Dark/Light Mode

Kunjungi Korban Gempa NTT, Gibran Boyong Mahasiswa UI

Jumat, 21 Agustus 2026 08:49 WIB
Wapres Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Setwapres)
Wapres Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Setwapres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengunjungi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain membawa bantuan, Gibran memboyong enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) untuk memberikan pendampingan psikologis atau trauma healing kepada masyarakat terdampak.

Gibran dan rombongan berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Sekitar pukul 13.00 WITA, Gibran tiba di Maumere, Kabupaten Sikka. Gibran disambut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto.

Dari bandara, Gibran langsung menyambangi warga yang mengungsi di SD Inpres LXXVI Wairklau. Sekolah tersebut sementara dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian. Tenda-tenda berdiri di halaman sekolah, menjadi tempat warga bertahan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).

Gibran tak sekadar melihat pengungsi. Ia menghampiri dan berdialog langsung, sekaligus memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.

Perhatian Wapres kemudian tertuju kepada kondisi anak-anak. Gibran juga memberikan mainan dan buku bacaan kepada anak-anak untuk menghibur mereka. Sejumlah perlengkapan bayi turut diserahkan kepada warga di lokasi pengungsian.

“Bu, ini peralatan bayi, ya,” ucap Gibran, sambil menyodorkan bantuan. “Makasih, Pak,” jawab ibu tersebut.

Baca juga : Kepuasan Rakyat AS ke Trump Nyungsep

Menurut Gibran, anak-anak yang jadi korban bukan hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung. Rasa aman dan pemulihan kondisi psikologis juga menjadi kebutuhan penting setelah mereka mengalami bencana yang merusak rumah dan lingkungan tempat tinggal.

Karena itu, ia sengaja mengajak enam mahasiswa Psikologi UI dalam kunjungan tersebut. Mereka akan membantu memberikan pendampingan psikologis kepada warga, khususnya anak-anak yang terdampak gempa.

Gibran menegaskan, penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada kerusakan fisik. Pemulihan kondisi psikologis masyarakat juga harus menjadi perhatian agar warga bisa kembali menjalani kehidupan secara bertahap.

“Keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab negara,” tegas putra sulung Presiden ke-7 RI Jokowi tersebut.

Usai menemui para pengungsi, Gibran bersama Pratikno dan Suharyanto melanjutkan peninjauan ke sejumlah fasilitas yang rusak akibat gempa. Salah satunya Pelabuhan Laurentius Say di Kabupaten Sikka. Infrastruktur tersebut menjadi perhatian karena memiliki peran penting bagi aktivitas dan konektivitas masyarakat Sikka. Rombongan kemudian meninjau Gereja Santa Maria Magdalena Nangahure yang juga terdampak gempa.

Berdasarkan data BNPB, hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB, gempa NTT telah menyebabkan 75 orang meninggal dunia dan 900 orang luka-luka. Sebanyak 82.691 orang mengungsi, sementara 18.019 kepala keluarga terdampak.

Baca juga : Perdana, Destry Pimpin Rapat Dewan Gubernur BI

Gempa itu juga mengakibat 29.001 rumah rusak. Rinciannya, 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rusak sedang, dan 10.760 rusak ringan.

Sejumlah infrastruktur dan fasilitas umum juga rusak. BNPB mencatat, 804 fasilitas pendidikan, 237 fasilitas kesehatan, 1 gudang logistik, 116 fasilitas umum, 1 pasar, 195 rumah ibadah, 257 kantor, 9 fasilitas irigasi, 45 titik jalan, dan 16 jembatan mengalami kerusakan atau terdampak.

Pemerintah terus mempercepat penyaluran bantuan ke wilayah terdampak. Kementerian Sosial (Kemensos), misalnya, menyiapkan santunan bagi korban meninggal dan luka-luka. Sebanyak 71 ahli waris korban meninggal masing-masing akan menerima santunan Rp 15 juta. Sementara 199 korban luka mendapat santunan masing-masing Rp 5 juta.

“Kami ingin memastikan negara hadir dan pelayanan terus berjalan,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dikutip Kamis (20/8/2026).

Total bantuan yang disiapkan Kemensos mencapai Rp 17,27 miliar. Bantuan tersebut terdiri dari 48 ton beras reguler, 7.500 paket sembako, perlengkapan pengungsian dan dapur umum, bufferstock logistik, serta santunan bagi korban meninggal dan luka-luka.

Pengiriman bantuan dilakukan melalui jalur darat, laut, dan udara. Hingga hari kelima pascabencana, sebanyak 253 ton logistik telah dikirim ke NTT.

Baca juga : Kiriman Pemerintah Untuk Korban NTT, Ada Bantuan 253 Ton & Pendirian RS Darurat

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, tambahan 65 ton bantuan diberangkatkan menggunakan lima pesawat dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Rabu (19/8/2026). Bantuan tersebut antara lain berupa makanan, minuman, tenda, perlengkapan kesehatan, serta berbagai kebutuhan dasar warga.

Pemerintah juga menyiapkan dua posko utama di Labuan Bajo dan Maumere. Dari dua titik tersebut, bantuan didistribusikan ke wilayah terdampak melalui jalur udara, laut, dan darat.

Helikopter, pesawat Cassa, hingga pesawat berukuran lebih kecil dikerahkan untuk menjangkau daerah yang sulit diakses. Tiga KRI TNI Angkatan Laut juga berada di kawasan terdampak untuk membantu proses penanganan bencana.

Pemerintah juga memastikan penanganan tidak berhenti pada evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar. Pemulihan infrastruktur, distribusi bantuan, hingga pemulihan trauma warga menjadi bagian dari pekerjaan besar untuk mengembalikan kehidupan masyarakat NTT seperti sediakala.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.