Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam sebuah Muktamar PBNU, pernah diusung tema besar: “Mengukuhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.”
Para tokoh dan ulama NU banyak berbicara sekaligus mempromosikan Islam Nusantara. Begitu gencarnya promosi tersebut sehingga tidak sedikit di antara para muktamirin saat itu mengungkapkan kekhawatirannya kepada penulis: apakah isu Islam Nusantara tidak akan menggeser Islam Aswaja? Mengapa para pendiri NU dahulu tidak memopulerkan istilah ini?
Sebagai katalisator Islam berkeindonesiaan, para tokoh NU, khususnya rezim yang memimpin PBNU, perlu segera menyusun cetak biru mengenai apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Islam Nusantara, baik dalam cita maupun fakta, dalam teori maupun praktik.
Kekhawatiran para muktamirin tersebut tidak dapat dianggap enteng hanya karena indahnya istilah Islam Nusantara yang memadukan unsur keislaman dan kebangsaan. Sesungguhnya, merumuskan Islam Nusantara jauh lebih rumit daripada merumuskan Islam Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah).
Bahkan, hingga saat ini belum ada satu pun buku yang secara komprehensif membahas Islam Aswaja, baik yang ditulis oleh perseorangan warga NU maupun oleh institusi NU sendiri.
Salah satu kesulitan organisasi kepemudaan di bawah NU dalam memperkenalkan Islam Aswaja kepada para peserta pelatihan mereka adalah belum tersedianya referensi resmi dari PBNU mengenai konsep tersebut.
Memang telah diterbitkan sejumlah buku kecil, tetapi umumnya bukan merupakan karya yang disusun secara serius. Sebagian besar hanya berupa kumpulan ceramah yang kemudian dibukukan, bukan hasil penelitian akademik yang mendalam.
Dapat dibayangkan, ketika buku mengenai Islam Aswaja saja belum lahir dari PBNU, kini muncul pula gagasan Islam Nusantara. Oleh karena itu, kekhawatiran sejumlah muktamirin terhadap tema tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Kita tentu tidak ingin Islam Nusantara hanya menjadi slogan tanpa makna dan konsep yang jelas.
Baca juga : Dari “Islam Arab” ke “Islam Nusantara”
Sebuah pemikiran atau konsepsi baru dapat disebut sebagai konsep apabila telah dirumuskan secara sistematis, dengan kejelasan hubungan antara unsur-unsur yang bersifat subordinat dan superordinat dalam bangunan gagasannya.
Sebuah konsep dapat disebut konsepsional apabila telah memiliki body of knowledge yang utuh. Karena NU menjadi katalisator lahirnya gagasan ini, maka NU pula yang bertanggung jawab menyusun dan merumuskan secara jelas apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara.
Kekhawatiran lain juga dapat muncul jika melihat bahwa kepengurusan harian PBNU saat ini didominasi oleh tokoh-tokoh yang selama ini lebih banyak berkecimpung di dunia politik dan organisasi kemasyarakatan.
Kita tentu tidak ingin muatan Islam Nusantara lebih didominasi oleh paradigma politik yang sangat kontemporer. Apabila di kemudian hari masyarakat merasa kecewa terhadap wajah dan persepsi Islam Nusantara sebagaimana didengungkan oleh tokoh-tokoh NU, maka yang dipertaruhkan bukan hanya konsep Islam Nusantara itu sendiri, melainkan juga nama besar NU sebagai pengusungnya.
Pada akhirnya, orang dapat saja menyimpulkan bahwa NU kaya akan konsepsi, tetapi miskin konsep. Sebaliknya, Muhammadiyah mungkin dianggap miskin konsepsi—atau lebih tepatnya sangat berhati-hati dalam melontarkan konsepsi—namun kaya dalam konsep.
Sebuah bangunan yang berdiri di atas konsepsi semata umumnya tidak bertahan lama. Sebaliknya, bangunan yang didasarkan pada konsep yang kokoh cenderung lebih bertahan karena memiliki landasan yang lebih konstruktif.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 24 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (20) PR Untuk PBNU"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.