Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Semua kitab suci memiliki pengungkapan tentang kisah masa lampau. Hanya saja, filosofi kisah masa lampau tersebut sering kali tidak diartikulasikan ke dalam konteks masyarakat kontemporer.
Akibatnya, kisah-kisah tersebut seolah tidak banyak dimanfaatkan (useless) dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Al-Qur’an telah menegaskan makna pengungkapan kisah masa lampau itu: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Hasyr/59: 18).
Walaupun bukan buku sejarah, kitab suci Al-Qur’an mengungkapkan berbagai peristiwa masa lampau yang dapat dilacak kebenarannya secara historis. Kisah-kisah masa lampau yang diungkapkan Al-Qur’an, seperti asal-usul kejadian alam, asal-usul kejadian manusia, evolusi alam, serta kisah para Nabi dan Rasul, semuanya dapat dikonfirmasi melalui bukti-bukti sejarah yang diperoleh dengan berbagai metodologi keilmuan, seperti metode antropologi, filologi, historisme, dan lain-lain.
Pengungkapan kisah dalam kitab-kitab suci memiliki alur cerita yang relatif sama. Kebenaran (al-haq) dan kebatilan (al-bathil), dengan aktor dan figur masing-masing, selalu berhadap-hadapan satu sama lain. Namun, pada akhirnya, kebatilan selalu dikalahkan oleh kebenaran. Hal ini menegaskan kepada kita agar tidak ragu mengikuti petunjuk kitab suci karena pada akhirnya petunjuk tersebut membawa keberuntungan.
Baca juga : Menjadi Selebriti Langit
Sehebat apa pun Raja Namrud berusaha membakar Nabi Ibrahim, faktanya api kebatilan Raja Namrud tidak akan pernah mampu membakar habis semangat kebenaran yang digelorakan Nabi Ibrahim. Sehebat apa pun Raja Fir’aun, ia tidak pernah berhasil menenggelamkan kekuatan dan semangat juang Nabi Musa.
Sebaliknya, kebatilan yang dibawa Raja Fir’aun justru berhasil ditenggelamkan ke dasar laut kehinaan. Setangguh apa pun pasukan Abrahah, mereka tidak dapat menghancurkan Ka’bah sebagai kiblat ibadah dan peradaban umat Muslim. Sebaliknya, pasukan Abrahah hancur luluh sebelum berhasil mendekati lokus kebenaran, Kota Makkah.
Kehadiran figur Nabi yang selalu berhadap-hadapan dengan figur jahat merupakan miniatur perjalanan sejarah umat manusia. Di mana pun dan kapan pun, selalu ada pertarungan antara kedua tokoh simbolik tersebut bersama para pendukungnya.
Umat dan bangsa yang besar ialah mereka yang selalu mengambil pelajaran berharga dari sejarah masa lampau. Perkembangan sejarah, menurut Ibnu Khaldun, selalu bergerak dalam sebuah siklus yang terdiri atas empat generasi. Pertama, generasi perintis, yaitu generasi yang mendirikan sebuah komunitas masyarakat, bangsa, dan negara.
Baca juga : Memperkaya Opsi dan Wawasan
Kedua, generasi pembangun, yaitu generasi yang membangun dan membesarkan komunitas, bangsa, dan negara tersebut. Ketiga, generasi penikmat, yaitu generasi yang betul-betul menikmati keberadaan sebuah bangsa atau negara yang pernah dirintis dan dibangun oleh para pendahulunya. Keempat, generasi penghancur.
Generasi ini mabuk dengan keberadaan berbagai sarana dan fasilitas yang ada sehingga mereka tidak sekadar menikmati, tetapi juga berpesta pora menghancurkan segala sesuatu yang telah dirintis oleh para pendahulunya.
Setelah semuanya hancur, muncullah kembali generasi perintis yang merintis ulang kehadiran sebuah komunitas, bangsa, atau negara baru. Generasi tersebut pada akhirnya juga akan mengalami proses yang sama seperti sebelumnya, dan seterusnya.
Kisah-kisah dalam kitab suci mengajak sekaligus menantang umat manusia agar siklus tersebut dapat berlangsung selama mungkin. Semakin lama sebuah siklus bertahan, semakin jaya dan besar pula peradaban umat manusia.
Baca juga : Topeng Malaikat & Topeng Iblis
Di sinilah sesungguhnya fungsi dan peran Nabi serta kitab suci: berusaha melanggengkan eksistensi kemanusiaan yang berperadaban tinggi, yang berdiri tegak dan kokoh di atas sendi-sendi kemanusiaan.
Semakin kuat kita berpegang teguh pada ajaran yang dibawa para Nabi sebagaimana tertera dalam kitab suci, semakin langgeng pula kejayaan umat manusia.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 27 September 2026 dengan judul "Memaknai Kisah Masa Lampau"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.