BREAKING NEWS
 

Prabowo–Putin dan Arah Baru Diplomasi Indonesia–Rusia

Jumat, 21 Agustus 2026 08:53 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg, Rusia, 19 Juni 2025, bukan sekadar pertemuan dua kepala negara.

Di balik jabat tangan dan pembicaraan bilateral itu tersimpan pesan yang jauh lebih besar: Indonesia sedang memperkuat politik luar negerinya di tengah perubahan besar tatanan dunia.

Hubungan Indonesia dan Rusia bukanlah hubungan yang baru dibangun. Tahun ini, kedua negara memperingati 75 tahun hubungan diplomatik. Selama lebih dari tujuh dekade, hubungan Indonesia–Rusia telah melewati berbagai perubahan zaman, pergantian pemerintahan, dinamika geopolitik, hingga perubahan keseimbangan kekuatan dunia.

Karena itu, pertemuan Prabowo dan Putin patut dibaca bukan hanya dari apa yang dibicarakan, tetapi juga dari arah strategis yang sedang dibangun Indonesia.

Salah satu isu penting yang mengemuka adalah apresiasi Rusia terhadap dukungan bagi keanggotaan Indonesia di BRICS. Bagi Indonesia, BRICS bukan semata-mata forum ekonomi. Keanggotaan tersebut dapat menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperluas pilihan kerja sama sekaligus memperkuat posisi dalam tata ekonomi dunia yang semakin multipolar.

Indonesia selama ini dikenal konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif. Prinsip itu tidak berarti Indonesia harus menjaga jarak dari semua kekuatan besar. Justru sebaliknya, Indonesia harus mampu membangun hubungan yang konstruktif dengan berbagai pusat kekuatan dunia tanpa kehilangan kepentingan nasional dan kemandirian dalam mengambil keputusan.

Dalam konteks inilah hubungan dengan Rusia menjadi penting.

Pembicaraan Prabowo dan Putin juga mencakup penguatan kerja sama ekonomi serta sejumlah sektor strategis. Salah satu yang menarik perhatian adalah rencana kerja sama pengembangan reaktor nuklir modular berkapasitas 500 megawatt.

Isu energi akan menjadi salah satu tantangan terbesar Indonesia di masa depan. Pertumbuhan ekonomi membutuhkan energi yang semakin besar, sementara tuntutan terhadap sumber energi yang bersih dan berkelanjutan juga terus meningkat.

Baca juga : Kunjungi Korban Gempa NTT, Gibran Boyong Mahasiswa UI

Kerja sama teknologi nuklir karena itu harus dilihat sebagai bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai ketahanan energi. Tentu, setiap langkah menuju pemanfaatan energi nuklir harus dibangun dengan standar keselamatan, tata kelola, transparansi, dan pengawasan yang kuat. Namun secara strategis, Indonesia perlu membuka diri terhadap perkembangan teknologi energi dari berbagai negara.

Selain energi, ruang kerja sama Indonesia–Rusia juga semakin luas. Pertahanan, teknologi, transportasi, pendidikan, digitalisasi, media massa, hingga kebudayaan masuk dalam agenda hubungan bilateral.

Empat kesepakatan yang ditandatangani dalam kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia–Rusia tidak hanya bertumpu pada hubungan politik tingkat tinggi.

Ada kerja sama pendidikan tinggi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia dengan Kementerian Sains dan Pendidikan Tinggi Rusia. Ada pula kerja sama sektor transportasi antarkedua negara, kerja sama pengembangan digital dan media massa, serta kolaborasi antara Danantara dan perusahaan saham gabungan Management Company of Russian Direct Investment Fund.

Rangkaian kerja sama tersebut menunjukkan satu hal penting: diplomasi modern tidak lagi hanya berbicara tentang hubungan antarmenteri luar negeri atau pertemuan para pemimpin negara. Diplomasi harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Pendidikan, misalnya, merupakan investasi jangka panjang. Kerja sama pendidikan tinggi dengan Rusia dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

Begitu pula kerja sama digital. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis teknologi. Negara yang mampu menguasai teknologi, data, kecerdasan buatan, dan ekosistem digital akan memiliki posisi penting dalam persaingan global.

Adsense

Dalam kerangka itu, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Indonesia harus menjadi pemain.

Hal yang sama berlaku di bidang pertahanan. Kerja sama pertahanan dengan negara lain harus ditempatkan dalam kerangka memperkuat kemampuan nasional, meningkatkan kapasitas industri pertahanan, serta membangun kemandirian teknologi. Hubungan pertahanan tidak boleh semata-mata berhenti pada pembelian alat utama sistem persenjataan, tetapi harus diarahkan pada transfer teknologi, pengembangan industri dalam negeri, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Baca juga : Tahun Depan, Truk ODOL Bakal Kena Tilang Otomatis

Ada pula dimensi kemanusiaan dan kebudayaan yang tidak kalah penting.

Hubungan Indonesia dan Rusia telah berkembang lebih dari 60 tahun dalam berbagai bidang sosial dan budaya. Hubungan antarmasyarakat, pendidikan, kebudayaan, serta pertukaran generasi muda menjadi modal diplomasi yang sering kali justru bertahan lebih lama daripada hubungan politik.

Dalam dunia yang penuh ketegangan geopolitik, diplomasi kebudayaan dapat menjadi jembatan.

Kunjungan Prabowo ke Rusia juga memiliki dimensi diplomatik yang lebih luas. Selain bertemu Putin, Prabowo menjadi pembicara utama dalam St. Petersburg International Economic Forum pada 20 Juni 2025. Kehadiran tersebut memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan pandangan mengenai posisi dan kepentingan Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.

Di sinilah kekuatan diplomasi Indonesia seharusnya dimainkan: percaya diri, terbuka, tetapi tetap berpijak pada kepentingan nasional.

Indonesia tidak perlu memilih antara Timur dan Barat. Indonesia tidak harus menjadi bagian dari blok tertentu untuk menunjukkan keberpihakannya kepada perdamaian. Indonesia dapat bekerja sama dengan siapa saja selama kerja sama tersebut memberikan manfaat bagi rakyat dan tetap menghormati prinsip kedaulatan serta kepentingan nasional.

Pesan Presiden Prabowo bahwa Rusia selalu menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya menunjukkan bahwa hubungan kedua negara memiliki fondasi historis yang kuat.

Namun sejarah saja tidak cukup.

Hubungan bilateral harus terus diterjemahkan menjadi kerja sama konkret. Harus ada investasi, transfer teknologi, pendidikan, perdagangan, penguatan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

Baca juga : BI Rancang Mesin EDC Untuk Transaksi KKI

Pada akhirnya, pertemuan Prabowo dan Putin memberikan satu pelajaran penting mengenai diplomasi Indonesia: semakin kompleks dunia, semakin besar kebutuhan Indonesia untuk memiliki banyak sahabat dan banyak pilihan kerja sama.

Politik luar negeri bebas dan aktif bukan politik untuk berdiri di tengah tanpa arah. Politik bebas dan aktif adalah kemampuan untuk berdiri tegak dengan kepentingan nasional sebagai kompas, sambil membangun jembatan kerja sama dengan sebanyak mungkin negara.

Indonesia terlalu besar untuk hanya menjadi penonton dalam perubahan dunia.

Dan hubungan Indonesia–Rusia, jika dikelola dengan cerdas, seimbang, dan berorientasi pada kepentingan rakyat, dapat menjadi salah satu jembatan penting bagi Indonesia menuju posisi yang semakin kuat dalam percaturan global.

Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin

Visiting Profesor Hubungan Internasional Tomsk State University (TSU) Siberia Rusia
Ketua DPP. Partai Golkar
Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri & Hubungan Internasional

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense