Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika suatu masyarakat mencapai perkembangan kualitas yang semakin tinggi, dinamika di dalam masyarakat itu pun semakin kuat dan kadang-kadang tampak panas. Namun, masyarakat yang tetap menjunjung tinggi etika dan peradaban akan senantiasa mengontrol dan mengukur kadar hak serta kebebasan yang diberikan negara kepadanya. Salah satu ciri dinamika tersebut ialah semakin tumbuhnya berbagai polemik di dalam masyarakat.
Hanya saja, polemik dapat dibagi menjadi dua. Pertama, polemik konstruktif, yaitu memperdebatkan atau mewacanakan sesuatu untuk benar-benar mewujudkan kejayaan bangsa dan tanah air.
Kedua, polemik destruktif, yaitu polemik yang hanya mengacu pada kepentingan sesaat suatu kelompok atau rezim tertentu, tanpa mempertimbangkan suasana kebersamaan, persatuan, dan keutuhan bangsa.
Yang agak memprihatinkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita dalam dekade terakhir ini ialah meningkatnya polemik yang cenderung destruktif.
Baca juga : Mengelola Bahasa Agama
Suatu kelompok tidak mau melihat sisi-sisi positif dari lawan polemiknya. Sebaliknya, kelemahan mendasar pada dirinya sendiri diabaikan demi mencapai tujuan tertentu. Polemik destruktif sepertinya sudah menjadi pemandangan sehari-hari dalam masyarakat kita.
Polemik destruktif, dalam pandangan agama, merupakan sesuatu yang harus dihindari, terutama polemik yang dapat melemahkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan umat serta warga bangsa.
Polemik tentu saja berbeda dengan diskusi, dialog, dan musyawarah yang dianggap positif dalam Islam. Yang dimaksudkan di sini ialah polemik destruktif yang saling menjatuhkan satu sama lain dan pada akhirnya berakibat “kalah jadi abu, menang jadi arang”. Perbuatan semacam ini dianggap tercela.
Di dalam Al-Qur’an ditegaskan: “Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata, seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS al-Anfal/8:6).
Baca juga : Jika Negara Abai terhadap Kemaksiatan
Dalam ayat lain dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Gafir/40:56).
Dalam hadis Nabi juga ditegaskan: “Tidaklah sesat suatu kaum setelah diberi petunjuk oleh Allah kecuali karena mereka gemar berdebat.”
Maksud ayat dan hadis di atas jelas, bahwa kita sebaiknya menghindari polemik yang tidak produktif. Contoh polemik yang tidak produktif ialah kebiasaan seseorang untuk selalu mengkritisi, memojokkan, melemahkan, dan menyalahkan setiap gagasan yang muncul dari orang lain.
Sungguhpun gagasan tersebut nyata-nyata sudah benar, tetapi karena kebenaran itu bukan muncul dari dirinya, ia berusaha mencari-cari cela untuk melemahkannya. Seolah-olah kebenaran tidak boleh muncul dari orang lain.
Baca juga : Makna Hidup Beragama
Mengkritisi tentu saja sah-sah saja. Namun, apabila hal itu sudah menjadi semacam kebiasaan atau bahkan karakter—setiap gagasan kreatif yang muncul dari orang lain pasti dianggap salah atau mengandung banyak kelemahan—maka sikap seperti inilah yang tidak terpuji.
Dalam kehidupan berpartai dan kajian-kajian keilmuan, sering kali dijumpai orang-orang yang tidak mampu mengendalikan diri. Mereka selalu menampilkan syahwat berpolemik sehingga orang lain selalu dianggap salah. Dalam hal ini, menarik untuk disimak hadis Nabi: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pengadu domba, perusak hubungan antara sesama, dan orang yang mencari-cari cacat orang lain yang tidak bersalah.” (HR Ahmad).
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 dan 6, edisi Minggu, 20 September 2026 dengan judul "Menghindari Polemik Destruktif"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.