan, dan kesepahaman bersama (kalimah sawa’), bukan menampilkan wajah Islam yang identik dengan kekerasan (tasyaddud) dan terorisme (irhab).

Baca juga : Senapas dengan Warisan Spiritual Bangsa

Islam yang inklusif juga ramah terhadap lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Ia mampu berdiri di atas, atau berdampingan dengan, nilai-nilai lokal dan budaya setempat.

Islam memberi ruang bagi kearifan lokal, bahkan mampu menjadi wadah peleburan (melting pot) berbagai nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat. Kehadiran Islam tidak harus menyingkirkan nilai-nilai lokal.

Meskipun Islam mengandung nilai-nilai universal, konsep universalitas yang diusungnya bukanlah konsep yang tertutup, melainkan terbuka.

Adsense

Para penyebar Islam di Nusantara meneladani cara Nabi Muhammad saw. dalam mengembangkan ajaran Islam di Jazirah Arab, khususnya di Madinah. Nabi membangun peradaban Islam bukan dengan memulai dari nol, melainkan dengan melestarikan tradisi yang telah baik, mengembangkan hal-hal yang masih sederhana, serta menciptakan berbagai pembaruan yang belum ada. Hal ini dipertegas dalam sabda beliau:

“Innamā bu’itstu li utammima makārim al-akhlāq” (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak).

Baca juga : Islam Yang Berkultur Maritim

Kata utammima menunjukkan makna menyempurnakan sesuatu yang telah ada, bukan menggantikannya sama sekali. Dengan demikian, nilai-nilai lokal tidak perlu merasa terancam oleh kehadiran Islam.

Ketegangan konseptual dapat terjadi ketika nilai-nilai universal dipahami secara kaku di satu sisi, sementara di sisi lain berhadapan dengan fanatisme terhadap nilai-nilai lokal.

Fenomena seperti ini kerap terjadi, tetapi pada umumnya dapat diselesaikan melalui kearifan para tokoh dari kedua belah pihak. Jalan tengah biasanya ditemukan melalui kesepakatan yang menghargai adat-istiadat setempat.

Dalam Islam, pendekatan semacam ini dimungkinkan karena penerapan nilai-nilai Islam tidak harus dilakukan sekaligus. Bahkan Allah SWT. menurunkan seluruh ayat Al-Qur’an secara bertahap selama 23 tahun.

Dalam tradisi Islam dikenal prinsip tadarruj, yaitu penerapan ajaran secara berangsur-angsur, tahap demi tahap. Selain itu, dikenal pula prinsip taqlil al-taklif, yaitu pemberian beban secara bertahap sesuai dengan kesiapan umat, hingga akhirnya nilai-nilai Islam dapat diwujudkan secara utuh.

Baca juga : Islam Yang Berkemelayuan

Keutuhan universalitas ajaran Islam dicapai melalui sinergi antara nilai-nilai lokal dan ajaran dasar Islam.

Dengan demikian, Islam hadir sebagai kelanjutan dan penyempurna tradisi yang telah hidup dalam masyarakat, bukan sebagai kekuatan yang meniadakan seluruh warisan budaya lokal dengan menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru. 

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 13 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (9) Bercorak Inklusif"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense