Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dunia Islam pascabadai gurun mengalami perkembangan yang menarik. Mobilitas yang tinggi dan pola migrasi umat Islam telah membawa pengaruh tersendiri di dunia Barat. Selama dua dasawarsa terakhir diperkirakan lebih dari lima juta umat Islam melakukan eksodus besar-besaran ke negara-negara maju di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Selatan.
Berbagai krisis yang melanda kawasan Timur Tengah, seperti krisis politik, ekonomi, dan sosial di negara-negara asal mereka, mendorong banyak masyarakat Muslim untuk berhijrah ke negara-negara tersebut.
Menurut Murad W. Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, dalam bukunya Religion on the Rise: Islam in the Third Millennium, eksodus besar-besaran umat Islam akan memberikan dampak terhadap hegemoni sosial-politik dunia, mengingat Islam merupakan sistem ajaran yang menuntut loyalitas para penganutnya.
Baca juga : Menyatukan Visi Dakwah
Di dunia Barat kini telah lahir generasi kedua umat Islam yang tetap mempertahankan identitas keislamannya (the Western-born and second-generation Muslims). Di mana pun komunitas Islam berada, mereka selalu membentuk lingkungan sosial yang khas. Mereka memiliki simbol-simbol perekat, seperti masjid, makanan halal (halal food), pendidikan dasar keagamaan bagi anak-anak, serta majelis taklim bagi para orang tua.
Di satu sisi, keterikatan mereka dengan negara asal tetap sangat kuat karena hubungan dengan tokoh-tokoh agama yang kharismatik dari tanah kelahiran terus dipelihara. Bahkan, secara berkala para tokoh spiritual tersebut diundang ke negara tempat mereka bermukim untuk memberikan pembinaan dan pencerahan. Di sisi lain, generasi kedua Muslim ini dituntut oleh negara tempat mereka dilahirkan atau dibesarkan untuk memberikan loyalitas penuh sebagaimana warga negara lainnya.
Secara emosional dan spiritual, warga Muslim masih memiliki ikatan dengan negeri asal. Namun, secara hukum ketatanegaraan mereka diwajibkan untuk memberikan loyalitas sepenuhnya kepada negara tempat mereka menjadi warga negara. Kenyataannya, umat Islam di negara “kedua” ini membayar pajak kepada negara tempat mereka berdomisili, tetapi zakat harta mereka sering disalurkan ke negeri asal. Bahkan, sebagian di antara mereka masih menyerahkan hewan kurban dan kambing akikah kepada keluarga atau masyarakat di tanah kelahiran. Sebagian lainnya juga membangun rumah di negeri asal serta menginvestasikan dana yang mereka kumpulkan di sana.
Baca juga : Meninjau Empat Unsur Dakwah
Kegigihan dan keuletan umat Islam dalam bekerja di negara tujuan juga membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. Suatu ketika, Wali Kota Philadelphia, Amerika Serikat, memberikan pengakuan terhadap keberadaan komunitas Muslim di wilayahnya.
Pengakuan tersebut ternyata tidak menimbulkan reaksi berlebihan dari masyarakat mayoritas beragama Nasrani. Para imigran Muslim pun relatif mudah berintegrasi dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.
Perubahan positif yang terjadi di kawasan Philadelphia Utara mengundang simpati banyak pihak. Masyarakat Afrika-Amerika di wilayah tersebut sebelumnya dikenal memiliki berbagai persoalan sosial, seperti lingkungan yang kurang terawat, tingginya konsumsi minuman beralkohol, tingkat kriminalitas yang tinggi, perjudian, dan prostitusi.
Baca juga : Apa Itu Khairah Ummah?
Namun, setelah banyak di antara mereka memeluk Islam, kondisi lingkungan menjadi lebih bersih, penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman beralkohol menurun, serta mutu sekolah-sekolah di kawasan tersebut meningkat. Bahkan, dalam beberapa aspek, kualitasnya dinilai lebih baik dibandingkan sekolah-sekolah di Philadelphia Selatan yang didominasi masyarakat kulit putih.
Umat Islam yang tersebar di berbagai belahan dunia juga relatif lebih mudah memperoleh perlindungan sebagai pengungsi karena adanya lembaga-lembaga internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengawasi mobilitas dan perlindungan para pengungsi. Sebagai pekerja yang dikenal ulet dan tekun, tidak sedikit umat Islam yang kemudian berhasil menembus lapisan kelas menengah atas dalam bidang ekonomi di Amerika Serikat maupun Eropa.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 31 Juli 2026 dengan judul "Trend Masa Depan Umat (5) Globalisasi Umat Islam"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.